Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
20. Kamu mau apa?


__ADS_3

Setelah ritual mandi yang cukup lama tadi, Ardan masuk ke kamarnya dengan menggunakan handuk yang dililitkan dipinggang.


Badan nya yang tinggi tegap dan memperlihatkan otot perut yang sixpack tersebut, sempurna itulah kata yang tepat menggambarkannya, ups. Rambutnya yang masih sedikit basah membuat penampilannya semakin menarik.


Penampilan Ardan itu tak luput dari pandangan Rei, tapi dia mencoba menahan getaran didadanya, menelan salivanya. "Ya Tuhan, tolong jangan kotori pikiran hambamu ini" batin Rei. Memalingkan muka mencoba menutupi rasa gugupnya karena tertangkap basah menatap Ardan yang juga menatapnya. Ardan menyunggingkan senyumnya, berjalan mendekati wanitanya.


Tiba-tiba ada yang menyentuh wajahnya, membuatnya menoleh pada pemilik tubuh yang sempurna itu. Rei tidak mau munafik, dia manusia biasa yang punya nafsu. Disuguhi pemandangan yang begitu memukau. Ah sungguh rugi jika dilewatkan.


"Tidak.. tidak..." gumam Rei, sambil menggelengkan kepalanya tapi masih bisa didengar Ardan.


"Apanya yang tidak sayang, jangan bilang body ku bisa buat kamu bergairah." goda Ardan sambil menaikkan alisnya.


"Enggak.. enggak... jauh-jauh sana, kita belum sah." mendorong Ardan untuk menjauh, tapi tetap saja Ardan makin mendekat.


"Mas mau apa?" Rei menutup matanya dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Semakin kencang gemuruh didadanya. Dan tiba-tiba..


Cup


Rei merasakan kecupan dikeningnya, setelah itu terdengar tawa dari laki-laki yang baru saja membuat jantungnya berdegup kencang. Meskipun ini bukan kali pertamanya melihat tubuh laki-laki tapi Rei akui dirinya mengagumi Sosok itu.


Sama seperti saat bersama Anton dan Reza, kali ini Rei pun merasakan debaran, apakah ini cinta atau hanya sekedar kagum saja. Rei masih diam mematung, mencari sosok yang baru saja membuat spot jantung.


Ardan sudah keluar dari walk in toilet, dan sudah berganti pakaian. Penampilan Ardan saat santai dan formal membuat banyak mata mengaguminya, tak terkecuali Rei. Meskipun hanya kaos oblong dan celana pendek selutut tapi Ardan tetap memukau.


"Kamu mau makan lagi?" tanya Ardan pada Rei, setelah mendudukkan bokongnya di samping Rei.


"Enggak ah, tadi kan sudah pengen ngemil aja tapi udah malam." jawabnya sambil melirik Ardan.


"Kamu mau apa? Mau bikin sendiri atau beli?"


"Pengennya sih makan gado-gado dipojokan sana, sebelum masuk ke perumahan itu mas. Kelihatannya enak, rame gitu."


"Gado-gado bukan ngemil Rei, tapi makan." Ardan tertawa, tapi emang benar sih kalo ikut versi orang Indonesia emang enggak, karena bukan nasi tapi lontong.


"Boleh deh, aku juga lapar sebenarnya." ajaknya sambil menggenggam tangan Rei. Rei sudah mengambil kunci mobil dan dompetnya, tangan nya kembali menggenggam tangan Rei.


Begitu sampai di bawah, mereka dikejutkan oleh suara mama Ardan yang tiba-tiba keluar dari kamarnya.

__ADS_1


"Mau kemana, udah malam masih mau pacaran aja." Menoleh ke asal suara, mamanya berjalan mendekati sofa depan teve.


"Mama...ngagetin aja, ini Rei ngajak makan gado-gado di pojokan itu ma, mama mau biar sekalian kita bungkusin."


"Boleh deh, sekalian papa dibelikan ya. Biar ada temannya makan."


"Oke, siap bos!"


Keduanya lalu pergi dan menyisakan mama yang masih duduk di depan teve.


ceklek


"Loh ma, kok keluar lagi ga jadi tidur" tanya papa yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.


"Gimana mau tidur, papa ninggalin mama terus pas keluar kamar lihat Ardan dan Rei keluar mau beli gado-gado katanya. Ya udah sekalian aja mama titip."


"Ga takut gendut ma? biasanya juga malas kalau diajak makan lagi jam segini" goda papa


"Sebenarnya mama takut gendut, tapi karena Rei bilang pengen gado-gado, ya mama kan juga pengen." cengir mama, dan hanya ditanggapi gelengan kepala suaminya.


€€€€


Ardan mengedarkan pandangannya mencari Rei, ketika melihat Rei sedang memainkan ponselnya Ardan mendekat. Kemudian duduk disamping Rei, tak lama seorang remaja lelaki mendekati bangku mereka.


"Silahkan mas mbak gado-gado nya, oiya minumnya apa?" tanya remaja itu, sambil meletakkan pesanan mereka.


"Makasih dek, minumnya teh hangat aja. Mas juga mau?" Rei menatap Ardan yang sibuk membalas pesan.


"Iya dek, teh hangat dua ya." jawab Ardan, meletakkan hape nya dan mulai mengambil makanannya. Menyendokkan Kedalam mulutnya sendiri.


"Hmm, enak juga." ucapnya pelan.


"Iya kah?" Rei tak sabar ingin segera mencicipi miliknya, tapi ternyata Ardan lebih dulu menyuapinya.


Mereka pun menikmati pesanannya, Rei juga menyuapi Ardan. Mereka benar-benar pasangan yang serasi, bikin iri para jomblo. Selesai makan mereka masih menikmati teh hangat sambil terus ngobrol. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk pulang, karena ternyata warung gado-gado itu makin malam makin rame pembeli apalagi di akhir pekan seperti sekarang.


Rei berniat membayar pesanan gado-gado tadi, tapi Ardan mencegahnya dengan alasan sudah sepantasnya laki-laki yang membayar. Tak mau berdebat, Rei memilih mengalah. Biarlah masih ada cara lain untuk menggantinya.

__ADS_1


Setelah dari warung gado-gado Ardan menghentikan mobilnya didepan mini market 24 jam.


"Ayo turun" pinta pada Rei


"Mau ngapain mas? Masih mau belanja lagi?" tanya Rei.


"Kemarin katanya nyari camilan dikamarku susah, ya mestilah aku jarang ngemil. Kalo iya, mana ada perut ku bisa se seksi sekarang" Ardan mengedipkan sebelah mata nya.


Rei tersenyum, selalu saja dia tak bisa menolak pesona seorang Ardan Prasetya. Laki-laki yang belum dia kenal jauh tapi sudah berani menyatakan keseriusan nya.


Berbelanja beberapa camilan favorit dan minuman dan tentu saja cokelat. Ardan membelikan Rei cukup banyak camilan, agar Rei tidak mengeluh bosan dikamar.


Mobilpun sampai di halaman rumah Ardan, menurunkan belanjaannya mereka pun menemui orang tua Ardan yang sudah lama menunggu gado-gado nya.


"Assalamualaikum" ucap mereka bersamaan


"Waalaikumsalam" kedua orang paruh baya itu menoleh.


"Kemana aja sih, mama sampe jamuran nungguin nya." mama merajuk.


"Iya, sampe dibelain ga tidur demi gado-gado" goda papa, mereka kemudian tertawa.


"Ini masih belikan nyonya camilan ma, biar ga ngomel mulu kalau aku tinggal sendiri dikamar" Ardan menunjukkan dua kresek berisi belanjaannya.


Rei menyenggol perut Ardan, dan hanya tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Ya udah, sini gado-gado nya biar mama ambil piring dulu. Kalian istirahat sana"


"Siap bos" jawab Ardan, mereka pun melangkah pergi menuju kamar meninggalkan papa dan mama.


"Ayo pa, kita makan gado-gado nya. Sepertinya enak."


Papa mengangguk meski sedikit malas tapi demi istri tercintanya, dia akhirnya mau mengalah.


"hmm enak juga ternyata" ucap mama sambil mengunyah makanan nya.


Mereka berdua menikmati gado-gado, dan setelah memeriksa semua pintu mereka kembali ke kamarnya.

__ADS_1


€€€€


Bagaimana dengan Arini dan Rio, kita tunggu kelanjutan hubungan mereka.


__ADS_2