
Sudah seminggu lebih Rei tidak menghubungi Ardan, sebaliknya Ardan pun seakan larut dengan pekerjaannya. Dia juga tak mau menelpon Rei, jujur saja dia rindu pada wanitanya.
Tapi sejak pertemuan terakhir itu keduanya seakan melakukan perang dingin. Bahkan tak ada lagi suara berisik hape yang biasanya tiap saat selalu rame, entah itu chat di whatsapp atau video call.
Keduanya seolah memberi jarak pada masing-masing, ego keduanya masih mendominasi. Meski kadang Ardan masih sering melihat postingan Rei di akun sosial medianya, bahkan sering tersenyum mengingat kelakuan absurb Rei yang jarang ditemui saat dengan orang lain.
Ardan merasakan kosong dihatinya, meski dia terlihat baik-baik saja diluar tapi tidak dalam hatinya. Rasa cemburunya membuat dia mengabaikan rasa rindunya. Kedua orang tua dan adiknya pun tahu jika mereka sedang ada masalah. Jangan tanya dari mana, pasti adik iparnya yang sudah bercerita.
Tapi kedua orang tua Ardan tak berani ikut campur masalah anak-anaknya, mereka sudah dewasa dan sudah tahu bagaimana baiknya. Begitu pula dengan Dina dan suaminya, meski kadang Ardan sering mencari tahu keadaan Rei padanya dan itu membuatnya kesal. Kenapa juga harus perang dingin seperti ini.
Mengikuti saran dari suaminya, dia hanya bisa diam dan gregetan karena kedua kakaknya itu masih belum ada inisiatif menyudahi konflik.
*****
Jam makan siang sudah selesai, tapi Rei tak juga kembali ke ruangannya. Sejak tadi mendapat telepon dan masuk ke ruangan pimpinan, belum ada tanda-tanda dia keluar. Sebenarnya ada apakah gerangan disana, tak ada yang berani mendekat.
Di dalam ruangan itu, Rei tampak sudah tak bisa lebih lama menahan emosinya. Pasalnya dia selalu saja mendapatkan hadiah yang bahkan hampir semua karyawan disana tahu tentang perhatian berlebihan dari pimpinan baru mereka pada Rei.
Bahkan beberapa karyawan perempuan disana terang-terangan tidak suka dan menampilkan wajah jutek ketika bertemu dengannya. Mereka berpikir Rei adalah wanita yang serakah karena sudah memiliki pacar tapi masih juga merayu orang nomer satu di kantornya.
Padahal mereka tidak tahu cerita yang sebenarnya, hanya melalui info tak jelas dan belum dicek kebenarannya. Dan ketika Rei menerima telepon itu, dia merasa ini saat yang tepat membungkam mulut pimpinannya yang notabene adalah pimpinannya.
Elang tersenyum smirk saat Rei menerima telponnya, tak ada alasan bagi bawahan untuk menolak atasan bukan. Dan itu jadi kesempatan Elang untuk mendekati Rei lagi. Tak peduli berapa banyak hadiah yang dia berikan, karena baginya melihat Rei seperti saat ini adalah suatu keberuntungan.
Ya keberuntungan yang selalu dia nantikan sejak perpisahannya dulu. Meski dalam hatinya dia tahu Rei takkan mudah memaafkannya. Kesalahan nya pada Rei sangat fatal dan itu meninggalkan luka mendalam. Dia ingin memperbaikinya.
#flashback
__ADS_1
Hari ini hari pertunangan Rei dan Elang, seluruh keluarga Rei menyambutnya dengan suka cita. Semua persiapan sudah mencapai 90% tinggal menunggu keluarga besan. Tapi sampai waktu yang ditentukan Elang dan keluarganya tak kunjung datang.
Semua tamu undangan yang terdiri dari keluarga besar kedua orang tua Rei tampak gelisah, mereka seperti tahu akan ada kejadian buruk. Sejak tadi Rei tampak gelisah, entah apa yang sedang dia pikirkan yang pasti dia benar-benar tak bisa menutupi rasa kecewa dan marahnya.
Sampai kemudian datang saudara jauh Rei yang membawa masuk sebuah undangan yang diberikan oleh orang tak dikenal padanya didepan pagar. Lalu dia memberikan surat itu pada Rei, meski dia tahu dia takkan sanggup melihat kejadian berikutnya.
Bagai disambar petir Rei langsung pingsan setelah membaca undangan tersebut. Disaat yang sama Elang calon tunangannya justru sedang melanjutkan akad nikah dengan seorang yang Rei kenal.
Papa dan Mama Rei serta kedua kakaknya langsung mendekati Rei dan memindahkan Rei ke kamar. Kemarahan tampak diwajah papa Rei. Orang tua mana yang terima anak perempuannya ditinggalkan dalam keadaan seperti ini.
Malu sudah pasti, tercoreng sudah nama baiknya oleh perbuatan calon menantu mereka. Tangis Rei pecah setelah dia sadar, semua keluarga merasakan bagaimana terpukul nya Rei apalagi saat itu juga hadir beberapa sahabat dan tetangga dekat.
Singkat cerita berita ini sudah menyebar di tempat tinggal Rei, bahkan teman dekat Rei juga sudah mendengar. Rei terpuruk, malu, kecewa dan marah bercampur jadi satu. Sejak itu dia menutup hatinya pada laki-laki terutama yang bernama Elang.
Cukup lama Rei sendiri, sampai akhirnya mantan suami pertamanya tiba-tiba datang melamar dan langsung mengajak Rei menikah. Alasan yang masuk akal dan diterima Rei adalah dia tak ingin pacaran dan karena pekerjaannya menuntutnya harus siap setiap saat jika tugas negara memanggil juga bagaimana perhatiannya membuat Rei kembali merasakan cinta.
Berita itu juga sampai ditelinga Elang, dia tahu bagaimana terpuruknya Rei saat itu karena perbuatannya. Tapi elang tidak tahu kalau dia tak hanya meninggalkan luka tapi juga menorehkan malu bagi keluarga Rei.
Sekarang dia telah berpisah dari istrinya, pernikahan yang terjadi karena kesalahan satu malam itu menghasilkan seorang anak yang kini diasuh oleh ibunya. Elang juga mengalami keretakan rumah tangganya, baik Elang maupun Sinta tidak saling mencintai. Mereka menikah karena Sinta lebih dulu hamil.
Kalau tanya siapa yang salah, takkan pernah ada selesainya. Mereka akan terus cekcok, hanya dihadapan anak semata wayangnya mereka tampak bahagia. Tapi seiring berjalannya waktu, kata cinta tak kunjung ada malah pertengkaran demi pertengkaran selalu mewarnai kehidupan rumah tangganya.
Akhirnya setelah dua tahun usia pernikahan, mereka sepakat berpisah baik-baik. Perceraian menjadi pilihan terbaik. Untuk hak asuh anak tetap pada ibunya karena masih balita. Tapi mereka membagi waktu merawat buah hatinya bersama. Bahkan tak jarang mereka berkumpul bersama saat weekend karena tak ingin anak semata wayangnya kehilangan kasih sayang.
#flashback off
Rei memasuki ruangan pimpinan dengan gugup, bukan takut tapi dia semakin lama dia menghindar maka semakin lama dia terjebak dalam situasi ini. Rei tak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Meski tak bisa dipungkiri pesona Elang semakin terlihat.
__ADS_1
Tapi dimata Rei, Elang tetaplah orang yang menorehkan luka. Sekecil apapun peluang Elang meraih lagi hatinya, Rei tetap tak bergeming. Sudah tidak ada lagi namanya disudut relung hatinya.
Pintu diketuk, tangan Rei terlihat gemetar. Tahan Rei, sabar sebentar lagi masalah ini selesai. Kata-kata itu yang terus dia ucapkan, menyemangati diri sendiri.
Setelah dipersilahkan masuk, Rei lalu duduk di sofa yang ada diruangan itu. Elang berdiri dan mendekati Rei. Mereka duduk berhadapan, sama-sama canggung.
Terdiam cukup lama, dan akhirnya Rei memberanikan dirinya menatap Elang dan membicarakan maksud hatinya. Keduanya terlihat berdebat, baik Rei maupun Elang sama-sama meluapkan isi hati. Jika Elang terlalu senang dan berharap Rei kembali ke pelukannya, sebaliknya Rei memilih meninggalkan tempat ini.
Semua kata maaf Elang tak mampu membuat suasana hati Rei membaik. Dia tetap pada keteguhan hatinya. Meskipun Elang sudah menceritakan semuanya, tapi Rei sudah tak ingin lagi membuka luka lamanya. Dia tak mau menoleh ke belakang.
"Maafkan aku" kata itu terucap lagi untuk kesekian kalinya hari ini dari mulut Elang. Dia mencoba meraih Rei, mendekat dan memeluk Rei. Rei merasakan lagi kehangatan pelukannya, tapi tidak dengan hatinya. Dinding kokoh itu masih tidak bisa tergoyahkan. Airmatanya jatuh dan dia membiarkan Elang memeluknya lagi, untuk terakhir kalinya.
Tangisan itu pun mereda, beruntung ruangan itu kedap suara jadi tak ada yang bisa mendengar apa yang terjadi disana. Rei melepaskan dirinya dari pelukan Elang. Meyakinkan hatinya bahwa keputusan nya sudah bulat.
"Aku tak tahu apakah aku harus memaafkanmu, aku tak tahu apa aku bisa memaafkanmu, tapi yang pasti aku bukanlah Rei yang dulu." Rei buka suara, menatap mata Elang yang tampak putus asa.
"Akan aku kembalikan semua pemberianmu, aku tak pantas menerimanya. Karena hatiku sudah tertutup untukmu."
"Meskipun sakit tapi aku akan coba berdamai dengan hatiku, tolong jangan lagi mengusikku. Aku minta jangan lagi menghubungiku. Jangan ganggu aku lagi."
Rei menarik nafas panjang dan menghembuskannya, ini yang terakhir. Meninggalkan Elang yang masih terpaku. Gagal sudah dia mendapatkan Rei disisinya. Elang tampak kacau mengingat kesalahannya. Tapi nasi sudah jadi bubur.
Dia tak ingin Rei makin membencinya, jadi dia memilih untuk melepaskan Rei. Jika memang Rei adalah jodohnya, Rei pasti akan kembali ke sisinya.
****
Hai...lama tak menyapa, maaf karena kesehatan yang sempat menurun, serta kesibukan di sekolah saat akhir semester juga karena hape yang sempat error jadi harus rehat dulu nulisnya.
__ADS_1