Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
08. Ketemu lagi


__ADS_3

Ditempat acara, tampak parkiran penuh dengan kendaraan. Setelah memarkirkan mobilnya, Renita dan teman-temannya melangkah menuju rumah pemilik hajatan.


"Rei, ingat ga pas kamu ditembak sama Pandu ga?" goda Arini.


"ingatlah, mana waktu itu pas acara gathering sama pusat, malu aku." jawab Rei santai


"Iya ya, mana dah bikin heboh ternyata ditolak, hahaha....kebayang ga sih malunya dia."


"Tapi aku yang lebih malu, masak baru juga dapat surat cerai dah mau cari gandengan, kesannya aku tuh sengaja bales kelakuan si mantan, ogah.


"Kamu tahu sendiri bagaimana penilaian orang terhadap janda, meskipun kita ada diposisi benar tetap aja salah." lirih Rei kemudian.


"iya sih, malah yang jelas-jelas pelakor masih kalah sama janda kayak mantan mu itu." jawab Arini.


"Hush... udah ga usah dibahas lagi, yang penting sekarang aku sudah move on, dan siap membuka hati lagi."


"Nah gitu dong, jangan kalah sama si mantan. Buktikan kalo kamu bisa dapatkan yang lebih baik dari dia."


Keduanya pun berjalan menuju ketempat tuan rumah berada, diikuti oleh Rio yang nampak bergabung dengan teman-teman mereka yang lain.


Tampak dari kejauhan Miko menggandeng seorang wanita cantik, dan keduanya jadi pusat perhatian selain si empunya hajatan.


Setelah bersalaman dengan Pandu dan kedua orangtua nya, Renita dan Arini duduk bersila bersama tamu lainnya. Tamu perempuan dan laki-laki memang dipisah karena sebelumnya ada pengajian dari teman-teman majlis taklim ibunda Pandu.


Sedangkan untuk teman kerja Pandu dipisahkan di garasi yang disulap untuk acara hajatan kali ini. Selesai rangkaian acara, Renita, Arini, Rio dan teman-teman kerjanya berpamitan dengan Pandu dan orang tua nya.


"Miko mana ya, kok ga kelihatan. Ga mau kalah sama yang punya hajat. Ngilang mulu" seru Arini sambil celingukan mencari sahabatnya itu.


"Udah lah, paling bentar lagi nongol tuh anak." ujar Rio


Tak lama kemudian dari belakang mereka.


"Door... " teriak Miko


"Duh kaget aku, kebiasaan emang ni anak ya." Arini menjewer telinga Miko, sambil meringis Miko memegangi telinganya.

__ADS_1


"Maaf gaess, aku tadi lihat kalian tapi karena keburu diajak duduk sama bagian CS ya ngikut ajalah.


"Oh gitu, terus kita ga dikenalin tuh sama calon ibu negara nih." goda Arini sambil melirik Gadis yang dari tadi menggenggam tangan Miko.


"Oiya kenalin ini Dina, calon istri aku" melirik Gadisnya.


"Hai.... aku Dina" sambil menjabat tangan mereka bergantian.


"Kayaknya kita pernah ketemu deh, tapi dimana ya?" seru nya kemudian saat menjabat tangan Rei.


"Oya ya, aku inget deh waktu itu kalo ga salah di toilet waktu di rest area. betul ga?" ujar Rei


"Iya bener, pangling loh aku. Cantik banget sih, akhirnya kita ketemu lagi."


Berjalan menuju parkiran sambil bercerita dan berbagi no HP, ketiganya tampak akrab. Melupakan kedua laki-laki yang bertindak sebagai supir malam ini.


€€€€€


"Kamu udah pernah ketemu sama Rei" tanya Miko saat mengantarkan Dina pulang.


"Iya, waktu itu ketemu di toilet pas lagi di rest area. Kita lagi ngopi, ketemu juga ga sengaja gara-gara bu-ibu rempong mau nyerobot antrean kamar mandi."


"Jadi gini yang, kan Rei antre di toilet, duluan dia yang sampe, nah giliran dia mau masuk ada ibu rempong yang nyerobot, kan aku gregetan ya udah aku gertak aja. Kasihan dia udah kebelet pipis malah mau diserobot. Gitu itu masih lempeng aja dianya, emang ga sakit perutnya kelamaan nahan pipis." jelas Dina


"Oh, dia emang gitu. Ga pernah mau ribut, diapain juga diam aja. Kadang aku gregetan sama dia, di kantor juga gitu. Makanya kami jagain dia seperti adek sendiri, karena emang umur dia paling muda diantara kami. Malah sering over protektif, tapi karena kita udah janji sama almarhum suaminya."


"Almarhum suaminya? maksudnya dia janda?" tanya Dina, rasa penasaran nya semakin besar.


"ups, aku harusnya tidak ikutan masalah pribadinya tapi karena sudah terlanjur aku ceritakan semuanya. Tapi kamu janji ga boleh memotong ceritaku dulu, sampe aku selesai. Setelah itu kamu boleh tanya, kalo emang kamu masih penasaran."


"siap beib." seringai Dina, Miko lalu menjelaskan tentang pernikahan Renita dengan Almarhum Anton. Dina tampak mengangguk, seolah mengerti posisi Rei.


"Jadi setelah itu, Renita ga nikah lagi?" tanya Dina kemudian.


"Setahun setelah itu, Rei menikah lagi lebih tepatnya dijodohkan dengan teman lama papanya, tapi itu juga ga lama hanya sekitar enam bulan dan dia kembali menyandang status janda. Aku sebenarnya kasihan sama Rei, sejak kematian suami pertamanya dia seperti bukan Rei yang dulu, dia menutup diri. Untung nya dia mau dijodohkan, tapi mantan suaminya harus memberikan kesabaran ekstra karena harus bersaing dengan orang yang sudah meninggal."

__ADS_1


"Dan beruntung nya lagi, meskipun Rei menutup dirinya tapi dia melayani suaminya dengan sangat baik. Bahkan saat sebelum putusan sidang cerai, dia masih melayani kebutuhan lahir suaminya."


"Maksudnya masih melayani urusan ranjang gitu, bukannya sudah mau cerai. Kok bisa ya?"


"Huss.. kamu tuh pikirannya kesitu mulu, kebutuhan fisik itu seperti pakaian ganti, masih memasakin dia. Mereka memang sudah pisah ranjang tapi masih tetap satu atap, sampai putusan cerai keluar. Bahkan kedua orangtua mereka juga baru tahu setelah sidang ketiga menjelang putusan."


"Kuat banget ya dia nyimpan rahasia pribadinya, bahkan orang tua nya aja ga tahu. Terbuat dari apa sih hatinya? Aku kok makin penasaran sama dia, pengin tahu lebih banyak lagi" ujar Dina menanggapi ucapan Miko.


"Kamu jangan terlalu ikut campur privasi orang lain, ga bagus. Bahkan saat kak Ardan bertanya tentang Rei pun aku tak bisa memberitahukan semuanya. Aku mau dia cari tahu sendiri, karena aku tak mau terlalu ikut campur. Aku menyayangi Rei seperti adikku, aku ga mau dia kembali kecewa."


"Maksudmu kakak sudah kenal sama Rei? tapi kok ga cerita ya?"


"Kenal banget enggak, cuma waktu itu katanya sempat ketemu di toko buku pas cari novel yang sama, terus kak Ardan pernah lihat dia jalan sama aku dan yang lainnya, pas mau makan siang. Nah, waktu aku kerumah mu dia tanya tentang Rei, apa yang dia suka."


"Kakak tahu kalau Renita janda?"


Miko mengangguk, dan menjelaskan kalau Ardan tahu status Rei dari sepupu Anton yang juga sahabatnya.


Mobil yang mereka kendarai mulai memasuki kompleks perumahan tempat tinggal Dina.


"Sudah sampai, istirahat ya jangan main hape mulu, besok kamu kerja kan." Miko mencium kening kekasihnya.


"Duh jadi ga sabar pengen cepat dihalalin bang" goda Dina, Miko hanya tersenyum.


"Sabar, bentar lagi aku akan melamarmu biar kita bisa segera menikah." mengusap pipi Dina.


"Sayang, kalo kita jodohin kak Ardan dengan Renita gimana?"


"Aku sih iya aja, tapi semua kembali apa kata jodoh. Kalau memang mereka jodoh, pasti akan ketemu lagi. Ga usah terlalu maksain."


"Ya tapi kalo ga dibantu mana bisa dekat, kayak kita. Aku ingin sekali Rei jadi kakak iparku, aku suka dia. Mau ya bantuin" Dina mengedipkan matanya, dan Miko hanya menggeleng kepala.


"Iya... aku bantu, udah sana masuk."


Cup..

__ADS_1


Dina mengecup singkat bibir kekasihnya, dan langsung keluar dari mobil. Lagi-lagi Miko dibuat kaget, dan tersenyum melihat kelakuan kekasihnya.


€€€€


__ADS_2