Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
36. Mulai hidup baru


__ADS_3

Hari berganti minggu, tak terasa sudah dua bulan Dina dan Miko menempati rumah mereka sendiri. Setelah surat resign nya diterima, Miko membeli sebuah rumah kecil dari hasil tabungan selama bekerja. Meski sebenarnya dia bisa membelikan rumah yang lebih besar dengan bantuan orang tua dan mertuanya, tapi Miko tidak mau.


Dia ingin memulai hidup barunya dengan sang istri dan mulai dari nol, sama seperti yang kedua orang tua nya alami dulu. Tak dipungkiri menikah dan berpisah dengan orang tua itu lebih baik, selain melatih pasangan baru untuk lebih mandiri juga agar lebih mengenal pasangan kita, tentu saja tanpa campur tangan keluarga. Tapi sebenarnya biar lebih leluasa bercengkrama dengan pasangan tanpa harus malu, betul tidak?😁.


Tak lama setelah Miko resign, Rio dan Arini juga mengajukan resign. Karena Rio sudah resmi melamarnya, dan mereka sedang mempersiapkan pernikahannya. Tampak aura bahagia dari keduanya, meski mereka juga merasakan kesedihan yang Rei alami. Rio memilih melanjutkan usaha milik orangtua nya, karena kondisi kesehatan papanya yang semakin menurun.


Sejak ketiga sahabatnya resign, Rei seperti tidak ada semangat bekerja. Tapi seperti janjinya pada diri sendiri bahwa Rei akan berhenti bekerja setelah menikah dan hanya akan fokus pada keluarganya. Mau tidak mau janji itu harus dia tepati. Ardan bukan tidak tahu akan hal itu, karena ketika dia tak sengaja mendengar perbincangan antara Miko dan Rei waktu itu dia mendengar dengan sangat jelas keinginan Rei.


Flashback On


"Bang, kalau nanti Rei tidak betah karena tidak ada abang gimana? Kan abang tahu sendiri Rio dan Arini juga akan mengajukan resign, apalagi mereka akan segera menikah." Rei


"Jangan seperti itu, kamu harus fokus dulu sama pekerjaanmu sekarang. Manfaatkan dengan baik, nanti setelah kamu menikah baru kamu resign jika itu maumu, tapi ingat jangan asal ambil keputusan, bicarakan dulu dengan suamimu." Miko meletakkan cangkir kopi yang baru di minumnya.


"Iya bang, pasti. Karena Rei sudah janji sama diri Rei kalau menikah nanti akan berhenti bekerja dan mengurus suami dan anak-anak Rei nanti." Rei


"Baguslah, sudah sekarang kamu balik gih besok masih kerja kan?" Miko mengacak rambut Rei


"Aih...abang apaan sih, kan jadi berantakan gini rambutku" Ucap Rei kesal. Miko hanya tertawa menanggapi sikap Rei yang manja padanya. Mereka lalu masuk kembali ke ruang tengah. Tapi sebelum itu, Ardan yang berada di balik pintu tersenyum mendengar keinginan Rei.


Flashback Off


Hari ini Arini tampak di ruangan kerja Rei, wajahnya terlihat ceria setelah membagikan undangan kepada beberapa rekan kerjanya dia tampak menunggu kedatangan Rei. Seorang OB datang membawakan nya teh lemon minuman kesukaannya.


"Terimakasih" ucapnya pada OB tersebut yang tampak mengacungkan jempol dan berlalu dari sana.

__ADS_1


Tak lama Rei datang, melihat tempat duduk nya sudah ada yang mengisi dia tampak mengerutkan dahinya. Karena tak biasanya dia menerima tamu sepagi ini di kantor. Tapi melihat minuman di meja nya bibirnya tampak terangkat. Dia tahu siapa gerangan yang duduk disana.


Seperti sudah tahu kedatangannya disana, Rei memeluk sahabatnya itu. Seminggu sudah mereka tak berbagi kabar berita, karena kesibukan masing-masing. Mereka berpelukan seakan lama tak berjumpa, dan rekan kerja mereka sudah paham betul bagaimana keduanya jika berkumpul.


"Calon pengantin apa kabar, sudah siap dipingit bu?" goda Rei pada sahabatnya.


"Kita sudah dipingit ya, seminggu lebih ga ketemu. Rasanya kangen banget, padahal tiap hari bahkan tiap jam kita videocall an." kekeh Arini


"Deh yang mau jadi nyonya Rio, seneng banget sih bu. BTW selamat ya" Rei, lagi-lagi mereka berpelukan.


"Makasih. Jangan lupa datang, malam sebelum akad nikah kita tidur bareng sama Dina juga" Arini.


"Pasti....siapin camilan yang banyak ya. Eh tapi kenapa ga ditaruh di kotamu, apa kondisi papanya Rio belum ada perkembangan?" Rei.


"Apapun itu, sekali lagi selamat. Aku senang akhirnya kamu bisa mendapatkan cintamu yang terpendam" Rei kembali menggodanya.


"Iisshh... jangan buka kartu napa, malu tahu" Arini, keduanya tergelak. Raut bahagia terpancar dari calon mempelai wanita itu.


€€€


Hari ini Rei sengaja tidak membawa mobil sendiri, tadi nebeng kakak iparnya yang kebetulan searah dengan tempat kerjanya. Dan Ardan berjanji menjemputnya karena mereka akan membeli kado untuk Rio dan Arini.


Pulang kerja setelah membereskan beberapa file di meja nya, Rei langsung keluar menunggu Ardan menjemputnya. Tapi ternyata Ardan sudah lama disana, tampak dari kejauhan dia terlihat sedang mengobrol dengan security disana.


Rei berjalan mendekat, sepatunya sudah dimasukkan ke dalam paperbag yang dijinjingnya, sudah berganti dengan sandal jepit favoritnya. Melihat Rei mendekatinya, Ardan berpamitan pada security disana dan menunggu membukakan pintu untuk Rei.

__ADS_1


"Hai, sudah lama kah?" Rei


"Hmm lumayan habisin segelas kopi tadi" Ardan.


Rei tergelak, beberapa hari tak bertemu pujaan hatinya benar-benar membuatnya rindu. Tak dipungkiri, sisi hatinya yang kosong sudah mulai terisi lagi. Satu nama sudah bersemayam disana, meski tak dipungkiri nama almarhum suaminya masih tetap ada di sisi hatinya yang lain.


Melajukan mobilnya keluar dari sana menuju mall yang menjadi tujuan mereka, setelah memarkirkan mobilnya dengan sempurna, Ardan berjalan memutar berniat membukakan pintu mobil. Tapi Rei tidak mau diperlakukan seperti layaknya seorang putri, pintu mobil dia buka sendiri. Raut kecewa tampak terlihat di wajah Ardan tapi dia sangat paham kenapa Rei begitu, tapi bibirnya masih ditarik keatas saat tangan Rei menerima uluran tangannya.


Mereka menuju lantai dua mall tersebut tempat mereka mencari kado. Sebuah toko peralatan rumah tangga menjadi tujuan mereka. Masih belum tahu apa yang mereka inginkan, dan terlihat keduanya selalu bergandengan tangan. Ardan tak pernah melepaskan pegangan tangannya.


Beberapa pasang mata melihat mereka, ada yang tersenyum mengingatkan kemesraan. Sesekali Ardan mencium punggung tangan Rei yang tak pernah dilepasnya. Bikin iri sih, tapi namanya juga lagi jatuh cinta dunia serasa milik berdua. Yang lain numpang ya...wkwkwk.


Setelah melihat beberapa barang akhirnya pilihan mereka jatuh pada sebuah bed cover dan mereka memasukkannya dalam troly belanjanya.


Dari jauh nampak sepasang mata yang tak lepas pandangan kepada sejoli itu. Mata yang menampakkan rasa tidak suka dan rasa kecewa. Entah apa sebabnya yang pasti, dia terus mengikuti keduanya pergi.


Puas memilih beberapa barang keduanya berlalu kemudian masuk ke sebuah restoran masakan jepang, karena jam makan malam sudah sedikit terlewati. Setelah memesan menu, keduanya kembali menunggu. Dan sepasang mata tadi masih setia mengikuti.


€€€


Terimakasih yang mau mampir membaca tulisan ini, sadar diri karena masih banyak kekurangan didalamnya, semoga pembaca bisa menikmatinya.


Ternyata realita dan angan itu tak selalu sama, inginnya bisa up tiap hari tapi kesibukan didunia nyata benar-benar menyita waktu. Sebagai ibu rumah tangga dengan dua anak yang beranjak remaja, dan terkadang mengajar di sekolah butuh waktu untuk menyendiri agar bisa menulis lagi.


Semoga kedepannya bisa lebih konsisten ya, tulisan ini dibuat disela-sela kesibukan menyusun daster dan membalas chat orderan, takut keburu hilang lagi moodnya.

__ADS_1


__ADS_2