Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
56. Harus istirahat total


__ADS_3

Sudah hampir sebulan Ardan dan Rei menjadi suami istri, dan Ardan memboyong Rei kerumah mereka yang baru.


Sebenarnya Rei masih ingin dirumah orangtua nya tapi bukankah surga istri ada pada suaminya, dan Rei berjanji ikut kemanapun suaminya pergi.


Jika pengantin baru umumnya berbulan madu ke berbagai tempat romantis, berbeda dengan pasangan baru ini.


Sebenarnya Ardan sudah berkali-kali mengajak Rei untuk bulan madu, mulai dari wisata laut di Raja Ampat, Papua, Bali, bahkan ke Perancis menikmati pemandangan menara Eiffel langsung didepan kamar hotelnya.


Tapi Rei tetap menolak, alasannya bulan madu di rumah baru jauh lebih seru sambil berburu barang antik untuk mengisi rumahnya.


Sebenarnya ada alasan lain yang belum bisa Rei katakan, dia masih ragu. Beberapa kali dirinya memergoki papanya keluar sendiri dengan tergesa-gesa, ketika ditanya hanya menjawab ada sesuatu yang dia urus.


Mamanya juga tidak tahu, karena papa selalu pulang tepat waktu. Tidak ada curiga sedikitpun. Hingga suatu hari mama melihat papa terjatuh dikamar mandi.


Dalam keadaan panik mama menelpon semua anaknya, mereka akhirnya menemui papanya di rumah sakit. Kondisi papanya cukup mengkhawatirkan karena kepalanya mengalami benturan saat jatuh tadi.


Kak Dani sudah tak sanggup menahan air matanya untuk tidak turun, ditemani bang Heru yang datang lebih dulu karena Dani harus menitipkan anak-anak kerumah mama.


Rei dan Ardan datang beberapa jam kemudian, Ardan baru saja tiba dari luar kota. Dan Rei tidak diijinkan untuk membawa mobil sendiri dalam keadaan kalut.


Sebenarnya Rei bisa saja meminta sopir mertuanya untuk mengantarkan kerumah sakit tapi Ardan menyuruh menunggunya.


Dokter yang melakukan visit hari itu mengatakan bahwa papa harus beristirahat total, karena papa tampak kelelahan.


Sebenarnya Dokter menyembunyikan penyakit atas permintaan pasien. Tapi jika dalam dua hari kedepan tidak ada perkembangan kondisinya, maka dia harus mengatakan yang sebenarnya.


Mama yang menemani papa tak beranjak sedikitpun, beliau tidak ingin melewatkan satu hal kecil pun. Setibanya Rei dan Ardan diruang rawat inap papa, mama langsung memeluk Rei dan kembali menangis.


Raut wajah lelah terlihat jelas diwajahnya, Ardan mendekati mama dan memberi air mineral botol yang sudah dibuka. Mama menerima dan langsung minum lewat sedotan yang sudah dimasukkan sebelumnya.


"Ma, mama lebih baik pulang dulu istirahat dirumah, biar Rei yang jagain papa." ucap Rei mengambil botol dari tangan mama setelah selesai minum.


"Mama disini saja, kasihan papa takut dia butuh sesuatu." ucap mama lirih, menoleh kearah papa yang masih belum sadar.


"Papa masih belum sadar, biar kita yang bergantian jagain papa. Mama pulang ya, mandi dan istirahat dirumah. Disini mama ga akan bisa istirahat dengan baik." Kak Dani juga sependapat dengan Rei.

__ADS_1


"Mama ga mau ninggalin papa, kasihan papa" air matanya kembali lolos.


Ardan dan bang Heru juga tak tega melihat kondisi mama yang mulai lemah. Sejak menemani papa dirumah sakit, mama jadi tidak terkontrol makannya, tidurpun hanya sebentar karena tidak nyenyak.


Belum lagi menerima panggilan telpon dari saudara yang menanyakan keadaan papa. Rei terlihat membujuk mama lagi.


"Ma, pulang ya. Biar Rei disini sama mas Ardan, mama istirahat dirumah bareng kak Dani, emang mama ga kangen sama cucu mama."


Rei tahu mamanya sudah merindukan celoteh kedua cucunya, apalagi si kecil sedang aktif-aktifnya berjalan.


Mereka akhirnya berhasil membujuk mama untuk pulang, Kak Dani dan bang Heru senang sekali. Meskipun nanti akan ada drama lagi, mereka akan sabar menemani.


"Rei, Ardan mama pulang ya. Titip papa, kalo ada apa-apa kabari kami." ucap mama sebelum meninggalkan ruangan papa.


Tinggal Ardan dan Rei disana, Ardan yang belum sempat beristirahat setelah perjalanan jauh beberapa kali menguap.


Air matanya juga terlihat disudut matanya setelah menguap. Rei kasihan, dia mendekati suaminya yang mencoba menahan kantuknya.


"Mas, istirahat ya. Jangan dipaksakan, sayangi badan." Rei memijat lengan suaminya, merasa enakan Ardan mengganti posisi. Sekarang Rei memijat bahunya, lalu punggung suaminya.


Untungnya sebelum kemari Rei membawa selimut dan bantal yang biasa ada di mobilnya, karena jika perjalanan jauh Ardan selalu menyediakan di mobilnya.


Rei membantu membetulkan posisi Ardan, kemudian menyelimutinya. Suhu kamar sedikit dinaikkan agar tidak kedinginan.


Wajah lelah Ardan di sofa, dan wajah tua papa nya yang selalu setia menemaninya dulu kala Rei terpuruk.


Meski ada sedikit rasa kecewa karena pernikahan keduanya yang gagal. Tapi Rei menepisnya, anggap saja tidak berjodoh, meski papanya sering merasa bersalah padanya.


Rei masih kuat menjaga kedua lelaki disampingnya ini. Sesekali Rei membuka sosmed di hapenya menghalau rasa bosan.


Satu jam berlalu, mata Rei mulai memperlihatkan tanda-tanda dia mengantuk. Untung saja pintu kamar rawat papa sempat dia kunci, agar tidak ada yang mengganggu istirahat mereka.


###


Adzan subuh sudah berkumandang, Ardan mengedipkan matanya beberapa kali, menguap sambil merenggangkan ototnya.

__ADS_1


Ternyata tidurnya kebablasan, awalnya hanya ingin merebahkan diri sebentar ternyata malah keterusan sampai pagi. Mendapati dirinya tidur di sofa dengan bantal dan selimut, pasti ini perbuatan istrinya.


Rei tidur dalam posisi duduk, dan kakinya selonjoran di meja kecil didepannya. Ardan ke kamar mandi membersihkan dirinya. Setelah berwudhu dan melaksanakan sholat subuh, Ardan membangunkan istrinya.


"Sayang bangun, sholat subuh dulu." Ardan mengelus pipinya, Rei menggeliat. Membuka matanya dan mengucek matanya.


"Mas sudah bangun?" tanya Rei, masih berusaha mengumpulkan sukmanya.


Ardan mengangguk, mencium pucuk kepala Rei dan mengajaknya ke kamar mandi. Rei menurut, membersihkan diri kemudian melaksanakan kewajibannya.


Pukul 07.30 waktu dokter visit memantau pasien. Setelah memeriksa semuanya dokter menyarankan untuk melakukan CT Scan, mengingat kepala adalah organ vital.


Rei pun setuju paling tidak dia tahu apa yang terjadi pada papanya akhir-akhir ini. Setelah menandatangani surat persetujuan, mereka pun melakukan saran dokter.


Kabar mengenai sakitnya pak Fauzi sudah didengar oleh pak Pras dan pak Hadi. Mereka berencana mengunjungi pak Fauzi di rumah sakit.


Rei mengabarkan mengenai papanya pada mama dan juga kakak nya. Meski Rei sempat diomeli karena telat mengabari perihal SC Scan tersebut, tapi dia menerima karena pikirnya lebih cepat lebih baik.


Hasil pemeriksaan baru diperoleh siang hari, Rei akhirnya bisa rebahan sebentar. Sambil menunggu mama dan kakaknya datang, Rei memejamkan matanya.


Ardan yang baru tiba dari kantin rumah sakit menggeleng kepala melihat istrinya terlelap. Tak mau mengganggunya, Ardan memilih duduk didekat ayah mertuanya.


Saat dirinya sibuk memeriksa pekerjaan yang dikirimkan oleh asistennya lewat email tiba-tiba jari tangan papa mertuanya bergerak.


Ardan menghentikan pekerjaannya, melihat kondisi mertuanya lalu memencet tombol memanggil perawat.


Bersamaan dengan kedatangan dokter dan perawat, mama dan kak Dani tiba. Mereka kaget takut terjadi hal yang tak diinginkan.


Dokter pun memeriksa papa, keadaan papa baik. Tinggal menunggu hasil lab baru bisa dipastikan keadaan sebenarnya.


###


Hai...terimakasih yang sudah mampir. Membaca beberapa komen yang masuk bikin otor semangat bikin up nya.


Jangan lupa mampir di karya otor lainnya ya, on going juga dan ceritanya beda dengan yang ini, jadi ga bakalan tertukar.

__ADS_1


- Savage Love ( sudah masuk bab 7, semangat!)


__ADS_2