Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
106. Kesempatan kedua


__ADS_3

Sementara itu ditempat lain, Ardan yang sudah tiba direstoran beberapa menit lalu sedang berbicara dengan pihak EO yang dipercaya oleh yang punya hajatan.


Tak lama setelahnya Ardan memeriksa kesiapan perhelatan acara milik salah seorang pebisnis senior yang juga dekat dengan papanya.


Ardan tidak terlalu banyak komentar karena EO yang menangani acara ini juga EO yang telah membantu acara pernikahan Dina dan juga dirinya.


Perfect


Satu kata itu yang bisa Ardan ucapkan sekarang, setelah puas berkeliling Ardan akhirnya kembali keruangannya, tapi dari jauh ada sepasang mata yang selalu melihatnya.


Tanpa berkedip, dan masih dengan tatapan mendamba seperti dulu. Senyum merekah dari bibirnya, mengingat pertemuan singkat mereka yang ternyata tidak ada kelanjutan.


Setelah Ardan menghilang dibalik tembok, senyum itu kembali hilang. Dan dengan langkah gontai pemilik senyum tadi juga melangkahkan kakinya ke arah pintu keluar restoran.


Masih teringat jelas bayangan lelaki yang sempat bertamu di salah satu bilik relung hatinya, bahkan sampai detik inipun namanya selalu menjadi pengisi ruang kosong tersebut.


###


Malam pun tiba, meski Ardan sedikit malas untuk datang ke acara yang diadakan di restoran nya tapi demi menghargai klien sekaligus rekanan papa nya mau tidak mau Ardan pun pergi.


Sedikit malas dan tentu saja tidak semangat karena diundangan itu mengharuskan nya membawa pasangan.


Sedangkan Rei sampai saat ini masih asyik dengan dunianya sendiri. Ardan juga tak ingin memaksa, karena undangan ini juga tidak memaksanya untuk pergi.


Masih ada waktu satu jam lagi acara akan dimulai, Ardan sudah menyiapkan jas dan kemeja untuk acara malam ini.


Ardan sengaja menyiapkan nya di ruang kerjanya karena dia malas jika harus bolak balik ke rumah hanya untuk berganti pakaian.


Selepas memeriksa segala persiapan acara tadi Ardan juga menyempatkan diri memeriksa laporan keuangan restoran dan juga swalayan.


Karena bagaimanapun Ardan masih memegang kekuasaan tertinggi disana, dan Miko adik iparnya juga tidak terlalu mempermasalahkannya.


Karena Miko juga sudah mulai menikmati kesibukan barunya dengan merintis usaha lain yang berbeda.


Ardan sebenarnya sudah mencoba mengajak Rei istrinya untuk hadir, tapi Rei tetap tak ada respon. Entah harus dengan cara apa lagi dirinya membuat Rei kembali seperti dulu.


Hah...


Ardan membuang kasar napasnya, memijat pelan pangkal hidungnya. Jika diingat kembali sudah beberapa kali Ardan menolak untuk menghadiri pesta undangan dari teman maupun rekan bisnisnya.


Sejujurnya Ardan malu jika harus bertemu dengan rekan bisnisnya yang selalu menanyakan kenapa istrinya tidak pernah hadir menemani nya.


Harus dengan alasan apa lagi Ardan akan menjawab. Sudah terlalu banyak alasan.

__ADS_1


Ardan merebahkan dirinya di kasur empuk di ruangan pribadinya. Matanya menatap langit langit kamar itu dengan tangan yang dijadikan penyangga kepalanya.


Mencoba mengistirahatkan raga dan pikiran nya, matanya terpejam tapi pikirannya masih melanglang buana.


Tanpa terasa dengkuran halus terdengar disana, akhirnya setelah beberapa saat termenung dengan alam bawah sadar nya dia benar benar mengistirahatkan raga nya.


Sementara itu di rumah nya, Rei yang sedari tadi masih bimbang antara memenuhi ajakan suaminya untuk datang menghadiri undangan atau memilih menyepi dengan segala kesedihan nya, hanya diam.


Ditangan kanannya masih memegang undangan, dua hari lalu Ardan sudah mengutarakan niatnya mengajak Rei tapi seperti biasa, tak ada tanggapan.


Rei hanya diam seolah pikirannya tak pernah ada dalam obrolan itu. Hingga tadi pagi sebelum sarapan Ardan kembali membaca undangan itu dan menarik napas panjang serta mengeluarkannya dengan kasar.


Rei bukan tidak tahu jika suaminya sudah bosan mengajaknya, tidak hanya sekali dua kali tapi sudah berkali kali Rei tak pernah menanggapinya.


Hingga tadi saat pembicaraannya dengan asisten rumah tangga nya itu membuatnya tersadar.


"Ibu cantik, tapi jika seperti ini terus tidak menutup kemungkinan bapak akan berpaling dan berpindah ke lain hati.


Sekarang hanya dengan modal tampang dan sedikit uang, tak sulit menggaet laki laki dan menjeratnya hingga jatuh.


Sekarang terserah ibu, karena semua pilihan ada di tangan ibu. Saya akan sangat menyayangkan jika rumah ini sudah tidak bisa membuat penghuninya betah, karena masing masing lebih memilih egonya."


Seperti dipukul palu gada, ucapan bibi begitu menohoknya. Bukan hanya itu, hatinya terasa teriris. Perih rasanya tapi itulah kenyataan nya.


Selama ini bukan hanya Ardan, mama dan kakaknya kak Dani yang menasehatinya, tapi kedua mertuanya juga bahkan Miko juga terpaksa membentaknya karena Rei terlalu sibuk dengan dunianya hingga mengabaikan kewajibannya sebagai seorang istri.


Dia, dia yang selalu ingin di mengerti tapi tak pernah mau mengerti posisi Ardan. Begitu egois nya sampai tidak pernah lagi melayaninya sebagaimana mestinya.


Tugasnya dan kewajibannya sebagai istri sudah terlampau banyak dilalui dengan sia sia, hingga dosanya mungkin tak akan terampuni.


Rei terisak, tangisnya pecah diruangan yang selalu jadi tempat pelariannya. Bukan hanya Rei yang merasa kehilangan calon bayi mereka, tapi juga Ardan suaminya.


Bahkan jika Rei merasa bersalah karena penyakitnya menyebabkan dia harus merelakan malaikat kecilnya pergi, justru Ardan lebih terpukul lagi.


Bebannya sebagai suami dan calon ayah seolah bertambah berlipat lipat, melihat istrinya terbaring lemah tak berdaya, dan satu sisi harus merelakan bayi mereka pergi.


Dan betapa sakitnya dia melihat istrinya tenggelam dalam dunianya sendiri, menyendiri dan selalu menyalahkan diri sendiri.


Ardan merasa gagal menjadi seorang kepala keluarga. Tanpa sepengetahuan Rei Ardan selalu menangisi penyesalan nya karena tidak bisa menjaga istri dan juga calon anak mereka.


Ardan seolah tak dianggap kehadirannya oleh Rei, sakit hati pasti. Tapi demi keluarganya utuh kembali Ardan memilih mengalah.


Meski batas kesabarannya sudah tak terbendung, dan jenuh. Ardan akui dirinya jenuh dengan semua ini.

__ADS_1


Seolah semua tak ada artinya di mata Rei, Ardan memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan nya.


Berangkat pagi pulang malam, bahkan sengaja tidur di ruang kerjanya. Menjaga jarak


###


Rei memilih untuk membuka hatinya dan mempertahankan keutuhan rumah tangganya, dari pada egonya.


Sudah cukup Ardan membiarkan dirinya larut dalam kesedihan, kini Rei bertekat untuk memberikan kesempatan kedua pada dirinya sendiri dan suami nya.


Sudah cukup Rei mengabaikan kewajibannya sebagai istri dan menambah daftar panjang catatan dosanya.


Setelah berendam dan menikmati me time nya di bath up sekian lama, Rei membilas tubuhnya dibawah kucuran shower.


Membersihkan dirinya dan berniat melayani suaminya malam ini, Rei tak dapat menyembunyikan rona merah di pipinya.


Membayangkan percintaan mereka yang begitu menggelora sebelum datang musibah itu.


Setelah memilih gaun yang sesuai untuk dipakainya malam ini, Rei lalu merias dirinya. Sapuan make up sederhana tapi mampu menyulap dirinya menjadi wanita anggun.


Terakhir Rei menyemprotkan parfum kesukaan suaminya, karena bagaimana pun tujuannya ke pesta kali ini adalah ingin memperbaiki hubungan nya dengan sang suami.


Rei berjalan menuruni tangga dan terakhir berhenti tepat di depan meja makan dimana asisten rumah tangga nya sedang berdiri saat ini.


Berjalan mendekat dan berputar didepannya, dan Rei nampak percaya diri.


"Bagaimana, apa aku sudah pantas untuk mendampingi seorang Ardan Dima Prasetya?" tanya Rei saat sang bibi mendekat dan masih dengan ekspresi bahagia.


Bibi tak menyangka jika pembicaraan mereka siang tadi menggugah majikannya untuk berubah menjadi dirinya sendiri.


Menjadi wanita cantik yang anggun dan mempesona. Bibi masih menutup mulutnya dan dengan mata yang melotot seolah akan memakannya hidup hidup.


"Sangat pantas, ibu sangat pantas. Dan saya yakin bapak tidak akan berpaling dan segera memboyong ibu ke kamar." bibi


"hahaha... bibi bisa aja. Ya sudah, baik baik disini, lima belas menit lagi acaranya dimulai, sekarang tolong panggilkan supir untuk mengantarkan saya." Rei


"Siap laksanakan"


Bibi pun berlalu, senyumnya merekah penuh kebahagiaan, karena memang ini tujuannya memanas manasi nyonya nya tadi siang.


Dan berdoa dalam hati semoga keluarga majikan nya kembali harmonis seperti dulu sebelum musibah itu datang.


###

__ADS_1


Like, komen dan vote nya mana?


Maaf jika terlalu lama hibernasi, hape nya lagi merajuk maklum hape jadul jadi harus sabar.


__ADS_2