
Setelah sholat maghrib berjamaah, keduanya pun berganti pakaian karena sebentar lagi keluarga Miko akan datang.
Menggunakan gaun dibawah lutut berwarna grey dengan aksen renda. Gaun simpel yang tidak terlalu mengekspose bentuk tubuh nya. Dilengkapi dengan riasan wajah sederhana, Rei tampak sempurna. Tak perlu waktu lama, membantu Ardan memilihkan kemeja yang senada dengan gaunnya.
Mereka berdua benar-benar serasi, yang satu tampan dan satunya cantik. Ardan tidak melepaskan pandangan nya dari Rei, terpesona dengan kecantikan alami yang dimiliki Rei. Meskipun status Rei sering menjadi boomerang bagi dirinya, tapi Ardan tidak mau membohongi hatinya, dia mencintai Rei.
"Mas... kenapa lihatin aku begitu." Rei menjadi gugup. Ardan makin mendekat, menggenggam tangannya dan mencium lembut. Mengecup lembut bibirnya, lama-lama mulai menuntut, mendapat respon dari Rei, dan mulai ******* nya, mengabsen deretan giginya.
hmmfft
Rei memukul dada Ardan, keduanya melepas pagutan, keduanya beradu kening. Sama - sama kehabisan napas, Ardan memeluknya erat.
"I love you" ucap Ardan.
"Kamu milikku dan aku milikmu. Aku tak sabar ingin segera menhalalkanmu. Love you, Rei"
"Love you too"
Ketika Ardan ingin melanjutkan lagi, Rei memukul bahunya.
"Mas udah, ayo turun sudah ditunggu sama yang lain."
Ardan tersenyum, makin gemas dengan wajah cemberut Rei. Ardan suka sekali menggodanya.
"Kenapa?"
"Lipstikku habis gara-gara kamu, masak mau dipoles lagi. Malas.." Bibirnya dimajuin bikin Ardan makin gemas.
"Manyun, aku cium loh. Biarin ga usah turun, kita bikin acara sendiri aja."
"Enggak...." Rei menjauh menuju pintu, bisa habis dia kalau kelamaan dikamar.
Ardan tergelak, Rei benar-benar membuat harinya berwarna, dia benar-benar jatuh cinta pada ini.
Mengejar Rei dan merangkul pinggangnya, merekapun menuju ruang keluarga, karena semua orang sudah menunggu mereka.
€€€€
"Ini nih yang ditunggu dari tadi, baru turun gunung" teriak salah seorang sepupu Ardan, semua orang menoleh.
__ADS_1
"Yang punya hajatan dari tadi merengut, eh satunya malah asyik berduaan dikamar." celetuk seorang lagi.
"Ganggu aja, yang penting kan ga lewat batas. Kalau ga bisa dinikahin sekarang sama papa." jawab Ardan sambil cengar-cengir, sedangkan Rei wajahnya sudah memerah karena digodain.
"Huuuuu.... " seloroh yang lain
"Itu maumu... " jawab Papa.
"Udah becandanya, itu tamunya sudah datang."
Mereka lalu berdiri menyambut tamu, dan memasuki ruang tamu yang disulap untuk acara seserahan ini.
Acara berlangsung singkat dan berjalan lancar, persiapan untuk acara akad nikah, gedung resepsi, catering, suvenir pun sudah dibahas. Acara pengajian dan juga siraman sesuai adat keluarga besar papa Ardan yang berasal dari Jawa Tengah. Pihak WO sudah menyiapkan semuanya sesuai permintaan tuan rumah.
Sekarang waktunya makan malam bersama kedua keluarga. Aneka menu masakan nusantara tersaji, benar-benar menggoda selera. Acara pun selesai, tinggal menunggu kabar fitting baju dari butik langganan mama.
Calon pengantin hari ini bertemu terakhir kali sebelum hari H. Mereka akan dipingit jadi sebelum itu dipuasin ketemu berduaan.
Miko dan Dina duduk berdua ditaman belakang rumah. Keluarga Miko sudah pulang lebih dulu. Menikmati suasana malam ditemani bintang-bintang.
"Hon, tak terasa bentar lagi kita berdua akan halal, sudah ga sabar" goda Miko.
"Oiya, yang tadi duduk dekat Mama siapa ya. Kok aku belum pernah lihat ya?"
"Dekat mama, wajahnya mirip mama kan?"
"Iya, tapi lebih gemukan."
"Oh itu tante Neno, kakaknya mama. Kalau yang dibelakangnya mama itu tante Gina, adik mama."
"Memang kenapa bee? kok sepertinya kamu gelisah gitu" Dina memperhatikan raut wajah calon suami nya itu.
"Aku kurang suka aja, dari tadi awal acara tatapan tante Neno pada Rei, seperti ga suka."
"Apa kamu merasa curiga padanya?"
"Entahlah, aku tak mau berburuk sangka. Semoga itu hanya perasaanku saja, kamu tahu kan seperti apa Rei bagiku. Aku menyayanginya seperti adikku sendiri."
"Aku tahu...tenanglah, aku tak akan membiarkan tante Neno menyakiti Rei, ingat dia juga calon kakak iparku."
__ADS_1
Miko menoleh dan merangkul bahu calon pengantinnya, dia senang Dina bisa memahami perasaan Miko pada Rei hanya sebagai kakak dan adik.
Sementara itu diruang keluarga, suasana yang tenang sedikit ricuh karena kelakuan tante Neno yang membuat heboh. Entah apalagi ulahnya, benar-benar mengganggu ketenangan.
"Rei, kamu kan sudah pernah menikah apalagi dua kali menyandang status janda, apa kamu ga risih dengan status itu. Apalagi sekarang kamu dekat dengan keponakan ku yang notabene pengusaha kaya. Ga pantes aja gitu."
"Kak, apa maksud kakak bicara begitu. Tolonglah Kak jangan bikin ribut." ujar mama Ardan.
"Tami, kamu tuh harusnya bisa memilihkan calon istri yang sesuai bibit, bebet dan bobotnya. Jangan asal begini dong."
"Kak, cukup. Apa sih yang bikin kakak begitu sama Rei."
"Ya aku kecewa aja, kamu itu asal aja cari salon mantu. Harusnya itu di cek dan ricek dulu kek. Tapi tak apa, kan masih ada waktu buat memikirkan."
Semua orang diruangan benar-benar geram dengan kelakuan Neno, wanita paruh baya itu seperti sengaja melakukannya.
"Tante, apa maksud tante berkata seperti itu?" tanya Ardan, dia benar-benar geram.
"Ya kan kamu ada waktu buat mutusin dia, mending balikan sama mantan kamu aja siapa tuh yang cantik dan kaya, dan yang penting dia masih single."
"Cukup tante, saya diam bukan berarti saya terima perlakuan tante. Saya masih menganggap tante orang tua yang saya hormati. Tapi jangan salahkan saya jika saya sudah tidak mau menghormati tante lagi, karena kelakuan tante." Ardan naik pitam, dia marah karena semakin hari tantenya itu.
Ardan menarik tangan Rei, mengajaknya pergi ke kamar. Ardan tahu Rei pasti sakit hati karena kata-kata tante Neno. Wajah Rei muram, baru tadi dia merasa dicintai, tapi ternyata penghalang terbesar masih ada.
"Maaf, aku minta maaf atas perkataan tante Meni tadi. Ga ngerti kenapa dia begitu iri dengan mama. Dan sekarang kamu yang jadi korban nya."
Ardan melihat Rei berkaca-kaca, dia pasti sakit hati karena perkataan tante Neno sudah keterlaluan. Bicara tanpa disaring dulu, memancing emosi.
Rei hanya diam, kenapa harus selalu begini. Ingin rasanya Rei teriak, protes sama penciptanya karena status Rei yang selalu menjadi masalah.
"Gapapa kok mas, wajar kok beliau begitu karena ga ingin mencoreng nama keluarga mu" Rei mencoba tersenyum meski hatinya sakit.
Rei melihat amarah di wajah Ardan tapi Rei mencoba meredamnya, memegang wajah Ardan. Mencium pipinya, mengecup bibirnya. Ardan membalas ******* bibir merah dihadapannya.
"Terimakasih, maafkan aku membawamu ke dalam masalah ini." Rei memeluk Ardan. Pelukan hangat itu benar-benar menenangkan.
€€€€€
Sudah mulai muncul masalah dalam hubungan Rei dan Ardan, apakah mereka dapat menyelesaikan masalahnya dengan tante Neno? kita tunggu selanjutnya.
__ADS_1