
Tentu saja, baik Gerald, Nayla, Jordan dan Moza, menoleh ke arah sumber suara. Seketika Moza memeluk Jordan, Ia sangat takut jika laki-laki itu akan membawanya pergi.
"Tidak! Ngapain dia kesini?" Moza terlihat begitu takut dan Ia seolah trauma memandang wajah bapak kandungnya sendiri.
"Kamu jangan khawatir! Aku akan tidak akan membiarkan pria itu membawa mu pergi!" balas Jordan sembari menenangkan Moza.
Sementara itu Gerald terlihat sangat geram melihat kedatangan Arthur, saat itu Arthur datang sendiri tanpa pengawalan, Ia masuk dengan mudah karena Arthur membawa sebuah senjata di tangan nya yaitu sebuah pistol.
Semua orang mundur dan menjauhi Arthur, pria gila itu tengah membawa sebuah senjata api yang bisa meledak kapan saja sesuai kehendaknya.
"Bang! Kok dia bawa senjata sih, Bang! Hati-hati, Bang!" ucap Nayla yang takut melihat senjata api yang dibawa oleh Arthur.
"Tenang, Nay! Kita harus menelepon polisi sekarang juga, dia pasti akan melakukan sesuatu yang fatal di sini." ucap Gerald yang mulai menghubungi kantor polisi.
Sementara itu Jordan terlihat melindungi calon istrinya dari sentuhan Arthur, Jordan memasang badan saat Arthur mulai mendekati mereka berdua dengan membawa pistol di tangannya. Tentu saja semua tamu undangan berteriak histeris melihat Arthur yang sedang mengangkat senjata nya ke atas.
"Diammm ...!" Arthur berteriak sambil meletuskan satu tembakan ke atas, seketika seluruh ruangan hening karena takut dengan apa yang akan dilakukan oleh Arthur kepada mereka.
"Kamu tenang saja Moz! Dia tidak akan bisa membawamu pergi dariku." bisik Jordan yang siap untuk melindungi calon istrinya, tak perduli Arthur saat itu sedang membawa senjata api.
__ADS_1
"Aku takut sekali, Jo! Aku takut dia akan melukaimu." balas Moza sembari terus memeluk calon suaminya.
Setelah menembakkan peluru ke atas, akhirnya Arthur mulai membuka suara. Tiba-tiba saja ia memanggil Moza dengan sebutan anak.
"Moza! Moza anakku! Iya kamu adalah anakku, darah dagingku, tidakkah kamu menyambut Daddy-mu datang? Aku tahu kamu sangat membenci Daddy, sungguh Daddy tidak tahu jika kamu adalah putri kandung ku sendiri, betapa yang sudah Daddy lakukan selama ini telah membuat mu terluka, seharusnya Daddy menjaga mu dan menyayangi mu, tapi apa yang Daddy lakukan? Tak jauh dari seekor binatang, Daddy telah membuat mu menderita, dan sekarang Daddy ingin meminta maaf kepada mu." ucap Arthur sembari menitikkan air matanya.
Arthur pun mulai berjalan semakin mendekati Moza, dan tentu saja Jordan dengan lantang menghadang langkah Arthur yang ingin mendekati calon istrinya.
"Tidak bisa! Anda tidak bisa bertemu dengan calon istri ku, meskipun Anda adalah Ayah kandung nya, tapi Anda bukanlah Ayah yang baik, pernah kah Anda berpikir bagaimana hancur nya perasaan seorang anak saat tahu jika Ayahnya seorang predator wanita, dan dirinya juga menjadi mangsa Ayah kandung nya sendiri, apa Anda tidak malu menyebut Moza sebagai anak Anda?" seketika Arthur diam dan perlahan berkata. "Minggir! Aku cuma ingin bertemu dengan putriku." ucapnya sembari menodongkan senjata api itu tepat ke arah Jordan.
Seketika seluruh yang hadir sangat takut jika saja Arthur menarik pelatuknya dan mengenai tepat di dada Jordan, sementara itu Moza yang masih bersembunyi di balik punggung Jordan terlihat sangat khawatir dengan apa yang dilakukan oleh Arthur kepada calon suaminya.
"Silahkan Anda tembak Saya! Demi melindungi wanita yang saya cintai, Saya rela jika harus mati." seketika Arthur tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan dari Jordan.
"Benarkah itu anak muda? Sebesar itukah rasa cintamu pada putriku, tapi semua itu tidak ada bandingannya dengan perasaan ku kepada putriku sendiri, kamu mencintainya, tapi Aku lebih mencintainya, hanya Aku yang berhak memiliki nya. Tapi, perasaan cinta ini rupanya sebuah rasa yang terlarang, ternyata dia adalah putriku sendiri, kenapa di saat Aku merasakan cinta yang sesungguhnya, di situ pula Aku merasakan kekecewaan yang mendalam, hahahaha!"
Arthur memang benar-benar sudah tidak waras, setelah mengatakan hal itu Ia pun tampak tertawa terbahak-bahak, hingga akhirnya sebuah kata terucap untuk terakhir kali dari mulut seorang Casanova.
"Moza! Maafkan Daddy, untuk terakhir kalinya Daddy mohon tunjukkan lah wajahmu untuk sekali saja sebelum Daddy pergi."
__ADS_1
Seketika Moza terkesiap saat Arthur berkata itu kepadanya, seolah-olah ada sesuatu yang akan membuat mereka berpisah, Moza akhirnya memberanikan diri untuk bertatap muka dengan sang Ayah. Perlahan Moza keluar dari balik punggung Jordan dan mulai menatap wajah Daddy Arthur yang kala itu masih memegang pistol di tangannya.
"Moza! Apa yang kamu lakukan?" Jordan terlihat cemas saat Moza memutuskan untuk menampakkan wajahnya pada Arthur.
"Aku tidak akan apa-apa, kamu jangan khawatir!" Moza berusaha meyakinkan Jordan. Ia pun mulai berdiri di depan Arthur, jarak mereka hanya sekitar lima meter.
Arthur menatap wajah sang anak dengan tersenyum, sementara Moza menatap wajah sang Ayah dengan sorot mata yang penuh kebencian.
Setelah dirasa cukup Arthur menatap wajah sang putri, dengan cepat Ia pun menodongkan senjata api itu tepat pada kepalanya.
"Daddy jangan!" teriak Moza saat Ia tahu Arthur akan menarik pelatuknya.
"Doooorrrr." suara tembakan itu menggema begitu keras sehingga membuat seluruh ruangan menjadi kacau.
Terlambat, Arthur sudah menarik pelatuk nya, dan akhirnya tubuhnya terjatuh di atas lantai dengan bersimbah darah.
"Daddddyyyy ... tidaaaaakkk!" teriak Moza sembari berlari menghampiri tubuh sang Ayah yang kini sudah menjadi mayat.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
...Jika kalian nggak beri dukungan sungguh terlalu, part ini othor asli gemetaran nulisnya ðŸ˜ðŸ˜...