
Kembali ke pengaturan awal, seperti itulah yang dirasakan oleh para pegawai kantoran dan anak sekolahan jika bertemu dengan hari senin.
Entah mengapa banyak orang tidak menyukai hari senin, tapi tidak dengan Rei. Dia lebih semangat menyambut hari karena hari ini dia akan bertemu dengan teman lamanya.
Ya setelah berpisah beberapa tahun sejak lulus kuliah, Rei dan Anita berpisah. Terakhir kali mereka bertemu pada pernikahan Sammy salah satu sahabatnya. Mereka berdua sama-sama masih sendiri, karena Rei dan Anita belum. Sammy mendahului melepaskan masa lajangnya karena harus mengikuti calon suami nya bekerja dan melanjutkan kuliah di Australia.
Semalam setelah pulang dari rumah Ardan, Rei membuka emailnya dan mendapati pesan dari sahabat lamanya itu. Tentu saja Rei senang karena akhirnya mereka akan bertemu. Anita mengatakan bahwa dia akan cukup lama disini, menikmati liburan selama suaminya berada di kota ini.
"Rei, nanti makan siang ke tempat kang mamat yuk, kangen mie ayamnya." ajak Arini. Melewatinya sambil membawa beberapa berkas. Reipun hanya menjawab dengan mengacungkan jempol kanannya karena masih melayani nasabah.
"Silahkan dicek lagi, dan terimakasih." ucap Rei setelah memberikan buku tabungan pada nasabahnya.
"Terimakasih mbak" balas nasabah dan kemudian berlalu. Rei lalu memanggil no antrean teller berikutnya. Sampai jam makan siangpun tiba. Rei lalu mengambil perlengkapan sholat dan menuju musholla Bank tempatnya bekerja.
Tak lama setelah menunaikan kewajibannya, hape nya berdering. Mengambilnya benda pipih itu dari dalam clutch nya, dan menggeser tombol panggilan.
"Halo" sapa nya
"..."
"oke, lima menit lagi aku sampe diparkiran." Menutup telpon dan memperbaiki riasannya, tak banyak hanya menyisir rambutnya dan menambahkan bedak padat di kulit putihnya.
Sesampai di parkiran, Arini sudah menunggu diatas motornya. Dia memang sengaja membawa motor karena ingin sekalian membawanya ke bengkel untuk ganti oli.
Mengenakan helm masing-masing, mereka lalu melaju membelah lalu lintas yang mulai padat disaat jam makan siang seperti ini. Tak perlu lama, mereka berdua sudah sampai di kedai mie ayam milik kang mamat yang menjadi langganannya. Memesan dua porsi mie ayam dan dua gelas es teh, serta mengambil dua buah kerupuk yang sudah tersedia di atas meja.
__ADS_1
Kedai itu tampak ramai seperti biasa, hanya beberapa bangku kosong karena baru ditinggalkan pembeli dan sudah diisi dengan pembeli lain yang baru datang.
"Ar, aku boleh tanya. Tapi kamu jangan marah ya" ucap Rei setelah menyeruput es teh nya.
"Tanya aja, kayak siapa aja pake ijin segala" jawabnya berkelakar.
"Hubunganmu dengan Rio gimana?" tanya Rei, diperhatikan tingkah sahabatnya itu seperti enggan menjawab. Terbukti Arini hanya menaikkan bahunya tanpa menjawab.
"Kamu jujurlah, aku tahu kamu suka sama dia dan dia juga sepertinya ada rasa sama kamu. Kenapa kalian ga jadian aja?"
Arini menatap Rei lama, kemudian membuang napasnya, cerita sekarang atau nanti tetap sama saja. Dan mungkin lebih baik sahabatnya ini tahu darinya lebih dulu daripada nanti kecewa.
"Aku ga tahu, apa yang aku rasakan ini benar. Karena setahuku Rio hanya menganggapku teman tidak lebih." Arini mulai membuka suara.
"Kamu tahu kan, Rio sudah bertunangan dan mereka LDR an. Aku ga mau kalau aku dibilang perusak hubungan mereka, walaupun sejujurnya aku tahu hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja."
"Ketika kita menghadiri acara beberapa waktu lalu, aku tak sengaja mendengar mereka bertengkar di telepon. Rio tampak marah setelahnya, dan setelah mengantarkan mu pulang dia melajukan mobilnya lebih cepat menuju kos-kosan ku. Jujur saat itu aku takut, aku memilih diam daripada menenangkannya."
"Dan beberapa kali pula aku mendapati dia sedang merokok disaat jam makan siang. Dia tampak gusar, kamu tahu kan Rio jarang sekali merokok kecuali sedang ada masalah." Rei mengiyakan. Dia juga sudah lama sekali tidak melihat Rio ataupun Miko merokok, dan mereka bukanlah perokok aktif seperti kawan sekantor nya yang lain.
"Terus bagaimana denganmu, kenapa tak kau coba tanyakan padanya, siapa tahu dia butuh teman bicara." cecar Rei. Sahabatnya itu hanya menggeleng kepala.
"Aku... aku takut memulainya, kamu tahu kan dia sedikit tertutup apalagi untuk urusan percintaan. Mana mau dia cerita." jawab Arini
"Tapi kamu kan tahu isi hatimu, kamu nyaman kan bersamanya. Lalu kenapa tak kamu coba untuk mengajaknya bicara, meskipun mungkin nanti akan ada rasa kecewa." Rei menanggapi ucapan Arini, sambil terus menatap mata sahabatnya mencari keraguan disana.
__ADS_1
"Entahlah, aku tak berani mengajaknya bicara, aku masih ingin meyakinkan hatiku tentang perasaanku. Aku juga tak berani berharap banyak dia akan membalasnya."
"Sudahlah, biarkan saja. Jika dia butuh teman curhat aku akan siap mendengarkan dan menyampingkan perasaanku. Tapi untuk saat ini aku ingin memberinya waktu untuk sendiri. Menyelesaikan masalahnya, aku tak mau kehadiran ku akan mengganggu konsentrasi nya."
"Kamu tuh aneh ya, orang lain dengan senang hati menjadi teman curhat orang yang disukainya, bahkan rela menawarkan diri. lah kamu malah menjauh. Payah" ucap Rei sarkas.
"Udah yuk, kita balik hari ini aku yang traktir tapi besok giliran mu ya." Arini tersenyum, mengubah moodnya agar tak ada yang tahu selain Rei.
Menunggu Arini membayarkan makanannya, Rei melangkah menuju tempat parkir dimana motor Arini berada. Dari kejauhan tampak seseorang yang dikenalnya tapi karena jarak yang lumayan jauh Rei tidak begitu jelas melihatnya.
Lima menit berlalu, setelah membayarkan uang parkir motor nya Arini dan juga Rei kembali ke kantornya, mereka lalu berpisah kembali ke meja masing-masing.
€€€€
Sementara itu diruangan lain khusus perokok, seseorang sedang menikmati hisapan nikotin yang ada di sela jarinya. Sudah dua batang rokok dia habiskan, tapi tetap tak bisa membuat masalahnya selesai.
Dari bilik pintu kaca, ada sepasang mata yang memperhatikan penampilan nya. Tampak sedikit kacau, tapi dia tak berani mendekat. Jujur saja, ada rasa kecewa karena dia tak bisa berada disana. Disaat sahabat sekaligus orang yang dia sukai dirundung masalah.
"Aku akan mencoba mengajaknya bicara, siapa tahu dengan begitu dia akan merasa lebih baik. Kamu tidak sendiri, aku akan selalu ada disampingmu." Batin seseorang, dia adalah Arini. sejak awal kembali dari istirahat makan siang, Arini memang tak sengaja memperhatikan gerak-gerik Rio sampai masuk area tersebut.
Meninggalkan Rio yang masih bertahan disana, Arini melanjutkan langkahnya menuju meja kerjanya. Menyelesaikan pekerjaan yang tertunda dan menyusun berkas yang sudah diperiksa untuk dibagikan ke divisi lain.
€€€
Terimakasih sudah meluangkan waktu membaca, masih banyak kurangnya semoga kedepannya lebih baik lagi. Jangan lupa like dan krisannya ya.
__ADS_1