Hasrat Terlarang Abangku

Hasrat Terlarang Abangku
Bab 10 Hasrat Terlarang Abangku


__ADS_3

Gerald terhempas di samping Nayla, sementara Nayla hanya bisa pasrah, tenaga nya terkuras untuk mengimbangi permainan sang Abang, benci, marah, tertekan, kecewa menjadi satu, air mata itu kini sudah mengering, Nayla berbaring membelakangi Gerald, keduanya dalam keadaan yang masih polos, peluh dan keringat telah membasahi seluruh tubuh keduanya, bercampur menjadi satu, Gerald menoleh ke arah sang Adik, melihat punggung Nayla yang putih bersih, Gerald mengecup nya dengan lembut.


Nayla yang merasakan sebuah kecupan di belakang punggungnya, Ia pun segera menjauh dari Sang Kakak sembari menarik selimut untuk Ia tutupkan pada tubuhnya.


"Jangan sentuh! Nay jijik sama Abang," Nayla menjauhkan dirinya dari tubuh sang Abang, sementara Gerald berusaha meminta maaf kepada Nayla.


"Maafkan Abang! Abang udah khilaf,"


"Khilaf! Khilaf kata Abang. Abang sengaja kan melakukan itu? Abang udah jahat sama Nay, Nay nggak nyangka jika Abang tega banget sama Adik sendiri, sekarang hidup Nay sudah hancur, masa depan Nay gelap, Abang udah menghancurkan semuanya." Nayla berkata sembari menundukkan wajahnya dengan memegangi selimut nya agar tidak terjatuh.


"Nay! Abang ...."


"Pergi! Lebih baik Abang pergi dari sini, Nay nggak mau lihat muka Abang, pergi Bang!" titah Nayla mengusir Gerald dari kamarnya.


Gerald tahu perasaan sang Adik, dia sudah memperkirakan sedari awal, jika Nayla pasti marah jika Gerald melakukan nya lebih awal, tapi Gerald tidak punya pilihan lain, mau tidak mau Nayla harus dibuat seperti itu, agar tidak ada laki-laki yang menyentuh Nayla terlebih dulu, dan tentu saja Gerald mempunyai maksud lain dari semua itu, karena Ia tahu jika Nayla hanya akan menjadi miliknya.

__ADS_1


Gerald mengambil celananya kembali, kini Ia hanya bertelanjang dada dengan meletakkan bajunya di atas pundak. Gerald menoleh ke arah Nayla yang sama sekali tidak mau melihat nya, sejenak Gerald mendekati Nayla dan menatap wajah sang Adik, memaksa Nayla membalas tatapan mata Gerald yang seakan tidak merasa berdosa telah melakukan hal tak senonoh itu.


"Satu hal yang belum kamu sadari, semua ini Aku lakukan hanya untuk mu, Nay! Suatu hari nanti kamu akan mengetahuinya, Aku tahu jika kamu sangat menikmati permainan kita, iya kan?" seketika Nayla memalingkan wajahnya, memang tidak bisa dipungkiri Nayla pun ikut menikmati percintaan nya dengan sang Kakak, meskipun awalnya Ia menolak dan berontak, tapi kelembutan Gerald membius Nayla sehingga rasa sakit itu hilang begitu saja.


Gerald menyunggingkan senyumnya, sekilas Ia melihat noda darah pada sprei Nay yang berwarna putih itu, ternyata memang benar dirinya adalah orang yang pertama yang menyentuh sang Adik, Gerald berjalan menghampiri Nayla, kemudian Ia mencium kening Nayla dengan lembut, walaupun akhirnya Nayla menghindari kecupan dari Gerald.


"Aku akan keluar, istirahatlah! Ingat hanya kita berdua yang akan menyimpan rahasia ini, bahkan Bi Jum atau Oma Hera sekali pun, tidak akan tahu tentang hubungan kita."


Setelah mengatakan hal itu, Gerald pun segera membuka kunci dan dirinya keluar dari kamar sang Adik, dengan keadaan rambut yang masih acak-acakan karena tangan Nay yang merremas rambut sang Kakak. Gerald tetap santai masuk ke dalam kamar nya yang letaknya tidak jauh dari kamar Nayla.


Gerald tersenyum puas, tidak ada penyesalan sama sekali pada wajah tampan pria itu, tak ada cara lain untuk memiliki Nayla Kalau bukan dengan cara seperti ini, pungkasnya.


Hingga akhirnya sebuah dering telepon mengagetkan Gerald yang sedang membayangkan percintaannya dengan Nayla yang baru saja terjadi.


Gerald beranjak duduk dan mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Sejenak Ia melihat siapa yang sedang menghubunginya.

__ADS_1


"Oma Hera!" Gerald segera mengangkat telepon dari Sang Oma.


"Halo Oma!"


"Halo Gerald Sayang! Oma sangat kangen sekali sama kamu, oh ya Gerald! Bulan depan Oma akan kembali pulang, dan tentunya perjodohan mu dengan Moza akan segera Oma dilakukan, Oma akan mempercepat hari pernikahan kalian."


"Apa Oma? Menikah? Tapi Oma, Gerald tidak mencintainya, Oma tahu itu."


"Oma tidak mau tahu ya, Oma ingin kamu menikah dengan wanita pilihan Oma, karena Oma tidak setuju kamu menikah dengan Nayla, ingat! Dia Adik kamu, meskipun dia bukan Adik kandung mu, tapi Oma tetap tidak menyetujuinya, ingat itu!"


"Tapi Oma ... Aku sudah men ...." Gerald tidak melanjutkan kata-katanya karena Hera selalu menyelanya.


"Pokoknya nggak ada tapi-tapian, apapun alasan mu, Oma tetap tidak setuju kamu mencintai Nayla, bagaimana kata orang-orang nanti, itu akan membuat aib keluarga, Nayla sudah mendapatkan hak sebagai anak kandung dari Almarhum Papa dan Mama mu, semua dokumen resmi menyatakan jika Nayla adalah anak kandung dari Sudarsono, Oma tidak mau kamu mencoreng nama baik keluarga Adams, jadi apapun itu kamu harus menikah dengan wanita pilihan Oma, titik!"


Setelah mengatakan hal itu, Hera menutup teleponnya, Gerald pun dibikin pusing setengah mati dengan keputusan sang Nenek yang akan menjodohkan nya dengan Moza, teman masa kecil Gerald.

__ADS_1


"Shiiit! Bagaimana mungkin Aku meninggalkan Nayla, itu tidak mungkin, Aku sudah terlanjur cinta kepada Nayla, bahkan Aku sudah terlanjur melakukan itu padanya, dan Aku tidak akan pernah meninggalkan nya begitu saja, Nayla adalah tanggung jawab ku, karena bagaimana pun juga dia adalah istri ku." ucapnya lirih.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2