Hasrat Terlarang Abangku

Hasrat Terlarang Abangku
Bab 25 HTA


__ADS_3

Jam setelah sepuluh malam, terlihat seorang wanita tua sedang mondar-mandir sembari menatap ke arah depan, berharap sang cucu segera datang.


"Gerald kemana sih, jam segini belum pulang, ditelepon ngga aktif lagi, dia sengaja mematikan ponselnya. Nayla juga, mereka berdua tidak boleh sering-sering jalan bersama, bisa-bisa Gerald semakin sayang tuh sama Adiknya." seru Hera yang terlihat khawatir.


Bi Jum yang melihat Hera terlihat cemas, mencoba menenangkan wanita yang berusia sekitar enam puluh tahun itu.


"Nyonya tenang saja, mungkin mereka lagi jalan-jalan sebentar, Nyonya! Bisa jadi mereka sedang membelikan sesuatu untuk Nyonya, sebagai ucapan selamat datang di rumah ini, bukankah tadi Nyonya sudah memberi tahukan kepada Tuan muda Gerald?" ucap Bi Jum yang mencoba mengalihkan perhatian Hera.


"Hmm ... Bi Jum benar juga, semoga saja seperti itu, Aku takut saja jika mereka akhirnya saling mencintai, itu tidak boleh terjadi, karena Aku sudah menjodohkan Gerald dengan Moza, Gerald harus menikah dengan Moza, hanya Moza gadis yang cocok dengan cucuku." Hera berkata sembari duduk di kursi menunggu kedatangan Gerald.


Sementara itu Bi Jum mencoba memancing apa reaksi Hera seandainya Gerald dan Nayla saling mencintai.


"Maaf Nyonya! Saya bukan bermaksud mencampuri urusan Nyonya, sebenarnya Tuan muda Gerald tidak masalah bukan jika seandainya mereka jatuh cinta, bukankah sebenarnya mereka berdua bukanlah saudara kandung, jadi kenapa Nyonya tidak setuju jika keduanya menjalin hubungan?" pertanyaan Bi Jum membuat Hera berekspresi serius.


"Iya Aku tahu jika keduanya tidak masalah jika menikah, tapi sampai kapan pun Aku tidak akan menyetujui nya, karena apa? Karena Nayla hanyalah anak seorang sopir angkot dan seorang pelaacur, masih untung putraku mau menampung anak itu, itu juga permintaan Gerald yang merengek ingin mempunyai Adik perempuan, sehingga terpaksa putra dan menantuku menganggap Nayla sebagai anak kandung mereka, tapi setelah Aku tahu siapa sebenarnya Nayla, Aku tidak akan membiarkan Gerald mencintai Nayla ataupun sebaliknya." ucap Hera dengan tatapan matanya yang tajam.


"Ya Tuhan! Semoga Tuan muda Gerald dan Non Nayla selalu bahagia, Aku yakin jika mereka berdua ada hubungan serius, Aku sangat tahu itu, Non Nayla tidak bisa menyembunyikan nya dariku, Aku tahu betul bagaimana Non Nayla, semoga saja mereka berjodoh dan Nyonya Hera bisa sadar jika mereka berdua saling menyayangi." batin Bi Jum yang selalu mendoakan untuk kebahagiaan Nayla yang sedari kecil Ia rawat dan Ia susui.


Sementara di perjalanan, Nayla melihat penjual bunga di pinggir jalan, Ia pun menyuruh suaminya untuk berhenti sejenak untuk membeli bunga mawar.

__ADS_1


"Bang! Kita berhenti dulu di situ!" tunjuk Nayla pada seorang wanita yang sedang menjual bunga di pinggir jalan.


"Kenapa kamu minta berhenti di sini?" tanya Gerald saat mobil mereka berhenti di depan penjual bunga-bunga cantik itu. Nayla tersenyum dan berkata kepada suaminya, "Abang lupa jika hari ini Oma datang ke rumah, Oma kan suka sekali dengan bunga mawar, kita beliin aja satu ikat bunga untuk Oma, Nay yakin Oma ngga bakalan marah dan dia tidak akan curiga dengan kita." sejenak Gerald berpikir apa yang dikatakan oleh istrinya ada benarnya.


"Hmm ... kamu benar! Baiklah kita beli bunga itu!"


Akhirnya Gerald dan Nayla memutuskan untuk membeli seikat bunga mawar untuk sang Oma. Setelah Gerald membayar nya, mereka pun segera naik ke dalam mobil dan kembali melanjutkan perjalanan menuju ke rumah.


Sementara itu Nayla yang sedang memegang bunga mawar itu tampak Ia diperhatikan oleh sang suami sedari tadi, Gerald sedikit-sedikit melirik ke arah Nayla yang terlihat begitu cantik saat memegang bunga mawar merah itu. Nayla merasa jika Gerald memperhatikan nya, Ia pun menatap wajah sang suami dan bertanya, "Abang lihatin apa? Senyum-senyum sendiri?"


Gerald menoleh dan tertawa kecil. "Kamu terlihat begitu cantik, lebih cantik dari bunga mawar itu." mendengar gombalan dari Gerald, Nayla pun tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya.


"Ya iya lah! Emang madu kamu rasanya begitu manis dan nikmat, hmm ngga bisa dibayangkan dengan kata-kata, Aku ingin selalu menyelam di sana, pokonya kamu hanya milikku dan Aku yang berhak atas dirimu seutuhnya." mendengar ucapan Gerald, Nayla memalingkan wajahnya karena malu, sementara Gerald terus tersenyum bahagia melihat kebahagiaan mereka berdua.


Hingga akhirnya mobil mewah itu tiba di depan rumah mewah keluarga Adams, Gerald dan Nayla turun dari mobil, keduanya berjalan dengan saling menatap, berharap semuanya baik-baik saja. Sang Oma tidak akan mengatakan hal yang aneh-aneh.


Sesampainya di depan pintu, keduanya di sambut oleh sang Oma yang sedari tadi menunggu kedatangan mereka berdua. Hera terlihat berkacak pinggang sembari menatap keduanya dengan tajam. Gerald dan Nayla mencium tangan sang Oma sembari bertanya. "Darimana saja kalian? Jam segini baru pulang?" tanya Hera dengan wajah seriusnya.


Melihat ekspresi wajah sang Oma yang tampak serius, Gerald pun segera memberikan kejutan untuk Hera, Ia memberikan seikat bunga mawar yang Ia beli bersama Nayla tadi.

__ADS_1


"Oma jangan tegang gitu, dong! Ini untuk Oma. Tadi kami mutar-mutar sebentar untuk membelikan Oma bunga mawar ini, bagaimana Oma suka?" tanya Gerald sembari merangkul pundak sang Oma, seketika Hera luluh saat sang cucu kesayangan memberikan bunga mawar itu.


"Ya ampun Gerald! Kamu baik banget sih, Oma suka banget dengan bunga ini, makasih ya sayang!" ucapnya sembari mencium pipi sang cucu.


Sementara itu Nayla mencoba menyapa sang Oma dengan tersenyum.


"Oma apa kabar? Nayla kangen sama Oma?" ucap Nayla berharap sang Oma juga memeluknya.


"Kangen? Masa? Nggak usah ngerayu Oma kamu! Oma ngga bakalan kangen sama kamu, Nayla! Oma cuma kangen sama Gerald, ngerti!" jawabnya sembari memeluk Gerald sang cucu kesayangan. Nayla hanya bisa tersenyum paksa dan menundukkan wajahnya, Ia tahu pasti itu jawaban yang akan Ia dengar dari Oma nya.


Sementara itu Gerald mencoba membuat sang Oma agar bisa menyukai Nayla dengan mengatakan jika bunga mawar itu dibeli atas usul dari Nayla.


"Oma, Oma tahu nggak? Jika tadi Nayla yang nyaranin untuk beli bunga mawar ini untuk Oma! Nayla tahu jika Oma suka banget dengan bunga mawar, Gerald aja nggak tahu kesukaan Oma, Nayla benar-benar perhatian kan, Oma?" mendengar pengakuan dari Gerald, Hera segera membuang bunga itu ke lantai.


"Ciiihh siapa bilang Aku suka bunga mawar, ngga sudi!"


"Oma! Kenapa dibuang?" Gerald tampak mengambil kembali bunga mawar yang sudah dibuang oleh Hera.


Seketika Nayla menghela nafas panjangnya, mencoba menahan rasa emosi dan air matanya, dia tidak ingin terlihat lemah.

__ADS_1


"Kuat Nayla! Kamu harus kuat ... ini demi Kalian berdua juga, kamu harus bisa menghadapi sikap Oma Hera." batin Nayla sembari menguatkan hatinya.


__ADS_2