Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
92. Home sweet home


__ADS_3

Rei dan Ratna saling berpelukan, mereka seperti sahabat lama yang akan berpisah. Ardan dan Bayu juga sama, baru kemarin bertemu dan sekarang harus berpisah.


Jangan tanya dengan kedua anak kembar itu, mereka sejak tadi tidak mau lepas dari tante Rei. Terutama si cantik Reyna, sejak berpamitan dirumah dia mengikuti kemanapun Rei pergi.


Rei yang tidak tega melihat kesedihan dimata bocah itu akhirnya menggendongnya. Tapi tidak lama karena Bayu dan Ratna melarang Rei.


Mereka takut jika Rei akan kecapekan apalagi tadi sebelum berangkat ke stasiun Rei kembali memuntahkan makanannya.


Badan Reyna sedikit gembul dibandingkan kakaknya, oleh karena itu Ratna melarang Rei menggendongnya.


Rei tertawa, karena dibandingkan dengan kedua keponakannya badan Reyna lebih ringan. Rei hanya menghargai mereka, dan juga membiasakan agar si kecil tidak terlalu menuruti kemauannya.


Terdengar panggilan bagi calon penumpang untuk bersiap, kereta sebentar lagi akan berangkat.


Rei dan Ardan bersalaman kembali dengan Bayu dan Ratna, mereka mengucapkan banyak terima kasih karena sudah disambut dengan baik selama dua hari ini.


Ardan dan Rei lalu masuk ke dalam kereta dan mencari tempat duduk. Tak lama kereta pun berangkat, mereka melambaikan tangan.


Sedih rasanya, kedua mata Rei tampak basah. Ardan tahu istrinya memang sensitif sekali, bahkan sekarang lebih sensitif dari sebelumnya.


Kereta pun melaju meninggalkan stasiun dan semua kenangan indah selama mereka dikota ini.


Jika saat berangkat kemarin Rei tampak antusias, bahkan tidak mau memejamkan matanya sekalipun.


Sekarang Rei memilih untuk tidur, dia beringsut mendekati suaminya dan meminta suaminya untuk memeluknya.


Ardan tersenyum, kebiasaan baru istrinya ini jarang ditampilkan kecuali jika moodnya lagi kurang bagus seperti saat ini.


Tak butuh waktu lama, Rei pun tertidur. Ardan mengusap rambut dan sesekali menciumi pucak kepala istrinya.


Ardan menyentuh lembut perut istrinya dan berdoa semoga sudah ada kehidupan baru disana.


Perjalanan kereta api yang kedua bagi Rei, tapi kali ini dia sudah tidak tertarik untuk menikmati perjalanannya.


Padahal Ardan sudah berkali-kali memberitahunya bahwa matahari akan terbenam dan pemandangan diluar kereta sungguh indah.


Merasa tidak digubris bahkan istrinya pun sudah mendengkur, Ardan hanya tertawa. Tak biasanya dengkurannya terdengar, mungkin bawaan si jabang bayi, ya Ardan membayangkan jika Rei sudah mengandung buah hati mereka.


###


Ardan ikut tertidur bersama istrinya, badannya serasa remuk karena istrinya tidak melepas pelukannya.


Kereta sudah mulai memasuki kota kelahirannya, stasiun kota sudah didepan mata. Ardan menelpon asistennya agar menjemput mereka.


Setelah membangunkan istrinya, Ardan bangun merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Kereta masuk stasiun dan penumpang dipersilahkan untuk mempersiapkan bawaannya agar tidak tertinggal.

__ADS_1


Rei dan Ardan serta penumpang lainnya sudah keluar dari kereta, mereka menunggu di bangku diruang tunggu.


Asisten Ardan berjalan mendekat, menyapa bosnya. Mereka lalu meninggalkan stasiun.


Ardan dan Rei sudah merindukan rumah mereka, perjalanan dua jam yang melelahkan.


Mereka pun sampai didepan rumah pribadi mereka. Asisten Ardan, Yuda membantu mengeluarkan koper dan bawaan bosnya, dia juga membantu membawakannya sampai ke dalam rumah.


"Finally...home sweet home" ucap Rei. Memperhatikan isi rumahnya yang sudah dua hari mereka tinggalkan.


Ardan memberikan satu bungkus oleh-oleh yang dia bawa kepada Yuda.


"Ini, buat istri dan anakmu." Ardan


"Tapi pak..." Yuda


"Sudah bawa aja, apalagi istrimu lagi hamil. makasih ya" Ardan


"Terima kasih pak, kalau begitu saya permisi dulu." Yuda


Yuda pun meninggalkan rumah Ardan dan segera melajukan kendaraannya.


Setelah meletakkan barang-barangnya pasangan suami istri itu pun membersihkan diri masing-masing.


Mereka juga sudah bersiap untuk beristirahat meski jam masih menunjukkan pukul sembilan malam.


Tak lama mereka sudah terlelap, melanjutkan tidur mereka yang terputus di kereta tadi. Ketika rasa capek menyerang, lapar pun seolah tidak dirasa.


###


Rei terlihat gelisah, tidurnya tidak nyenyak, hanya berguling kesana kemari hingga membangunkan suaminya.


Rei bangun tapi tetap tak bisa tidur, akhirnya dia bangun. Berjalan keluar menuju dapur, mengambil air minum dan menuangkan ke dalam gelas.


Seketika hausnya hilang, tapi perutnya masih merasa lapar. Rei mengambil makanan yang tadi dibawakan oleh Ratna dan Arini.


Mengambil satu bungkus, membukanya dan mengambil satu buah camilan memakannya. Tak terasa sudah hampir lima buah yang dimakannya.


Rei masih merasakan lapar, akhirnya Rei membuka rak mencari mie instan. Semua rak sudah dibuka tapi tak menemukan satu pun.


Rei berdecak, dia terpaksa membangunkan suaminya. Rei kembali ke kamar dan mendekati suaminya.


"Mas, bangun." Rei mengoyang badan Ardan agar bangun.


Cukup lama Rei membangunkan suaminya, sampai bulir air mata menggenang di sudut matanya.

__ADS_1


Suara tangis Rei makin lama makin kencang, hingga Ardan terbangun. Ardan kaget melihat istrinya menangis tersedu.


"Yang, kenapa nangis." Ardan mencoba menenangkan istrinya.


Dengan sesenggukan Rei akhirnya menceritakan alasannya. Ardan menyugar rambutnya kasar.


Ardan menoleh ke arah jam dinding, masih jam sebelas malam. Astaga, dia melupakan jika tadi mereka belum makan malam.


Akhirnya Ardan bangun, menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya sebentar. Rei juga sudah berganti baju mengenakan celana jeans dan kemeja suaminya yang tampak kedodoran.


Rei tidak mau menggunakan bajunya sendiri, dia mengambil baju Ardan yang sudah dipakai untuk sholat isya tadi sebelum tidur.


Ardan mengambil jaket, dan kunci mobil. Dompetnya masih ada di celana yang tadi dia kenakan, dari pada istrinya marah karena kelamaan menunggu dia pun memakai celana itu lagi.


Mereka keluar menggunakan motor, karena Rei tidak mau naik mobil. Entah kenapa istrinya malam ini sedikit memaksa, apalagi melihat kemejanya yang dipakai istrinya.


Mereka pun pergi dan mencari makan karena bukan hanya Rei yang merasa lapar tapi Ardan juga sama laparnya.


Mereka memutari komplek dan melihat ada beberapa penjual makanan disana, ada nasi goreng, sate ayam, soto dan bakso.


Ardan menanyakan pada istrinya mau makan disana atau tidak, Rei mengangguk. Yang penting malam ini dia makan, dan perutnya berhenti berontak.


Ardan menghentikan motornya di depan kios para penjual kaki lima tersebut. Tukang parkir membantu mengatur letak kendaraan.


Malam semakin larut, tapi kios-kios itu masih saja ramai dengan pembeli yang datang silih berganti.


Ardan dan Rei baru pertama kali ini makan disini, dan juga baru tahu jika ada tempat makan yang dekat dengan rumah mereka.


Tukang parkir yang berjaga malam ini bertanya pada Ardan, dari blok mana karena melihat penampilan keduanya tukang parkir itu yakin jika mereka berdua tinggal di perumahan elit tersebut.


Ardan lalu memperkenalkan dirinya pada tukang parkir, Rei yang sudah lapar akhirnya memilih memesan makanannya lebih dulu.


Sementara itu, Ardan masih berbincang dengan tukang parkir mengenai kios ini. Ternyata sudah hampir setahun lamanya kios sederhana ini dibangun.


Dengan modal patungan dari para penjual yang biasa mangkal disana, hanya karena tidak ingin pelanggan mereka kabur saat hujan turun tiba-tiba akhirnya kios beratapkan seng itu jadi.


Tukang parkir menceritakan semua, dia sebelumnya juga ikut berjualan tapi karena kekurangan modal akhirnya dia berhenti.


Dan ketika kawan-kawannya berencana akan membuka kios sederhana, dia berinisiatif untuk menjadi tukang parkir agar kendaraan yang parkir tidak mengganggu jalan yang menuju perumahan.


###


Selamat menjalankan ibadah sholat tarawih teman-teman, semoga besok bisa lancar puasanya.


Aamiin.

__ADS_1


Nyoba nyicil bab, biar ga keteteran, semangat


__ADS_2