Hasrat Terlarang Abangku

Hasrat Terlarang Abangku
Bab 51 HTA


__ADS_3

Saat mereka berdua sedang tertawa kecil di balik tirai, tiba-tiba saja Nurmala membuka tirai itu dan melihat kedua putrinya sedang asyik tertawa. Spontan Nayla dan Moza melihat ke arah Nurmala yang sedang memperhatikan mereka berdua.


"Mama!" ucap keduanya.


"Kalian berdua ngapain di sini?" tanya Nurmala sembari menyilangkan kedua tangannya.


"Enggak ini loh, Ma! Kita penasaran sama tamu yang sedang berbincang sama Mama, eh nggak tahunya si kerempeng Gerald, eh sorry Nay! Aku nggak bermaksud gitu, udah kebiasaan Aku panggil dia gitu. Aduh sorry-sorry!" Moza terlihat memukul-mukul mulutnya karena masih memanggil Gerald dengan sebutan kerempeng.


Nayla tersenyum dan berkata, "Nggak apa-apa, Mbak! Santai aja. Pasti Abang sangat senang bisa bertemu dengan Mbak Moza di sini."


"Eh kok seneng ketemu sama Aku sih, ya sama kamu lah! Aku yakin banget dia tuh udah nggak sabar ingin segera bertemu dengan mu, tuh lihat aja mukanya, kusut gitu. Kamu nggak kasihan, Aku sih lihat dia malah pingin ketawa. Kok bisa ya dia jatuh cinta sama kamu, padahal dulu banyak banget yang naksir dia, salut sih sama si Gerald, dia nggak mempan dengan rayuan cewek-cewek diluar sana, ternyata cintanya ada di dalam rumah sendiri." ungkap Moza yang tentunya tahu bagaimana Gerald semasa remaja dulu.

__ADS_1


Nayla terlihat malu-malu kucing, apa yang dikatakan oleh Moza memang benar adanya, sedari dulu Gerald selalu memberikan perhatian lebih kepada Nayla, sementara Nayla belum bisa memahami apa arti perhatian sang Abang.


"Ya sudah! Sekarang temui suamimu! Kasihan dia sangat merindukan mu, Nay!" seru Nurmala kepada Nayla.


Nayla menatap Moza, tentu saja Moza menganggukkan kepalanya memberikan dukungan kepada Nayla.


"Udah sana! Temui dia, tuh mukanya udah mau nangis guling-guling," seru Moza yang terus membuat Nayla ingin tertawa saja.


"Apa sih, Mbak Moza!" Nayla terlihat tersenyum malu-malu. Sementara itu Gerald pun sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan sang istri tercinta, meskipun belum satu hari Nayla pergi dari rumah, tapi bagi Gerald rasanya sudah hampir satu tahun.


"I-iya, Ma!" Nayla mulai melangkahkan kakinya keluar dari balik tirai, sementara itu Gerald sudah sangat tak sabar menunggu kedatangan Nayla, Ia tampak menggerak-gerakkan kakinya cepat karena Gerald sudah tidak bisa membendung rasa rindunya kepada Nayla, bahkan sesekali Gerald meminum air yang disediakan di atas meja, untuk mengurangi rasa gugupnya.

__ADS_1


"Kenapa perasaan ku seperti pengantin baru sih, padahal setiap hari ketemu, ini kayak baru dipertemukan saja." batin Gerald sembari mengatur nafasnya. Dan akhirnya Nayla keluar menemui Gerald yang saat itu sedang menundukkan kepalanya dengan dua tangannya menyangga tubuhnya pada kedua pahanya.


Nayla berjalan perlahan menghampiri suaminya yang sedang duduk menunggu dirinya. Sementara itu Nurmala dan Moza meninggalkan mereka berdua dan membiarkan Nayla dan Gerald saling melepaskan rindu.


Hingga akhirnya Nayla tiba di depan sang suami, Gerald yang saat itu sedang menundukkan kepalanya, seketika dirinya sangat terkejut saat melihat kaki mulus nan indah yang sedang berdiri di depan nya. Tentu saja Gerald sangat mengenali kaki nan jenjang itu. Perlahan bola mata Gerald beranjak naik ke atas, dan akhirnya wajah sang istri terlihat sedang menatap sendu kepada dirinya.


"Nayla!"


Gerald langsung memeluk Nayla penuh kerinduan.


"Nay! Kenapa kamu tinggalin Abang? Abang nggak rela jika harus berpisah dengan mu, Nay!" ucap Gerald sembari menciumi seluruh wajah sang istri, dari kening, pipi, kedua mata, hidung, dan terakhir pada bibir manis Nayla.

__ADS_1


"Maafkan Nay, Bang!"


...BERSAMBUNG...


__ADS_2