
Berita duka meninggalnya pak Malik papa Renita sampai juga ke telinga pak Hadi dan juga keluarga mantan suaminya.
Setelah jenazah dimandikan, kemudian dibawa pulang ke rumah duka untuk di sholatkan. Banyak sanak saudara dan juga tetangga dekat yang datang melayat.
Mama dan Rei masih diam, mama masih sedih karena ditinggal papa untuk selamanya, sedangkan Rei masih menyisakan tanya.
Papa minta maaf disaat terakhirnya, Rei sudah memaafkan nya jauh sebelum papa minta maaf jika ini tentang pernikahannya dengan mantan suami keduanya.
Bukan salah papa Rei gagal membina rumah tangga dengan Reza, tapi karena mereka memang tidak berjodoh.
Tapi menurut mama, papa ikut andil karena menjodohkan mereka. Karena menurut pandangan papa, Reza adalah pria yang baik.
Papa tidak menyangka jika perbuatannya menjodohkan Rei dengan Reza justru merusak kebahagiaan Rei.
Orang-orang memandang rendah pada Rei karena statusnya sebagai Janda untuk kedua kalinya tanpa tahu permasalahan yang sebenarnya terjadi.
Seandainya mereka tahu bahwa bukan Rei disini yang menjadi biangnya, mereka mungkin akan lebih terbuka menerima Rei.
Tapi memang lingkungan bertetangga itu selalu disertai pro dan kontra. Siapapun yang tidak mereka sukai jika ketahuan terlibat, sekalipun dia tidak melakukan kesalahan pasti akan jadi bahan pergunjingan.
Penilaian orang yang tidak objektif dan hanya mengandalkan katanya entah itu dari sumber yang bisa dipercaya atau tidak, tetap dinilai buruk.
###
Suasana rumah duka begitu hening ketika solat jenazah yang dipimpin oleh pak ustadz di sana. Rei, kak Dani dan mama masih belum percaya papa pergi meninggalkan mereka.
Papa dan mama Ardan, seberta Miko dan Dina juga hadir disana, Ardan bersama para laki-laki disana sudah menyelesaikan sholat jenazah.
Tapi beberapa tamu laki-laki yang baru datang bersama yang lain, beserta papa dan Miko ikut sholat jenazah.
Rei termenung, dia diam melihat jenazah papa yang sudah siap untuk dikuburkan. Tak lama pak Hadi dan istri datang, mereka langsung mendekati Rei.
Papa Hadi tahu, Rei sangat terpukul atas kepergian papanya. Mama Suci memeluk Rei, mengusap punggungnya saat Rei kembali menangis.
__ADS_1
"Rei, dengarkan papa. Semua yang hidup akan mati, tinggal menunggu gilirannya. Semua akan pergi satu persatu maupun bersamaan. Kita harus ikhlas agar roh mereka tenang. Sabar ya nak." ujar papa Hadi.
Ada rasa iba karena melihat menantu tersayang nya terpukul seperti ini, mama Suci juga ikut menangis. Setelah Rei cukup tenang dan ada Ardan disampingnya mama Hadi mendekat kearah mama Rei, mengucapkan bela sungkawa.
Persis sebelum adzan terakhir pelepasan jenazah, keluarga mantan suami Rei datang. Rei tidak peduli, yang ada dipikirannya hanya padanya saja.
Reza datang bersama istri dan anaknya, juga kedua orangtua nya. Reza mencoba mendekati Rei dan mengucapkan duka cita, tapi Rei hanya diam.
Dia tak ingin menanggapinya, merasa diabaikan istri Reza lalu mengajak pergi. Dia merasa tidak dihargai sebagai tamu.
Ingin rasanya kak Dani menghampiri dan merobek mulutnya seandainya bang Heru suaminya serta mamanya tidak mencegah.
Bagi mama sudah cukup berurusan dengan mereka, mama Amel tidak ingin memperpanjang masalah.
Reza dan orang tuanya minta maaf atas kejadian dulu, juga atas sikap istrinya barusan. Ardan yang masih setia menemani istrinya hanya mengangguk dan berterimakasih atas kedatangan mereka.
Dia juga minta maaf karena Rei tidak menanggapinya, karena memang sejak kematian papa, Rei lebih banyak diam.
Para pelayat terus berdatangan, baik dari kolega papa dan Ardan, teman-teman kerja Rei, dan juga teman-teman papanya.
Dirumah hanya bersisa mama Amel, Rei dan kedua mama mertuanya. Ardan melarang Rei untuk ikut mengingat kondisi Rei yang sempat ngedrop beberapa saat lalu.
Ardan tidak ingin terjadi apa-apa dengan istri dan calon buah hatinya. Mama Tami paham, dan meminta Ardan untuk mengikuti proses pemakaman.
Mama Suci menjaga Rei dan mama Tami menemani mama Amel, ibu Rei. Masih ada beberapa pelayat yang datang. Mama Suci dan mama Tami meminta Rei untuk tenang, dan tidak memikirkan papa lagi. Papa sudah tenang sekarang.
Karena yang terpenting sekarang adalah janin dalam perut Rei yang sangat butuh perhatian. Rei sempat diam saat mama Tami mertuanya berbicara, air matanya kembali jatuh, tangannya mengelus perutnya yang sudah mulai terlihat.
Janin didalam perutnya seolah mengerti kondisi mamanya, bayi itu bergerak. Rei takjub, dia kembali mengelus perutnya dan minta maaf karena sempat mengabaikannya.
Kondisi Rei lemah karena dia belum mengisi perutnya sama sekali, mama Suci tahu itu. Mama beranjak ke dapur dan mengambilkan makanan untuk Rei.
Mama Suci menyuapi Rei, meski Rei menolak dengan alasan tidak lapar tapi mama tetap memaksa. Karena kasihan dengan bayinya, mama tidak ingin kejadian yang dulu terulang kembali.
__ADS_1
Mama Suci bergantian dengan mama Tami menjaga Rei, menyuapi menantu mereka berdua.
Ardan, papa Pras dan para saudara yang lain sudah pulang pemakaman. Kak Dani dan bang Heru menyusul kemudian, bersama dengan papa Hadi.
Ardan menoleh kearah Rei sesaat, dia tidak tega melihat istrinya seperti itu. Tapi Ardan sedikit tenang setelah mama mengatakan bahwa istrinya sudah mau makan meski sedikit.
Yang penting ada asupan gizi bagi calon bayi mereka. Rei mencari keberadaan suaminya, dia merasa bersalah karena telah mengabaikan suaminya.
Benar kata mama menangis butuh tenaga, sedih juga butuh tenaga, apalagi sekarang di dalam tubuhnya sedang tumbuh janin tentu saja makanannya akan dibagi dengan si jabang bayi.
Setelah makan pikirannya mulai tenang, dia pun sudah tidak menangis lagi. Rei berjalan menuju ruang makan mencari suaminya yang sejak pulang dari pemakaman belum menemuinya.
"Mas... " panggil Rei, Ardan menoleh setelah mendengar istrinya memanggil.
Ardan berdiri berniat mendekat, tapi Rei lebih dulu berlari kearahnya. Rei langsung memeluknya dan menumpahkan air matanya lagi.
Ardan bingung tapi kemudian dia sadar bahwa istrinya sedang hamil, emosinya sedang labil. Jadi Ardan membiarkan istrinya menumpahkan segala tangisnya.
"Mas, maafin aku ya" ucap Rei lagi, posisinya masih sama memeluk Ardan, suara tangisnya mereda hanya masih sesenggukan.
"Maaf kenapa yang, kamu ga salah kok" Ardan menenangkan istrinya. Dia mengelus punggung istrinya.
"Aku.. aku sudah mengabaikanmu tadi. Maafin aku" Rei kembali menangis.
"Hei cup cup cup, sudah ga usah dipikirkan. Mas mengerti kok, sekarang tenang ya, biar adek bayinya ga ikut sedih."
Ardan mengusap air mata dipipi istrinya, dia juga mengelus perutnya dan bayinya didalam perut meresponnya.
Ardan cukup kaget, ini pertama kalinya dia merasakan gerakan bayinya dari dalam perut. Sungguh menakjubkan, Ardan tak kuasa menahan air mata bahagianya.
Ardan menoleh kearah istrinya, dan Rei mengangguk. Ardan mengulangi lagi mengelus perut Rei lembut.
###
__ADS_1
Hai...aku kembali, ada yang kangen aku? 😁