Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
93. Makan dulu yuk!


__ADS_3

Pak Iwan, tukang parkir itu bercerita tentang asal mula kios itu berdiri, letaknya yang strategis diantara perumahan elit dan kampung memang sangat menguntungkan.


Meski awalnya keberadaan mereka sempat ditolak oleh pihak pengembang perumahan karena ditakutkan akan mengganggu warga perumahan.


Tapi karena letaknya berada jauh dari gerbang perumahan elit tersebut jadi mereka tidak terlalu mempermasalahkan, asal tidak mengganggu.


Dulu para penjual itu hanya pedagang keliling yang tidak tentu penghasilan tiap harinya, tapi sejak ada kios hasil mereka patungan, penghasilan mereka mulai meningkat.


Meski tidak bisa dibilang laris tapi paling tidak setiap hari ada pemasukan agar dapur mereka tetap ngebul.


Rei memesan dua porsi nasi goreng dan dua teh hangat, dia lalu mencari tempat duduk yang kosong.


Setelah mendapatkan tempat duduk, Rei membuka aplikasi hijau di hand phone nya. Melihat story kontaknya sambil menunggu pesanannya selesai.


Pesanan mereka, nasi goreng spesial sudah selesai dan diantar ke meja. Rei memanggil suaminya yang masih berada diparkiran, ngobrol dengan tukang parkir.


Ardan mengajak pak Iwan untuk makan bersama, tapi beliau menolak dengan halus karena harus menjaga parkiran.


Ardan lalu pamit pada pak Iwan, berjalan mendekati istrinya dan ikut makan. Nasi goreng itu lumayan, ga kalah dengan di restoran langganan mereka.


Dan meskipun di kaki lima, dengan kios seadanya tempat makan mereka bersih dan rapi, itu pula yang menarik perhatian pembeli.


Rei makan dengan cepat, rasa laparnya membuat dia tidak sabar untuk segera menghabiskannya.


Setelah nasi gorengnya habis, Rei lalu minum teh hangat miliknya. Tapi sepertinya perutnya masih merasa lapar.


Rei berdiri dan melangkah menuju tukang sate, memesan satu porsi sate ayam lengkap dengan lontongnya.


Ardan melihat heran kearah istrinya yang berbicara dengan tukang sate, dan ketika melihat piring istrinya yang sudah tandas Ardan hanya menggeleng kepalanya.


Rei sudah kembali duduk, Ardan masih juga mencoba menghabiskan nasi gorengnya. Ardan memang jarang sekali makan diatas jam delapan malam.


Dia sangat menjaga pola hidup sehat, tapi kali ini menjadi pengecualian, mereka lupa makan malam karena kecapekan.


Tak lama seporsi sate ayam dan lontong yang sudah dipotong sudah tersaji di depannya. Rei tersenyum senang, dia kembali makan dengan lahap.

__ADS_1


Ardan melongo, heran dibuatnya. Baru saja sepiring nasi goreng habis, sekarang sudah makan lagi.


Seporsi sate ayam plus lontong, padahal nasi goreng nya tadi sudah porsi besar menurut Ardan.


Ardan saja hampir tidak habis memakannya, tinggal beberapa suapan lagi tapi sepertinya sudah kenyang.


Sedangkan istrinya sudah makan seporsi nasi goreng masih tambah sate plus lontong. Ardan heran dibuatnya.


Tapi Ardan tidak berani berkomentar, takut salah dan mempengaruhi mood istrinya. Bisa berabe jika kejadian. Bukan hanya kehilangan jatahnya, dia juga pasti akan melihat wajah cemberut istrinya setiap hari.


Rei menyantap sate ayam yang terlihat lezat di matanya, tak lupa lontong yang tadi sudah dipotong kecil ikut masuk ke dalam mulutnya bergantian dengan satenya.


Dan habis, tak butuh waktu lama. Seporsi sate ayam berisi sepuluh tusuk dengan lontong dan teh hangat menjadi menu kedua yang dihabiskan Rei malam itu.


Belum satu jam sudah habis dua porsi makanan berat, benar-benar diluar kebiasaan. Sebelum pulang Ardan membayar pesanannya tadi, termasuk sate ayamnya.


Setelah melakukan pembayaran, Rei dan Ardan mengambil sepedanya diparkiran. Ardan memberikan uang parkir pada pak Iwan.


Saat mencari uang kembalian, pak Iwan tidak menemukan uang pecahan dua ribuan. Ardan tidak mau menunggu lama, karena istrinya sudah mulai mengantuk.


Ardan memberikan kembalian pada pak Iwan, sesekali tak apalah. Uang parkir dua ribu sudah murah menurutnya.


Mereka pulang kerumah, Ardan mengendarai motornya dengan pelan dan menghindari polisi tidur agar istrinya tidak kaget dan terguncang.


Sesampainya didepan rumah, Ardan membangunkan istrinya, setelah Rei turun dari sepeda Ardan membuka pintu rumahnya.


Rei sudah tidak sabar untuk kembali ke kasur empuknya, tapi belum juga sampai ke kamar Rei sudah merebahkan dirinya di kursi yang ada di ruang tamu.


Ardan melihat istrinya yang cepat sekali lelap, dia membiarkannya. Setelah memasukkan kembali motornya kedalam garasi, Ardan mengunci semua pintu dan menggendong istrinya ke dalam kamar.


Olah raga malam versi sebenarnya, untung saja tadi makan agak banyak jadi tidak terasa capek, mengangkat istrinya yang mulai naik berat badannya itu.


Ardan menghembuskan napas berat, dia ngos-ngosan. Rei istrinya langsung tidur memeluk gulingnya.


Ardan membantu membuka celana panjang istrinya agar tidak sesak. Ardan mencium pucak kepala istrinya, lalu mencium perut istrinya dan mengelusnya.

__ADS_1


Ardan tersenyum saat mengingat porsi makan istrinya tadi, tapi jika tebakannya benar dia akan segera menggendong bayi, buah hati mereka.


Ardan meletakkan kunci motor, dompet dan membuka jaketnya, dia lalu membuka baju atasannya, dia merasa gerah setelah makan malam tadi.


###


Huek..huek...


Pagi-pagi sekali Rei sudah bangun dan memuntahkan isi perutnya yang berupa cairan. Rei terlihat pucat, tidak seperti biasanya.


Rei bangun dan mecuci mulutnya di wastafel, menyikat giginya. Rei merasa lebih baik sekarang, tapi dia masih belum ingin mandi.


Rei berjalan kearah dapur, mengambil gelas dan mengisinya dengan air dingin sedikit dan air panas di dispenser.


Rei meminum airnya, air hangat yang sedikit membuatnya segar. Dia akan mual lagi jika minum air dingin. Mulutnya berasa tidak enak, berasa ingin meludah terus.


Setelah itu Rei mengambil sapu dan menyapu rumahnya. Rei memilih menyibukkan dirinya karena dengan begitu rasa mualnya akan terlupakan.


Selesai membersihkan rumahnya, Rei mengecek isi kulkasnya dan ternyata kosong. Dia lupa jika dia belum sempat berbelanja sebelum dia pergi ke luar kota.


Rei membangunkan suaminya, karena hari ini Ardan ingin mengecek pembukuan kafe dan restoran. Sudah akhir bulan, sebentar lagi waktunya membayar gaji para karyawannya.


Setelah mandi dan minum kopi buatan istrinya, Ardan bersiap pergi ke kantor. Ardan melihat istrinya juga sudah siap.


Ardan tidak terlalu memperhatikan, kemudian istrinya mendekat dan mengatakan ingin ikut ke kafe.


Ardan mengiyakan, Rei berjalan kearah dapur dan mengambil oleh-oleh yang dibawakan oleh teman-temannya kemarin.


Rei ingin membaginya pada orang tua dan mertuanya, karena ternyata oleh-oleh yang dibawakan Ratna dan Arini sangat banyak, tak akan habis dimakan sendiri.


Mereka pun berlalu pergi kerumah orang tua Ardan lebih dulu, karena jaraknya lebih dekat dengan kafe.


Mereka memasuki halaman rumah papa Ardan, dan memarkirkan mobilnya. Mama dan papa kebetulan sedang ada dirumah, jadi mereka bisa melepaskan kangen.


Papa dan mama Ardan biasanya akan berada dirumah Dina untuk bermain dengan cucu mereka.

__ADS_1


Rei dan Ardan masuk ke dalam rumah mencari keberadaan orang tuanya.


###


__ADS_2