Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
19. Bobok yuk!


__ADS_3

Sesampainya dirumah Rei sudah disambut oleh dua ponakan nya, Fina dan Inez. Kedua bocah kecil itu begitu menggemaskan, Fina berlari mendekati Rei, sedangkan adiknya tampak kegirangan melihat kakak dan tantenya datang, tangannya digerakkan ingin digendong juga.


Rei yang sudah menggendong sang kakak tampak kesulitan meraih tangan mungil inez. Bayi itu menangis karena tak bisa ikut dalam gendongan tantenya, tentu saja mimik wajahnya yang imut itu semakin menggemaskan.


Meskipun sudah ditenangkan sama sang mama tapi tetap saja, bayi itu iri karena tidak bisa ikut digendong tante Rei nya. Akhirnya Rei meminta Fina untuk duduk di kursi, tapi bukannya turun dia malah semakin mengeratkan gendongannya.


Untunglah Ardan segera menyusul masuk kesana, dan dia berinisiatif mengambil Fina dari gendongan Rei agar Rei bisa menggendong adiknya. Meski awalnya ga mau, akhirnya Fina mau digendong oleh Ardan, entah apa yang sudah dijanjikan olehnya.


Dan disinilah mereka berempat, menikmati kicau burung peliharaan papa. Duo krucils itu tak mau lepas dari gendongan. Fina digendong dibelakang oleh Ardan, sambil terus menggoda adiknya yang berada digendongan Rei. Mereka tertawa, dan mereka tak luput dari pengawasan orang dewasa lainnya.


Kak Dani mengambil ponselnya, mengambil gambar mereka. Rei sudah pantas memiliki anak, tapi nasibnya kurang beruntung.


"Semoga kamu cepat memdapatkan kebahagianmu, Rei." batin Dani.


"Kakak, Adek bobok yuk. Tante Rei capek sayang" ajak Kak Dani pada kedua anaknya. Mereka menolak tapi karena mamanya menjanjikan akan membawa mereka jalan-jalan, mereka pun mau mengikuti.


Setelah kedua bocah kecil itu tidur, Rei kemudian pamit untuk membersihkan diri. Ardan menunggunya diruang makan bersama orang tua Rei, setelah semua anggota keluarga berkumpul mereka mulai makan malam.


€€€€


"Ma, pa, Saya minta ijin mau bawa Rei menginap dirumah, mama sudah kangen sama Rei katanya" ucap Ardan.


"Iya, hati-hati dijalan dan salam sama orang tua kamu." jawab Papa.


Rei dan Ardan, berpamitan mencium tangan kedua orangtua nya. Sebelum krucil terbangun dan mencari tantenya lagi, mereka pun pergi melajukan mobil menuju rumah Ardan.


Sesampai dirumah, mereka sudah ditunggu oleh papa dan mama Ardan. Rei turun dari mobil dan langsung masuk, sedangkan Ardan masih ingin menyapa bapak-bapak yang ada di pos ronda yang sedang main catur.


"Assalamualaikum, ma, pa." Rei menyapa mereka mencium tangan keduanya.


"Waalaikumsalam, akhirnya datang juga. Sudah makan?" tanya mama Ardan.

__ADS_1


"Sudah ma, tadi dirumah. Oiya, ini ada titipan dari mama, tadi kebetulan anak kak Dina minta brownies jadi sekalian aja mama bikinin lain.


"Ngerepotin aja, makasih ya bilangin sama mama" mama Ardan kemudian memeluknya.


"Ardan mana sih lama banget" tanya mamanya


"Mas Ardan tadi bilang masih mau ke pos kamling ma" Rei meletakkan kue yang dibawanya di meja makan, dibantu oleh bibik yang menyiapkan piring saji.


"Anak itu bukannya langsung masuk menyapa orang tua nya malah pergi ke pos kamling, dasar" gumam mama nya pelan tapi masih bisa didengar oleh Rei dan papa.


"Sudah lah ma, biarin. Jarang Ardan bisa berkumpul bersama mereka, apalagi sejak kesibukannya bertambah. Padahal dulu tiap akhir pekan dia selalu bergabung disana walau hanya sekadar ngobrol." papa menimpali


Mama Ardan hanya mengangguk, memang sejak Ardan lulus kuliah dan mulai membantu papanya bekerja dia pasti menyempatkan waktu akhir pekan nya untuk bergabung bersama penghuni komplek dan para satpam.


Pribadinya yang sederhana dan supel membuatnya mudah mendapatkan teman baru. Bahkan dilingkungan tempat tinggalnya, Ardan termasuk salah satu kandidat calon menantu idaman bagi ibu-ibu kompleks.


Karena selain tampan, putih, tinggi, dia juga tajir. Bahkan ibu-ibu kompleks itu juga sering mengirimi Ardan makanan dengan menyuruh putri mereka. Tapi sayang tak ada satupun yang bisa menarik perhatiannya. Begitu juga dengan orang tua Ardan yang selalu direpotkan oleh kelakuan ibu-ibu kompleks.


€€€€


Agak lama Rei mengobrol bersama mama dan papa Ardan, tak lama Ardan masuk dan langsung bergabung dengan mereka.


"Assalamualaikum" sapa nya


"Waalaikumsalam" jawab ketiga orang yang sedang berbincang. Mama melotot melihat Ardan main comot kue nya. Tapi bukan Ardan namanya kalau tidak bisa menggoda mamanya.


Mencium pipi wanita paruh baya yang sudah melahirkannya, dan memeluknya.


"Kamu kebiasaan ya, pulang bukannya menyapa orang tua dulu, mandi kek, ini malah langsung main catur di pos kamling" sewot mamanya, tangannya memukul tangan Ardan yang kembali mencomot kuenya.


Papanya dan juga Rei hanya bisa tersenyum melihat kelakuan mereka.

__ADS_1


"Dina mana mau, kok sepi?" tanya Ardan celingukan, seharian tak bertemu adiknya itu membuatnya ingin menjahili.


Tampak kecewa diwajahnya saat tahu adiknya sedang ikut keluarga Miko menjenguk sodaranya diluar kota.


"Sayang, bobok yuk!" ucap Ardan sambil menaikkan alisnya. Rei menoleh dan memutar bola matanya malas.


"Apa-apaan sih, tidur sendiri sana, belum halal ga boleh tidur berduaan." jawab sang mama sambil mencubit perut Ardan.


Ardan meringis mengelus perutnya yang masih terasa sakit akibat cubitan mamanya.


"Iya ma, tahu. Maksud Ardan biar Rei istirahat dulu, tadi pulang kantor belum sempat rebahan langsung kemari."


"Kamu kalau ngomong suka asal soalnya, makanya mama gemas."


"Sudah ma, biarkan mereka istirahat. Kita juga istirahat, sudah malam." ajak papa, dijawab anggukan istrinya.


Mereka lalu menuju kamarnya masing-masing. Ardan sudah lelah ingin segera merebahkan dirinya, tapi Rei pasti akan mengomel.


"Kamu ganti baju aja dulu, aku ingin rebahan sebentar." ucapnya sambil merebahkan tubuhnya di kasur empuk berukuran besar itu.


Rei mengangguk, tak lama kemudian dia keluar menuju kasur mendekati Ardan yang memejamkan matanya. Memperhatikan wajah tampan itu, hidung mancung dan bibir tipis serta manis saat tersenyum, pantas saja jadi idola ibu-ibu kompleks.


Rei tersenyum ingin menjahilinya, tapi melihat wajah lelah laki-laki disampingnya Rei pun mengurungkan niatnya, dia memiringkan badannya, satu tangannya menopang kepalanya dan satu lagi menelusuri lekukan wajah dihadapan nya.


"Sudah puas belum menatap wajah tampanku, kalau belum dipuasin dulu deh" ucap Ardan mengagetkan Rei. Rei yang ketahuan menjadi salah tingkah.


Buru-buru dia memiringkan badannya dan membelakangi Ardan, wajahnya merah. Tingkah Rei yang malu makin membuat Ardan gemas. Mendekati Rei dan memeluknya dari belakang. Lalu menciumi seluruh wajah Rei, sampai Rei merasa geli.


"Mas.. mandi dulu sana, katanya lelah tapi malah ciumin aku." Rei menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, Ardan yang merasa terganggu akhirnya menggelitik Rei diperutnya.


Rei paling tidak tahan dikelitik, dia sampai ampun-ampun agar Ardan melepaskannya. Puas menggoda Rei, dia lalu menuju kamar mandi. Meninggalkan Rei dan melalukan ritual mandinya, agak lama karena dia harus mendinginkan sesuatu yang sudah sedari tadi bangun.

__ADS_1


€€€€


__ADS_2