
Sementara itu, hari itu Al harus segera pulang, mengingat badai sudah berhenti. Ia pun segera pergi dari penginapan itu. Sejenak sebelum dirinya pergi, Al menemukan sebuah anting-anting milik Sharen yang tergeletak di bawah ranjang tidur.
"Apa ini anting-anting gadis itu?" setelah Al memperhatikan anting-anting emas berbentuk love itu, Ia pun segera menyimpannya.
"Hmm mungkin suatu hari nanti kita akan bertemu lagi, Nona!" batin Al sembari dirinya meninggalkan kamar penginapan itu. Ia pun segera pulang ke rumah orang tuanya, dimana Nayla maupun Gerald belum mengetahui jika sang anak telah pulang.
Di kediaman keluarga besar Adams, saat itu Gerald dan Nayla sedang duduk santai di ruang tengah, tak berselang lama mereka mendengar suara bel pintu, karena Gerald sibuk merencanakan untuk acara besok bersama istrinya Ia pun tidak menghiraukan siapa yang datang, Bi Jum yang membukakan pintu itu.
"Iya sebentar!" Bi Jum tampak berbicara sendiri sembari berjalan menuju ke pintu depan. Kemudian Bi Jum membuka pintu itu dan alangkah terkejutnya saat ia melihat seorang laki-laki yang tengah berdiri membelakanginya.
"Maaf! Tuan mencari siapa, ya?" tanya Bi Jum yang belum menyadari jika itu adalah Aleric, putra Gerald dan Nayla.
"Saya ingin mencari Tuan mu, apa mereka ada? Ada sesuatu yang sangat penting yang harus Aku katakan." ucap Al yang masih belum membalikkan badannya. Sehingga Bi Jum pun tidak mengenali siapa laki-laki yang bertamu ke rumah Gerald.
"Tuan dan Nyonya sedang sibuk, tapi baiklah akan Saya panggilkan." Bi Jum tampak sedang berjalan menemui Gerald. Sementara itu di dalam ruang tengah, Nayla pun bertanya kepada suamimu tentang kapan kepulangan putra mereka, mengingat besok adalah hari anniversary pernikahan mereka berdua, dan Al sudah berjanji untuk segera pulang sebelum hari anniversary kedua orang tuanya.
"Bang! Al kapan pulang, ya? Apa dia nggak jadi pulang? Padahal dia sudah janji loh sama kita, Jika sehari sebelum pesta itu berlangsung, Al pasti pulang. Nay khawatir saja, Bang! Jika Al tidak jadi pulang, Nay udah ngomong sama sama semua orang jika anak kita akan pulang, terus kalo Al nggak datang, gimana dong, Bang?"
"Kamu jangan khawatir! Al pasti pulang, anak itu tidak mungkin mengingkari janjinya, bersabarlah! Sebentar lagi dia pasti pulang."
__ADS_1
Baru saja Gerald berkata itu kepada istrinya, tiba-tiba Bi Jum datang dan berkata kepada mereka berdua. "Maaf Tuan! Di luar ada tamu yang mencari Tuan."
"Tamu? Siapa?"
"Tidak tahu, Tuan! Dia tidak bilang siapa dia, tapi katanya dia ingin berbicara tentang sesuatu yang penting." mendengar ucapan dari Bi Jum, Gerald pun segera keluar dan menemui tamunya yang tak lain adalah anak kandungnya sendiri.
Gerald dan Nayla berjalan keluar untuk menemui tamu yang katanya ingin sekali bertemu dengan Gerald.
Gerald dan Nayla melihat seorang pria yang sedang berdiri membelakangi pintu, sehingga hanya nampak punggung bidang laki-laki yang berusia sekitar 26 tahun itu.
Gerald tampak mengernyitkan dahinya ketika melihat pria itu berdiri dengan gagahnya, Ia tampak memasukkan kedua tangannya pada kantung celana, Ia memakai setelan jas berwarna hitam, sungguh terlihat sangat gagah sekali.
"Tunggu, Bang! Aku tahu siapa dia?" ucap Nayla yang mulai berkaca-kaca, Ia tahu jika itu adalah putranya yang sangat dirindukannya. Seorang Ibu tahu betul postur tubuh sang anak, dari bentuk rambutnya saja Nayla bisa sangat mengenali sang putra, Ia sangat yakin sekali jika pria yang berdiri membelakangi mereka adalah sang putra.
Nayla mendekati sang anak, dan spontan Ia pun memeluk Al dari belakang sembari berkata, "Kenapa kamu tidak bilang kalau mau datang."
Seketika Gerald terlihat marah melihat sang istri memeluk laki-laki lain di depannya, Ia pun spontan menarik tangan dan memarahi sang istri untuk menjauhi pria yang belum Ia kenali.
"Nayla! Apa-apaan kamu, berani sekali kamu peluk-peluk pria ini, kamu benar-benar tidak menghargai ku sama sekali. Dan kamu! Mau apa kamu datang ke rumah ini, jika tidak ada kepentingan, sebaiknya kamu pergi, kamu sudah membuat istriku berpaling dariku." mendengar ucapan Gerald, Al masih bisa bertahan, meskipun dirinya sangat cekikikan dalam hati, Ia telah berhasil mengerjai kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Ya ampun, Papa! Apa papa nggak mengenali anaknya sendiri?" batin Al yang menahan rasa ingin tertawa nya.
Sementara itu Nayla tidak terima jika Ia dijauhkan dari Al, Ia pun berkata kepada suaminya.
"Kamu ini kenapa sih, Bang! Aku sangat merindukan nya, jadi biarkan Aku memeluknya."
"Eh ... tidak bisa! Peluk laki-laki sembarangan, Aku ini kurang apa sama kamu, Nay! baru lihat pria modelan gini kamu sudah berpaling, ya ... meskipun badannya nggak segede badanku, tapi Aku tetap suamimu, setiap malam Aku kasih kamu sosis coklat, apa masih kurang juga!" ucap Gerald dengan kesal, hingga tak sadar ludahnya sampai muncrat saat Ia berkata dengan berapi-api.
Seketika Nayla menepuk jidatnya sendiri saat melihat kecemburuan sang Suami yang tidak mengenali anak kandungnya sendiri.
"Ya ampun, Abang! Mana mungkin sih Nay khianati Abang, sosis Abang itu udah paling enak rasanya buat Nay, buat apa Nay cari sosis lagi, satu aja nggak ngabisin. Nggak kepikiran cari lagi. Nih ya Abang, dia ini anak kita, Aleric Adams. Tuh!"
Nayla segera membalikkan badan sang putera pada suaminya, tentu saja Gerald sangat terkejut saat melihat kehadiran anak mereka yang kini sudah sangat berubah. Sementara Al tampak senyum-senyum melihat wajah sang Ayah yang terlihat bengong.
"Al ... putraku!"
"Hai, Pa! Apa kabar dengan sosis Papa?" celetuk sang anak yang membuat wajah Gerald bersemu merah.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1