Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
65. take it or leave it


__ADS_3

Air mata Rei lolos begitu saja, sia-sia sudah pertahanannya selama ini. Bagaimana dia harus menutupi rasa kecewa, rasa sakitnya hingga dengan mudah suaminya mengatakan itu.


Rei tahu percuma membuat pembelaan jika akhirnya dipatahkan dengan sangat mudah bahkan mengatakan bahwa dialah yang salah.


"Mas bilang jangan egois?"


"Mas lupa siapa yang selama ini egois? Apa bisa mas ingat berapa kali mas mengantar jemput aku bekerja, apa mas ingat berapa kali mas memberikan nafkah batin padaku, apa mas pernah bertanya apa aku sudah makan, apa aku tidur nyenyak, atau apa aku bahagia dengan pernikahan ini?"


"Mas tidak pernah bertanya, mas seolah tak peduli padaku. Mas hanya ingin diperhatikan tapi mas tidak mau memperhatikan orang lain termasuk istri mas sendiri."


"Yang ada dipikiran mas hanya memenuhi kebutuhan lahirku dengan semua fasilitas dan uang yang mas miliki."


"Apa mas ingin memelihara dua burung berbeda jenis dalam satu sangkar, sedangkan mereka tidak akan pernah bisa bersama."


Reza tercengang, bagaimana bisa istrinya berkata seperti itu. Perasaan Reza mulai tidak enak, dia menangkap sindiran dari kalimat istrinya yang terakhir.


"Apa mas tahu bagaimana rasanya tidur sendirian saat dingin dan gelap sedangkan suaminya lagi enak-enak bermesraan dengan wanita lain."


"Bagaimana aku harus mencium bau parfum wanita lain dibaju suamiku yang bahkan hampir setiap hari. Bagaimana rasanya melihat suamiku sedang bermesraan dengan wanita selingkuhannya di tempat umum, pergi belanja bersama bahkan membeli lingerie yang harusnya lebih pantas dipakai oleh istri sah nya, masuk ke hotel dan berhubungan s*x bukan hanya sekali tapi beberapa kali mas."


"Yang lebih parah lagi wanita itu kini mengandung, entah itu anakmu atau bukan, aku ga tahu dan aku ga peduli"


Rei menarik napas dan hembuskan, sebelum akhirnya kembali mengeluarkan uneg-uneg nya.


"Entah apalagi yang akan muncul setelah ini, setelah kalian menutupi pernikahan siri kalian, bahkan orang tuamu juga ikut andil dalam pernikahan itu. Mereka menyetujui pernikahan sirimu karena ingin memiliki cucu yang harusnya dari istri sahmu yaitu aku, dan berharap kamu akan berlaku adil pada istri-istrimu."


"Setelah ini apa lagi mas...apa lagi?" Rei berteriak, memukul dada suaminya, dia sangat marah, bahkan air mata yang keluar sudah membasahi wajahnya, yang terlihat memucat.


Reza tertegun bagaimana istrinya bisa tahu semuanya, semua kebohongan yang dia tutupi. Tapi dia lega, akhirnya Rei tahu meski bukan dari mulutnya sendiri.


Rei terisak, emosi yang dia pendam selama ini akhirnya keluar sudah, tak ada yang dia tutupi lagi. Entah bagaimana besok, yang penting hari ini dia sudah mengeluarkan semua isi hatinya yang mengganjal.


Reza mendekat, mendekap Rei membelai rambut hitamnya, mengelus punggungnya. Dan sesekali mengecup pucuk kepalanya.


Air matanya ikut membasahi pipinya, terbersit rasa bersalah yang selama ini dia bahkan tidak sadari itu.


Reza mencoba menenangkan istrinya, dia terlalu banyak mengabaikannya bahkan sangat sangat banyak.


Rei lalu berontak, keluar dari dekapan istrinya. Masih sesenggukan dan mata yang memerah.


"Katakan siapa dia mas, ceritakan" Rei mengucapkan dengan nada dingin.


Reza menatapnya, Rei membalas tatapan mata itu dengan tajam.

__ADS_1


"Dia Lia, asistenku yang baru beberapa bulan bekerja tepat setelah kita menikah. Dia cinta pertamaku, awalnya kita ketemu saat dia mengikuti sidang perceraiannya karena KDRT."


"Setelah pertemuan pertama kami, dia menghubungiku lagi mengatakan dia butuh pekerjaan. Dan karena aku sedang sibuk dan butuh asisten jadi dia mulai bekerja hari itu juga."


"Terus terang aku kembali menginginkannya, apalagi hubungan kami putus karena dia dijodohkan dengan laki-laki yang jadi suaminya itu."


"Kami ketemu tiap hari dan tiap saat, dan kita tidak menolak jika kami masih memiliki rasa yang sama."


"Dan akhirnya kami mulai intim, dan ya seperti yang kau katakan tadi. Iya itu semua benar."


Reza menghela napas, belum juga dia hembuskan napasnya. Rei kembali mencercanya dengan pertanyaan.


"Mas mencintainya kan?" Reza mengangguk pelan.


"Katakan apa hebatnya dia dibandingkan aku istrimu."


"Katakan"


Rei membentak, Reza terhenyak baru kali ini dia tahu sisi ganas istrinya saat marah.


"Dia...dia cantik, sexy dan manja." Reza


"Dan mas suka kan, berbeda jauh dengan istrimu ini" tegas Rei.


"Oh maksud mas, mas lebih suka wanita sexy yang manja, yang pintar menghangatkanmu di atas ranjang, dari pada wanita sederhana yang bahkan tidak tahu cara memuaskan suaminya, iya begitu?"


"Jawab mas"


Rei tak bisa lagi pelan, emosinya meledak lagi. Reza bingung harus menjelaskan. Akhirnya terpaksa dia ucapkan juga.


"Ya Rei, aku suka wanita yang manja karena aku merasa dibutuhkan. Sedangkan denganmu, kamu semua lakukan sendiri, kamu bahkan seperti tak membutuhkan aku."


"Jadi mas menyalahkanku, ya semua karena aku makanya mas bisa seenaknya berbuat dibelakangku."


"Kamu jahat mas, tega kamu sama aku."


"Kamu bisa kan bicara kalau kamu suka istrimu seperti apa, kita bahkan tak pernah ada pillow talk sebelum tidur, baru sekarang mas. Hanya sekarang kita berdua seperti ini."


"Kamu hanya datang, pulang itupun untuk tidur dan minta hakmu sebagai suami, ya kan. Tapi pernah ga kamu bertanya atau memintaku memakai baju favoritmu itu, tidak. Bahkan selama kita menikah aku bisa hitung berapa kali kita bercinta, bercinta tanpa rasa cinta karena tiap kali mas melakukannya selalu membayangkan orang lain."


"Bangun tidur kamu sudah terima beres semua keperluanmu, dan kamu senang kan aku melakukan itu. Aku memperhatikan semua kebutuhanmu."


Reza mengangguk, apa yang dikatakan Rei semuanya benar, dan dia harus akui itu.

__ADS_1


"Oke, sekarang mas maunya gimana. Aku akan terima keputusan mas" Rei


"Aku...aku ingin kamu tetap disini, disisiku sebagai istriku. Tapi aku juga tak bisa melepaskan Lia, aku mencintainya."


"Jadi mas ingin aku tetap jadi istri sah mas, tapi di sisi lain wanita itu juga istri mu, istri yang dinikahi dibawah tangan dan tanpa ijin dari istri pertama."


Dada Rei terasa sesak, sakit..


"Kamu laki-laki yang egois, tak bisa hidup hanya dengan satu wanita."


"Kamu membuat istrimu menjadi janda karena seorang janda, kamu sadar itu mas"


"Tidak...tidak seperti itu Rei, kalian berdua istriku. Sekarang dan selamanya, Rei."


"Cukup!"


"Sekarang pilih aku atau dia!"


"Jika kau memilihku maka tinggal kan dia, tapi jika kau memilihnya maka tinggalkan aku."


"Take it or leave it"


Rei tidak mau berkata lagi. Menangis dan menangis...dia hanya ingin menangis saja untuk saat ini.


Reza tak bisa menjawab, tiba-tiba suaranya tercekat. Reza kembali merangkul istrinya dan memeluknya.


"Aku mencintainya, dan aku tak bisa meninggalkannya karena sekarang dia sedang hamil anakku. Sedangkan aku..aku ingin kamu tetap disisiku karena aku membutuhkanmu."


Rei menggeleng, matanya sudah bengkak karena terlalu banyak keluar air mata. Ternyata hanya sebatas itu hadirnya dalam kehidupan suaminya. Tidak lebih.


Mereka berdua diam, Rei masih sesenggukan membuatnya sedikit sesak. Tak bergerak, tak menolak pelukan suaminya, baginya biarlah malam ini dia mengalah, karena esok dia yang akan ambil alih keadaan.


Beberapa saat kemudian Rei sudah terlihat tenang, meski masih terdengar sesenggukan tapi tidak ada pergerakan darinya. Reza melepaskan pelukannya dan melihat istrinya tertidur.


Dia lalu membaringkan istrinya, membetulkan posisi tidurnya, menyelimutinya, lalu mengelus kepalanya dan terakhir mengecup pucuk kepalanya.


Rasa bersalahnya kembali datang, ternyata selama ini dia terlalu sibuk dengan dunianya hingga melupakan istrinya, mengabaikannya yang jelas-jelas sah secara hukum dan agama, dan memilih bersenang-senang dengan wanita cinta pertamanya yang begitu menggoda.


###


Kayak gini nih yang bikin emosi, maunya diperhatikan tapi ga mau kasih perhatian. Sebel ga sih?


Wes...gantung lagi😁.

__ADS_1


__ADS_2