Hasrat Terlarang Abangku

Hasrat Terlarang Abangku
Bab 79 HTA


__ADS_3

Gerald menyeringai, kali ini Ia bebas melakukan apa saja kepada Nayla, Ia tak perlu lagi sembunyi-sembunyi, hanya saja mungkin saat ini sang Oma lebih protektif terhadap Nayla, karena istrinya itu tengah mengandung buah cinta mereka.


"Bang! Nanti Oma bangun gimana?" Nayla bertanya sembari kedua orang berada di atas dada bidang sang suami.


"Nggak akan! Oma tidak akan bangun untuk beberapa jam, jadi kita bebas sekarang!"


"Tapi, kasihan Oma, Bang!"


"Apa Kamu juga nggak kasihan sama Aku? Dari beberapa hari ini Aku ngga bisa ketemu sama istriku sendiri, giliran sudah bisa ketemu, pakai drama puasa segala, Abang nggak bisa puasa, Nay! Abang tuh nggak kuat. Kalau puasa nahan makan sama minum Abang pasti bisa, tapi nahan untuk tidak mendekati mu itu yang Abang sulit untuk melakukannya." Gerald berkata sembari menyelipkan rambut Nayla yang terjatuh di wajahnya.


"Iya Nay ngerti! Tapi Oma udah tua, Bang! Kasihan. Abang ini keterlaluan banget sih, masa Oma sendiri di kasih obat tidur."


"Kalau nggak gitu, bisa-bisa Oma jadi security kamu terus sepanjang malam, Abang nggak bisa dong menjenguk baby kita, iya kan sayang?" Gerald berjongkok di depan Nayla, mencium perut Nayla yang masih rata itu.


Nayla tersenyum dan mengusap lembut rambut sang suami.


"Dasar Abang! Selalu saja nggak sabaran." celetuk Nayla sambil menarik sedikit rambut Gerald, membuat pria tampan itu meringis seketika.


"Aissss ... sakit, Nay! Kamu tuh ya, bikin Abang pingin ngamuk aja deh!" Gerald pun terlihat menggelitik pinggang Nayla, alhasil Nayla pun tertawa dan terlihat menggeliat kegelian.


"Abang geli ah! Iya iya ampun!" rengek Nayla sembari sang suami merebahkan tubuhnya di atas ranjang tidur mereka.

__ADS_1


"Nggak ada kata ampun! Pokoknya kamu harus mendapatkan hukuman dari Abang!"


Setelah beberapa saat Nayla menggeliat kegelian karena Gerald tengah menggelitik pinggangnya, kini ekspresi wajah Nayla berubah bukan ekspresi menahan rasa geli karena pinggangnya yang digelitik, tapi kegelian sambil menggigit bibir bawahnya dan sesekali merremas sprei ranjang tidur mewah itu.


"Abang ... kamu ah ....!"


Sensasi rasa itu kian membuat Nayla menggelengkan kepalanya saat lidah itu menggelitik bukan lagi pada pinggangnya, tapi pada tempat yang paling disukai oleh suaminya, entah sejak kapan kepala Gerald berada di antara pangkal paha Nayla, bergerak-gerak lembut dan semakin membuat ekspresi wajah Nayla meremang.


"Ahhh ... geli, Bang! Plis stop Aku mau pipis!" rengek Nayla sembari melihat ke arah kepala sang suami yang terus bergerak-gerak menyusuri daerah terlarang itu, menikmatinya seperti menikmati sebuah makanan lezat.


Tak berselang lama Nayla terengah-engah saat sang suami berhasil membuatnya mencapai puncaknya, setelah melihat istrinya puas kini tiba saatnya Gerald untuk menjelajahi tempat favoritnya, sebuah gua yang terawat begitu sempurna, tak ada rerumputan di sana, bersih dan bebas dari gulma yang menghalangi pintu masuk gua yang bewarna pink cerah itu.


Pria itu menyeringai, sudah waktunya dia membenamkan diri untuk menikmati hakikat percintaan yang sesungguhnya, pertautan dua jiwa yang saling mencintai, saling memberi energi positif, tentu saja rasa cinta itu kian subur dan kini telah bersemi menjadi tunas yang akan tumbuh subur dalam kandungan Nayla, malam itu mereka melewati sekian malam romantis tanpa ada beban, karena semua rintangan telah berhasil mereka lalui, hanya saja besok di sekolah Nayla harus mengahadapi kepala sekolah dan dewan guru untuk masalah video dirinya dan Gerald.


Pergumulan itu semakin menggairahkan, Gerald pun bergerak tidak seperti biasanya, Ia lebih lembut dan lebih tidak banyak tingkah, agar sang istri bisa rileks dan tidak terlalu terbebani dengan gerakan brutal yang biasa Gerald lakukan sebelum Nayla hamil.


Hingga akhirnya Gerald pun mulai merasa ingin memuntahkan lahar panasnya, Ia pun segera mencabut nya dengan cepat dan segera memasang sarung pengaman agar lava pijar miliknya tidak masuk ke dalam rahim Nayla, Ia sangat menyayangi bayi mereka, demi agar kehamilan Nayla tetap aman, Ia rela jika kenikmatannya harus berkurang dengan menggunakan sarung pengaman, karena tentu saja hal itu sangat berbeda di saat Gerald tidak memakai sarung pengaman, Ia lebih bebas dan lebih dalam untuk menyemprotkan lava pijar itu ke dasar rongga rahim sang istri.


Ritem gerakan lebih cepat ketika rasa untuk menuju titik puncak mulai tiba, hingga akhirnya setelah sekian detik, Gerald maupun Nayla berhasil mencapai puncak tujuan utama, Gerald mencium kening istrinya dengan mesra, setelah keduanya selesai, akhirnya mereka tertidur pulas, sejenak mereka lupa jika sang Oma tentu tidur sendirian.


Waktu pun berjalan begitu cepat, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul empat pagi, Nayla yang saat itu tidur dengan posisi miring dengan sang suami yang memeluknya dari belakang, tiba-tiba dirinya mulai terjaga, Nayla melihat tangan Gerald yang melingkar pada pinggangnya dengan selimut tebal yang menutupi tubuh keduanya.

__ADS_1


Nayla berusaha menyingkirkan tangan Gerald dan Ia pun melihat ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul empat pagi. Seketika Nayla membelalakkan matanya, Ia harus segera pergi ke kamar Hera, agar sang Oma tidak memarahi suaminya.


Nayla segera membangunkan Gerald agar mereka berdua cepat-cepat segera datang ke kamar Oma Hera, mereka takut jika saja sang Oma sudah bangun lebih awal, mengingat hari sudah mulai pagi.


Akhir Gerald maupun Nayla keluar dari kamar dan segera pergi ke kamar sang Oma, sesampainya di kamar sang Oma. Baik Gerald maupun Nayla melihat Hera masih tertidur pulas, mereka berdua bisa bernafas dengan lega, akhirnya mereka berdua kembali tidur dengan posisi awal, Nayla tidur di samping sang Oma. Sementara Gerald kini berpindah tidur di bawah tempat tidur dimana Nayla berada.


Gerald mengambil kasur busa dan bantal juga selimut, kemudian Ia tidur di bawah Nayla, Ia lakukan itu agar bisa menyentuh tangan istrinya saat tidur.


"Abang, ngapain tidur di bawah?" Nayla melihat sang suami yang sedang merebahkan tubuhnya di kasur bawah.


"Ya tidur, Nay! Kamu pikir Abang lagi berak." jawabnya spontan.


"Huuu ... Abang gila!" Nayla melemparkan Gerald dengan sebuah bantal sehingga mengenai wajah tampannya.


Gerald tertawa melihat ekspresi wajah Nayla, Ia pun segera menarik tangan Nayla dan menggenggamnya sebelum dirinya berangkat tidur, sehingga mereka berdua tidur dengan tangan yang masih menyatu.


Sampai di pagi hari, tentu saja Hera mulai membuka kedua matanya, Ia melihat di sampingnya, Nayla yang masih tertidur pulas, sementara dirinya tidak melihat Gerald yang semalam sedang tidur di sofa.


"Loh! Kemana tuh anak!" Hera segera turun dari tempat tidur dan Ia memeriksa sekeliling, memastikan dimana keberadaan sang cucu. Hingga akhirnya Hera dibuat terkejut melihat Gerald yang tidur di bawah istrinya dengan satu tangan mereka masih saling menggenggam.


Hera tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Astaga! Nih anak ... bisa-bisanya dia tidur di sana, hmmm tapi nggak apa-apa, yang penting dia tidak mengganggu Nayla!" ucap Hera sembari tersenyum.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2