
"Jangan bersedih, Aku akan berusaha meyakinkan Oma agar mau merestui hubungan kita berdua, karena bagaimanapun juga Aku sudah menikahi mu Nayla, dan Aku harus bertanggung jawab penuh atas kehidupan mu, Aku tidak perduli meskipun Oma melarangku, Aku akan tetap mempertahankan mu, itu janjiku padamu!" Gerald memeluk Nayla penuh kasih.
"Aku khawatir saja jika Oma benar-benar menentang hubungan kita." ucap Nayla sembari membenamkan wajahnya pada dada bidang Gerald.
"Sssttt! Jangan katakan itu lagi, selama Aku masih bernafas, selama nyawa ini masih berada dalam tubuhku, Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun untuk memisahkan kita berdua, termasuk Oma Hera, Aku sudah berjanji kepada Mama, Papa dan juga Ayahmu jika Aku tidak akan pernah meninggalkan mu, Nayla! Sampai kapan pun Aku akan selalu bersamamu." Nayla menangis haru mendengar ucapan Gerald. Dan Gerald pun menghapus air mata itu dengan lembut.
"Jangan menangis, tersenyum lah! jangan tunjukkan wajah sedih mu padaku, suatu saat Aku pasti buktikan kepada semua orang jika hubungan kita bukanlah Kakak beradik, Aku akan mematahkan stigma jika kita berdua melakukan hubungan terlarang, mereka semua akan tahu jika kamu bukanlah Adik kandung ku." seru Gerald sembari mengusap lembut wajah Nayla, gadis itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Gerald pun mulai mendekati bibir Nayla, gadis itu terlihat menghindarinya, Ia masih belum terbiasa dengan apa yang dilakukan oleh Gerald padanya.
"Kenapa kamu menghindari ku?" tanya Gerald serius.
"Maaf, Bang! A-aku tidak biasa melakukan ini." jawab Nayla dengan malu-malu. Gerald tersenyum kemudian Ia menangkup wajah Nayla dan menatapnya dalam-dalam.
"Sekarang Aku adalah suami mu, jadi untuk apa kamu harus malu, bukankah kamu sudah pernah merasakannya, Nay?" sontak Nayla melepaskan tangan Gerald dari wajahnya, Nayla terlihat panik, sungguh hatinya benar-benar berdegup dengan kencang.
"Hehehe, em ... Aku pergi ke kamar dulu, Bang! Sudah malam. Besok Aku harus sekolah." Nayla terlihat menghindari Gerald, Ia tahu Gerald sedang merayu nya. Nayla pun dengan cepat beranjak pergi keluar dari ruangan itu. Tapi, lagi-lagi Gerald menahan tangan Nayla dan Ia dengan cepat menarik tangan itu hingga Nayla masuk ke dalam pelukan Gerald.
"Kamu mau kemana, Nay?"
"Nay-Nayla mau ke kamar, Bang!"
Gerald menyunggingkan senyumnya, tatapan mata itu begitu liar, Gerald tampak menarik resleting baju yang Nay kenakan hingga kebawah. Nay mengeratkan genggaman nya pada lengan Gerald, karena Ia tahu apa yang akan dilakukan pria itu kepadanya.
__ADS_1
*
*
*
Setelah cukup lama Nayla dan Gerald berada di dalam ruangan kerja, perlahan pintu itu mulai terbuka, Nayla tampak sedang merapikan bajunya dan terlihat menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah dirinya memastikan tidak ada orang yang melihatnya keluar dari ruangan kerja Gerald dalam kondisi rambutnya yang acak-acakan. Setelah memastikan kondisi aman, Nayla segera menutup kembali pintu dan Ia segera berlari menuju ke kamarnya. Sedangkan Gerald masih berada di dalam ruangan kerjanya, Ia tampak kelelahan, entahlah apa yang sedang mereka berdua lakukan di dalam sana.
Setelah tiba di depan kamarnya, Nayla kembali menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada siapapun yang melihat dirinya, "Ah ... aman!" Nayla segera membuka pintu kamar nya, sejenak Ia menyandarkan tubuhnya pada daun pintu kamar yang sudah Ia tutup. Nafasnya terlihat naik turun diikuti oleh senyuman tipis pada wajahnya. Senyum malu-malu saat dirinya mengingat kejadian yang baru saja Ia lakukan bersama suaminya.
Sementara di luar kamar, Bi Jum terlihat begitu terkejut dengan apa yang baru saja Ia lihat, sejenak Bi Jum curiga jika Gerald dan Nayla sedang terlibat sebuah hubungan, mengingat Nayla keluar dari ruangan Gerald dalam keadaan berantakan.
"Astaga! Apa jangan-jangan mereka? Tidak-tidak semoga saja dugaanku salah, jika Nyonya besar tahu, dia tidak akan membiarkan ini terjadi, terus bagaimana dengan keadaan Non Nayla? Nyonya besar pasti akan mengusir Non Nayla, kasihan Non Nayla, Aku harus merahasiakan nya jika memang benar merupakan berdua ada hubungan, jangan sampai Nyonya besar tahu." batin Bi Jum yang curiga dengan hubungan Gerald dan Nayla yang lebih dari sekedar Adik dan kakak, lebih tepatnya Bi Jum curiga jika mereka berdua terlibat hubungan asmara.
Keesokan harinya, seperti biasa Nayla pergi ke sekolah dan Gerald pun pergi ke kantor, meskipun mereka suami istri, tapi mereka tetap profesional, mereka tidak mau menunjukkan bahwa mereka adalah pasangan halal, setidaknya sampai orang-orang tahu kebenarannya tentang siapa Nayla sebenarnya, dan tentu juga sampai Gerald meyakinkan Oma Hera jika Dia telah menikahi adik angkatnya itu.
"Apa sih, Abang! Godain mulu." jawabnya sembari malu-malu.
"Mulai sekarang mungkin setiap hari rambut mu akan selalu basah, jadi kamu harus terbiasa dengan kebiasaan baru kita." ucap Gerald dengan senyum smirk nya.
"Kebiasaan baru? Yang mana?" tanya Nayla pura-pura. Tanpa banyak bicara Gerald langsung mendaratkan ciumannya pada bibir Nayla, merasakan bibir manis sang Adik sekaligus istrinya. Sesaat Gerald melepaskan ciuman itu dan berkata kepada sang istri. "Kebiasaan di saat Aku dan kamu melebur menjadi satu, saat hasrat ini sudah tak terhalang lagi." ucapnya sembari menempelkan kening keduanya.
Nayla pun segera menjauhkan dirinya, karena Ia takut jika ada yang melihatnya. "Nanti ada yang lihat, Bang! Nggak enak!" Gerald pun mulai duduk kembali di kursi kemudi nya sembari merapikan dasi dan jasnya.
__ADS_1
"Baiklah! Sekarang kita berangkat!" Gerald segera melajukan mobilnya ke jalan raya, di tengah perjalanan Gerald tiba-tiba menanyakan tentang Rio, pacar Nayla.
"Oh ya, Nay! Apa kamu masih berhubungan dengan Rio? Pacar kamu itu?" tanya Gerald sembari menatap lurus ke depan tanpa ekspresi, Nayla tahu jika suaminya masih cemburu dengan Rio.
"Tidak! Aku sudah putuskan dia, apa sekarang Abang senang?" Nayla menatap wajah Gerald serius.
"Putus? Katanya kamu tidak mau putus sama Rio? Katanya kamu cinta banget sama dia, kok sekarang mendadak kamu memutuskan dia? Aneh?"
"Yang aneh itu Abang, giliran Aku belum putus dengan Rio, Abang marah-marah. Sekarang Aku sudah putus dengan Rio, dibilang nya aneh, gimana sih Abang." balas Nayla sembari mengerucutkan bibirnya.
"Ya aneh aja, kok secepat itu kamu putus kan dia, biasanya cewek tuh ngambeknya lama, mikirnya juga lama, nunggu tersakiti dulu baru menyesal, apa kamu sudah mengetahui kebusukan nya?" celetuk Gerald menebak.
Nayla tertunduk, Ia pun beruntung mengetahui kebusukan Rio sebelum dirinya terlalu jauh mencintai Rio.
"Mungkin juga itu salah satunya, tapi ada hal yang lebih penting lagi, yaitu suamiku. Aku baru sadar kenapa suamiku tidak suka jika Aku berhubungan dengan laki-laki itu. Ternyata semuanya sudah terbukti, Aku lihat dengan mata kepala ku sendiri perbuatan bejat Rio dan Neli. Maafkan Nay, Bang! Nay udah egois, Nay belum bisa memahami apa yang Abang maksud, apa Abang mau memaafkan Nay?" Gerald tersenyum dan mencium tangan Nayla.
Tiba-tiba saja ponsel Gerald berdering, Ia pun segera mengangkatnya, Ia melihat ternyata sang Oma sedang meneleponnya.
"Oma!" Gerald menatap wajah sang istri. Gerald mengeraskan loud speaker agar Nayla juga bisa mendengarnya.
"Halo Oma!"
"Halo Gerald Sayang! Hari ini Oma ada kejutan untuk Kamu, sekarang Oma sedang menuju ke rumah kalian, Oma memutuskan akan tinggal di sana menemani kamu sampai kamu menikah dengan Moza, dan setelah kalian menikah maka Oma akan kembali ke Jakarta, jadi kamu harus mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Moza, calon istri mu!"
__ADS_1
Gerald dan Nayla saling menatap saat Oma Hera menyebut Moza sebagai calon istri Gerald.
...BERSAMBUNG...