Haruskah Aku Menjanda (Lagi)

Haruskah Aku Menjanda (Lagi)
94. Sebuah kabar baik


__ADS_3

Rei dan Ardan tidak menemukan kedua orang tuanya diseluruh ruangan. Bibi terlihat tergesa masuk ke dalam rumah, sepertinya ada sesuatu.


Ardan memanggil bibi yang baru datang, bibi pun mendekat.


"Bi, papa dan mama kemana? kenapa sepi sekali." tanya Ardan.


"Maaf den, ibu dan bapak masih ada di rumah pak RT diujung jalan. Anak pak RT kecelakaan dan meninggal di tempat. Sekarang sedang dikafani." ucap bibi


"Innalillahi wa innailaihi rojiun" Ardan dan Rei menjawab bersamaan.


"Jadi bibi ikutan kesana tadi?" Ardan.


"Ya enggak lah mas, lah masak rumahnya ditinggal." Bibi


"Oh kirain" Ardan


"Bibi tadi masih ambil belanjaan di kang eman tukang sayur yang biasa mangkal di depan, tapi karena uangnya kurang ya bibi balik lagi mas"


Bibi lalu berlalu setelah menjelaskan, dia menuju dapur untuk membuatkan minuman bagi tuan muda dan istrinya.


Ardan dan Rei hampir saja meninggalkan rumah orang tuanya, tapi saat mereka mau naik ke mobilnya mama dan papa datang.


Rei dan Ardan lalu mencium tangan kedua orang tuanya, mereka itu lalu masuk kembali ke dalam rumah.


Cuaca yang terik membuat gerah, mama dan papa langsung ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian.


Papa dan mama langsung bergabung dengan Ardan dan Rei diruang tengah setelahnya. Mama menanyakan tentang liburan singkat mereka kemarin.


Rei antusias menceritakan semuanya tak terkecuali termasuk saat kedua bocah kembar Bayu dan Ratna yang tidak ingin pisah darinya.


Mama senang sekali mendengar cerita seru dari menantunya itu, meski sebenarnya agak waswas ketika ingat Ardan yang sempat panik sebelum keberangkatan mereka kemarin.


Mama berniat menanyakannya tapi melihat Ardan mengedipkan matanya sebagai kode agar menunda pertanyaannya.


Mama mengerti, dan menuruti Ardan. Mama lalu menanyakan Rei sudah makan atau belum. Ardan langsung setuju karena memang mereka belum sarapan.


Ardan lalu mengajak istrinya untuk ke dapur, bibi yang dari tadi memasak pun sudah menyiapkan makanan diatas meja makan.


Mama dan papa ikut makan, karena mereka memang belum sarapan. Tadi pagi setelah mendengar berita kematian putra pak RT dari masjid dekat rumah tempat papa dan mama biasa ikut sholat berjamaah.


Papa dan mama hanya pulang untuk berganti baju, lalu mereka menuju ke rumah pak RT bersama dengan tetangga yang lain.

__ADS_1


Mama mengambilkan makanan untuk papa, Rei melakukan hal yang sama untuk suaminya. Setelahnya barulah Rei mengambil mengisi piringnya sendiri.


Rei memasukkan banyak lauk kedalam piringnya, selain itu Rei juga menambah porsi nasinya. Papa dan mama yang baru melihat menantu mereka seperti itu cukup kaget, karena memang porsi makan Rei tidak terlalu banyak.


Dia lebih sering makan camilan jika merasa lapar diluar jam makan ya, dan hari ini mereka melihat perubahan dari menantunya itu.


Ardan yang sudah tahu mood istrinya hanya tersenyum melihat papa dan mama bengong. Ardan kembali memberi kode dengan meletakkan jari telunjuknya di depan mulutnya.


Papa yang melihat langsung menoleh ke arah mama, mama hanya mengangguk mengiyakan.


Mereka tidak banyak berkomentar, bahkan menawari Rei untuk menambah porsi makannya lagi, tapi Rei menolak.


Mereka kembali ke ruang tengah dan berbincang, sedangkan Rei membantu bibi membereskan meja makan dan mencuci piring kotor.


Bibi baru saja selesai membuat puding, dan siap memasukkan ke dalam kulkas. Rei yang melihatnya menjadi menelan salivanya.


Aroma stroberi yang harum serta potongan stroberi yang seakan melambai membuatnya ingin mencomotnya saat itu juga.


Tapi karena masih hangat tentu rasanya kurang sip, Rei mengurungkan niatnya. Bibi yang melihat gelagat Rei pun kemudian mengambilkan puding lain yang sudah mama buat kemarin.


Rei hampir saja meneteskan air matanya, tapi urung saat melihat bibi membawakan puding coklat kesukaannya.


Mama sengaja membuat puding coklat karena tahu Ardan dan Rei akan datang. Rei senang sekali dia langsung melahap puding dihadapannya.


Tanpa tahu jika nona mudanya itu sedang isi atau belum, bibi hanya teringat pada Dina yang sehabis makan puding selalu minta air hangat.


Rei kembali mengambil cup ketiga puding coklatnya. Bibi hanya menggeleng, tapi senang karena nona nya sudah tidak sedih lagi.


Lama Mama, papa dan Ardan mengobrol diruang tengah tapi Rei belum juga kembali dari dapur.


Bibi yang melintas didepan mereka akhirnya memberitahu jika Rei tadi sempat menangis saat melihat puding yang baru dibuat, karena masih akan dimasukkan ke lemari pendingin.


Mama dan papa saling berpandangan mendengar penuturan bibi, Ardan akhirnya menceritakan kejadian semalam yang membuatnya bingung sendiri, istrinya tiba-tiba menangis karena lapar.


Mama semakin yakin jika menantu nya itu sudah berisi, melihat bagaimana porsi makan Rei yang tidak biasa. Mama senang akhirnya sebentar lagi dia akan menggendong cucu lagi.


"Dan, kamu ga lupa kan dengan pesan mama kemarin?" tanya mama kemudian.


"Ardan membeli tes pack kan?" Ardan balik tanya.


Mama mengangguk.

__ADS_1


"Beres ma, tenang aja. Ardan belikan dari yang biasa sampe yang paling mahal. Yang hasilnya akurat dan mengambang juga ada."


Ardan menggoda mamanya, tak pelak mamanya langsung menghadiahi pukulan di lengannya.


"Hus...ngawur kamu, pake acara mengambang segala. Apaan coba"


Mama menyembikkan mulutnya, Ardan menggendikkan bahunya dan tertawa, disusul papa yang sejak tadi menahan tawanya agar tidak merusak jalan cerita antara ibu dan anak ini.


"Kan bener ma, kalo semua merek mengatakan yang terbaik, trus yang jelek apa? ga ada yang mau ngaku karena mereka bisa rugi ga ada yang beli." Ardan


"Dasar kamu..." mama mencubit lengan Ardan.


"Sakit ma, aduh nanti istriku nangis kalo lihat banyak bekas cubitan seperti ini." Ardan mendramatisir keadaan.


"Halah, paling itu akal-akalan kamu aja. Ingat besok pagi dipake tes pack nya biar ga penasaran." mama


"Siap ma...beres pokoknya." Ardan menaikkan tangan kanannya pertanda hormat.


"Jangan beres mulu, awas kalo lupa mama kutuk jadi jelek kamu." Mama memalingkan wajahnya.


"Ih mama, masak gitu. Hilang dong pamor Ardan sebagai cowok terganteng dikompleks ini. Mama ga seru ih." Ardan.


"Biarin...biar kapok." Mama


Dan beginilah jika mama dan anak ini lagi kumat isengnya, untung si bungsu tidak ada disana, bisa sakit perut mereka dibuatnya.


Papa tak mau ikutan, beliau hanya tertawa melihat kekonyolan pasangan ibu dan anak ini. Biasanya papa akan ikutan gila dengan banyolan nya.


"Udah ah, mama capek. Awas loh Dan mama tunggu besok pagi. Dan semoga sebuah kabar baik." ucap mama lagi.


Belum sempat Ardan menjawab, tiba-tiba bibi mengatakan jika Rei pingsan di kamar mandi belakang dekat dapur setelah memuntahkan semua makanannya.


Ardan langsung berlari mencari keberadaan istrinya, dia sangat kuatir. Setelah menemukan Rei, Ardan lalu membawanya ke kamar tamu karena yang terdekat dengan dapur.


Mama menyusul Ardan sambil membawa minyak kayu putih, sedangkan papa sudah menelpon dokter keluarganya.


Ardan membaringkan istrinya diranjang, wajah Rei terlihat pucat. Ardan sangat kuatir dengan kondisi istrinya.


Tak lama dokter datang, bibi mengantarkannya ke kamar tamu. Ardan dan mama tetap setia menemani Rei saat dokter memeriksanya.


Dokter tersenyum, kemudian mengucapkan selamat kepada Ardan dan mamanya. Tapi dokter mengatakan jika mereka harus memeriksakannya ke dokter obgyn untuk lebih detail.

__ADS_1


Next


__ADS_2