Hasrat Terlarang Abangku

Hasrat Terlarang Abangku
Bab 119 HTA


__ADS_3

"Kamu ingin bicara apa?" Sharen menatap wajah sang Adik penuh tanda tanya. Kemudian Shanum mengeluarkan salah satu anting-anting milik Sharen yang Ia dapatkan dari Al kemarin malam.


"Ini punya kakak, kan?" ucap Shanum sambil meletakkan anting-anting itu di atas telapak tangannya. Seketika Sharen sangat terkejut ketika melihat anting-anting miliknya ada di tangan Shanum.


"Shanum? Darimana kamu dapatkan ini?"


Shanum tersenyum dan menceritakan semuanya tentang apa yang Ia ketahui.


"Sekarang! Kakak jujur deh sama Shanum, Kakak mencintai Mas Al, kan?" seketika Sharen gugup dan salah tingkah, bagaimana bisa Shanum menanyakan tentang hal itu.


"Apa maksudmu, Sharen? Itu tidak mungkin lah, kamu tahu sendiri jika Aku dan Al dari dulu tidak pernah akur, nggak mungkinlah Kakak punya perasaan itu. Ada-ada saja kamu."


"Udah deh, Kak! Nggak usah berkelit lagi. Shanum udah mengerti semuanya, pria yang menolong Kakak adalah orang yang sama yang sudah menemukan anting-anting ini, dan dia adalah Mas Al. Dan kakak ngga bisa bohong lagi."


"Shanum!!!!"


Sharen pun tidak bisa berkata apa-apa, Shanum sudah mengatakan semuanya tentang dirinya dan Al, dan Ia pun tidak bisa membohongi Shanum lagi.


Shanum mendekati sang Kakak dan mengatakan sesuatu yang membuat Sharen tidak percaya.


"Aku datang kesini, meminta Kakak untuk menggantikan posisi ku sebagai mempelai wanita, karena hanya kakak yang bisa menjadi istri Mas Al, bukan Aku." seketika Sharen menatap wajah sang Adik.


"Shanum! Apa maksudmu?"


"Harusnya sekarang Kakak lah yang jadi pengantin wanita nya, dan sekarang Aku sudah meminta Mbak-mbak ini untuk merias Kakak. Aku juga ingin membuat kejutan untuk Mas Al. Plis Kakak! Tolong penuhi permintaan Shanum!"


Sharen seketika memeluk sang Adik, yang sudah iklhas melepaskan Al untuk kakaknya, air mata Sharen tidak bisa dibendung lagi, air mata kebahagiaan yang akhirnya bisa menyatukan kakak beradik itu.


"Kamu yakin menyerahkan Al untuk kakak? Tapi, kamu sangat menyukai Al."


"Ayolah, Kak! Aku cuma sebatas mengagumi Mas Al saja, soal cinta tidak bisa dipaksakan. Sebelum Aku terlalu mengagumi Mas Al, sebaiknya Aku hentikan itu semua. Karena Mas Al dan Kakak adalah jodoh. Kalau dipaksakan untuk menikah dengannya, yang ada kita semua akan menderita. Baik kakak ataupun Mas Al. Bahkan Aku yang paling tersakiti, punya suami tapi ternyata suamiku mencintai wanita lain. Nggak fair, kan!"

__ADS_1


Akhirnya, hari itu juga Sharen di make over oleh perias pengantin itu, sementara Shanum tampak menemani Sang kakak dan membantu nya memakai gaun pengantin yang dibelikan oleh Al.


Setelah beberapa menit, akhirnya Sharen berubah menjadi putri yang sangat cantik, dalam balutan gaun pengantin itu. Sharen terlihat begitu anggun, rupanya gaun itu sangat pas dikenakan oleh Sharen, karena ukuran tubuh Sharen sama dengan ukuran tubuh Shanum. Sehingga gaun tersebut sangat pas dan cocok di kenakan oleh Sharen.


"Waaahhhh! Kakak cantik banget! Aku yakin sekali jika Mas Al tidak akan bisa mengenali wajah Kakak, pasti dia mengira jika kakak adalah Aku." ucap Shanum saat melihat perubahan Sharen setelah memakai gaun pengantin miliknya.


"Terus! Kamu pakai apa?" Sharen pun bertanya kepada sang Adik.


"Ya pakai ini dong, Kakak! Kebaya Kakak biar Aku yang pakai. Nggak bakalan ada yang ngenalin kalau kita bertukar tempat kecuali Mama dan Papa, hehehe. Dan Mama sama Papa pasti sangat setuju dengan keputusan kita, jika Aku menceritakan yang sebenarnya kepada mereka, mereka pasti bisa memaklumi."


*


*


*


Sementara di tempat lain, Al sudah bersiap untuk segera pergi ke rumah calon pengantinnya, Ia pun terlihat begitu tampan dan gagah dengan jas pengantin berwarna broken white, sangat cocok pada warna kulit Al yang putih bersih dengan bulu-bulu halus di sekitar rahangnya. Sungguh putra Nayla dan Gerald itu sangatlah tampan mempesona. Namun, dibalik pesona nya. Al memendam perasaan yang membuatnya tidak bisa tenang. Haruskah Ia menikah dengan Shanum, sementara dalam hatinya ada Sharen.


"Sharen ... Sharen! Kenapa Aku tidak bisa melupakan mu?"


Di saat yang bersamaan, Gerald datang menghampiri putranya dan terlihat menepuk pundak sang Anak.


"Al, coba lihat! Kamu terlihat gagah sekali, Papa bangga padamu." seru Gerald sembari berdiri sejajar dengan putranya.


"Terima kasih, Pa!" jawabnya sembari menundukkan wajahnya. Gerald melihat ada sesuatu yang disembunyikan oleh puteranya itu, dan Ia pun mencoba bertanya kepada Al tentang apa yang sebenarnya terjadi.


"Kamu kenapa? Kamu tidak bahagia?" pertanyaan itu sontak membuat Al menatap wajah sang Ayah.


"Apa maksud, Papa?"


"Kamu jangan membohongi Papa, Al! Papa tahu jika Shanum bukanlah pilihan hatimu. Kamu menyukai Sharen, kan?" rupanya pertanyaan sang Papa membuat Al salah tingkah.

__ADS_1


"Emm ... enggak mungkin lah, Pa! Al suka dengan gadis itu. Papa tahu sendiri jika Sharen itu ya ... begitulah, sering sekali membuat Al kesal." ucap Al yang mencoba mengelak dari perasannya.


"Yakin? Kesal apa cinta?" Gerald terus menggoda anaknya yang jelas-jelas sedang galau.


"Ya gitu lah, Pa." jawabnya sembari bingung harus berkata apa.


"Dengarkan Papa, Al! Kamu sebentar lagi akan menikah dengan salah satu putri Tante Moza, dan Papa berharap kamu tidak salah pilih, mantapkan hatimu untuk menikah dengan siapa, jangan sampai kamu menyesal. Karena pernikahan mu ini akan berjalan selamanya. Sudah! Sekarang kamu segera keluar. Kita akan berangkat sekarang. Ingat pesan Papa! pikirkan baik-baik pilihan mu, karena Papa tahu kamu sedang bimbang memilih antara Shanum atau Sharen."


Setelah mengatakan hal itu, Gerald pun segera pergi meninggalkan kamar Al. Dari ucapan sang Papa, Al pun akan mengikuti petunjuk Gerald.


"Baiklah, Pa! Papa memang benar. Aku harus memutuskan dengan siapa Aku akan menikah." ucap Al yakin.


*


*


*


*


Al dan sekeluarga akhirnya tiba di rumah calon pengantinnya, kedua belah pihak keluarga terlihat begitu bahagia, akhirnya mereka akan menyaksikan penyatuan ikatan pernikahan untuk mempererat tali persaudaraan antara dua keluarga. Jordan menyambut kedatangan calon menantu dan calon besan mereka dengan ramah.


Sementara itu Moza pun segera memanggil Shanum untuk segera turun dan menemui calon Suaminya. Moza membuka pintu kamar Shanum, dilihatnya Shanum yang tengah memakai gaun pengantin yang sangat indah. Moza pun menghampiri sang anak yang saat itu sedang bersama Sharen yang juga sedang memakai ku kebaya yang senada dengan Moza.


Kedua anak kembar itu belum membalikkan badannya kearah Moza, sehingga Moza masih menganggap jika Sharen adalah Shanum.


"Shanum, ayo kita turun! Calon suamimu sudah menunggu. Sharen! Ayo damping adikmu untuk segera turun." titah sang Mama kepada kedua putri kembarnya.


"Iya, Ma!" keduanya menjawab secara bersamaan. Dan keduanya pun berbarengan membalikkan badan ke arah sang Mama. Seketika Moza pun membulatkan matanya saat melihat kedua putrinya menghadap ke arahnya.


"Sharen! Shanum!"

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2