
"Ayo Kak kita segera masuk!" ajak Shanum sembari menarik tangan Sharen yang masih sibuk merapikan bulu matanya yang terlihat mau terlepas.
"Iya bentar! Nih bulu mata mau copot." jawabnya sembari sibuk menata kembali bulu mata palsu itu.
"Ya ampun Kakak! Ya udah kalau gitu, biar Aku dan Mama masuk dulu ke dalam."
"Ya udah, duluan sana! Nanti Kakak nyusul." seru Sharen kepada Shanum.
Akhirnya Shanum dan Moza masuk ke dalam ruangan pesta terlebih dahulu. Sementara Sharen masih sibuk merapikan bulu matanya yang udah hampir lepas. Shanum sudah tidak sabar ingin segera melihat Al.
Sementara itu di dalam ruangan pesta, Nayla datang menuju ke tempat dimana suaminya berada yakni di tengah-tengah tamu undangan, dan kebetulan saat itu Gerald sedang berbincang dengan dengan Jordan.
"Ayo kita ke sana!" ajak Nayla kepada sang anak. Akhirnya, Nayla bersama putra mereka menghampiri Gerald dan Jordan yang sedang asyik mengobrol.
Tanpa sengaja Gerald melihat kedatangan sang istri beserta Al, Ia pun segera menghampiri sang istri dan mengajaknya untuk berada di sampingnya.
Setelah itu Gerald memperkenalkan Al kepada Jordan, meskipun dulu Jordan pernah melihat masa kecil Al saat bermain dengan putri mereka, sekarang Jordan benar-benar tidak menyangka jika Al bisa sangat dewasa dan terlihat sangat tampan.
"Hai Aleric Adams! Apa kabar kamu, Nak! Waahhhh Om sangat pangling melihatmu sekarang." seru Jordan sembari merangkul Al.
Al pun tersenyum kepada sahabat Ayahnya itu. "Terima kasih banyak, Om. Al juga senang bisa bertemu dengan Om Jordan lagi. Om semakin ganteng saja." puji Al yang seketika membuat Jordan tertawa kecil.
"Hahaha kamu bisa aja, semua ini tak luput dari perhatian dan kecerewetan Tante Moza, tahu sendiri bagaimana Tante Moza." balas Jordan sembari berbisik di telinga Al.
Al pun tersenyum dan suasana pertemuan itu terasa begitu hangat. Hingga akhirnya Moza dan Shanum menghampiri mereka yang sedang asyik bercengkrama.
"Selamat malam semuanya!" sapa Moza kepada mereka, tentu saja Nayla sangat terkejut dengan kedatangan sang Kakak angkat. "Mbak Moza! Ya ampun," balas Nayla sembari mencium pipi Moza kanan kiri.
"Baik Nay! By the way selamat ya atas anniversary pernikahan kalian, semoga pernikahan kalian tetap langgeng sampai kakek nenek." seru Moza sembari tersenyum kepada keduanya.
"Makasih banyak doanya, Mbak!"
Sementara di sisi lain, Al seketika membulatkan matanya saat melihat seorang gadis yang sedang berdiri di samping Moza, wajah gadis itu mengingatkan nya pada seseorang yang pernah Ia temui.
"Tunggu dulu! Bukankah itu adalah gadis yang Aku temui kemarin? Kok dia bersama Tante Moza? Wait wait atau jangan-jangan gadis itu adalah putri Tante Moza? What! Itu berarti dia adalah ...!" batin Al yang teramat sangat terkejut melihat wajah Shanum.
"Al! Kemari Nak! Ini adalah Tante Moza, kamu masih ingat, kan? Dan ini adalah ... hmm kalau yang ini Aku rasa hanya Tante Moza yang tahu." seru Nayla yang masih kebingungan membedakan mana Sharen dan mana Shanum.
__ADS_1
Moza tertawa dan berkata kepada Nayla, "Banyak orang yang keliru membedakan putri kembarku, yang mana Shanum dan yang mana Sharen, hmm pasti ada yang membedakan di antara keduanya. Hah ... mungkin Al bisa menemukan perbedaan diantara mereka?" seru Moza yang memberikan tantangan untuk menebak siapa Sharen dan siapa Shanum.
"Tapi, putriku yang satunya masih berada di luar, sebentar lagi dia pasti kesini," sambung Moza.
Al tidak berkedip sama sekali saat memandang wajah Shanum, Ia mencoba meyakinkan dirinya jika gadis itu adalah gadis yang Ia temui kemarin.
"Kenapa Aku merasa dia bukan Sharen ya! Dia pasti Shanum, wajah mereka memang sangat mirip sekali, tapi bola mata mereka dan tatapan mata mereka sangat berbeda." batin Al yang terus memperhatikan wajah Shanum. Tentu saja Shanum terlihat salah tingkah saat Al menatapnya. Ia mengira jika Al mempunyai perhatian untuknya.
"Ya ampun Mas Al ternyata keren sumpah, ini artinya Aku yang menang, Kak Sharen pasti tidak percaya jika Mas Al sudah setampan ini, asyik Aku yang akan memenangkan hati Mas Al." batin Shanum yang tampak malu-malu.
Setelah Sharen merapikan bulu matanya, Ia pun segera pergi masuk ke dalam, sebenarnya dirinya sangat malas untuk bertemu dengan Al. Karena ujung-ujungnya pasti mereka akan berantem, mengingat masa kecil mereka sering sekali bertengkar.
"Semoga saja Aku bisa menahan emosi saat bertemu dengan Al, huuhh masih dendam banget Aku sama dia, ini saatnya kesempatan untuk ku, setelah bertahun-tahun kita tidak bertemu." racau Sharen sembari dirinya terus berjalan menuju ke tempat pesta.
Sharen mulai masuk ke dalam ruangan yang sudah dipenuhi oleh banyak undangan, Sharen terlihat melihat ke sekeliling mencari keberadaan sang Adik dan kedua orang tuanya, hingga akhirnya seseorang menghampirinya yang tak lain adalah Moza.
"Nah itu dia putri kembar ku yang lain. Sebentar ya Aku akan bawa dia kesini." setelah mengatakan hal itu Moza segera menghampiri Sharen dan memintanya untuk ikut bersamanya.
"Sharen! Kamu kemana saja sih! Sudah ditunggu tuh sama Om Gerald dan Tante Nayla." seru Moza sembari membawa putrinya.
"Aduh Mama, biasa aja dong, kayak mau ketemu sama pangeran saja," umpat Sharen yang masih menganggap Al masih sama seperti dulu.
Sementara itu tiba-tiba saja Al mendapati ponselnya berdering, dan ternyata itu adalah telepon dari Kris, adik angkatnya. Al meminta izin sejenak untuk berbicara dengan Kris, dan Ia pun berbicara dengan Kris sedikit menjauh.
Di saat Al sedang mengangkat telepon dari sang adik, secara bersamaan Moza datang bersama Sharen. Sharen terlihat menyapa Gerald dan Nayla, kini baik Shanum ataupun Sharen berdiri sejajar. Sungguh bak pinang dibelah dua, begitu sulit membedakan mana si kakak dan mana si adik. Sejurus kemudian Sharen melihat Al yang sedang berdiri membelakangi mereka, Al belum menunjukkan wajahnya karena Ia masih sibuk berbicara dengan Kris, Sharen cuma bisa menebak-nebak.
"Siapa laki-laki itu? Sepertinya Aku pernah melihatnya, tapi dimana?" batin Sharen bertanya-tanya. Kemudian Nayla berkata kepada kedua putri kembar Moza.
"Sharen, Shanum ... kalian masih ingat Al? Teman semasa kecil kalian, nah sekarang Al sudah berada di sini, dan kami sudah merencanakan untuk menjodohkan salah satu diantara kalian berdua untuk menjadi istri Al, hmm Tante berharap kalian tidak keberatan ya!" seru Nayla sembari tersenyum kepada keduanya.
"Apa dia Al Tante?" tanya Sharen sambil menunjuk ke arah Al yang sedang menelepon Kris. Nayla menoleh dan melihat Al yang masih mengobrol dengan sang Adik lewat ponselnya.
"Iya, dia Al. Dia sedang berbicara dengan Kris." balas Nayla yang membuat Sharen tidak percaya.
"Haaa itu Al? Ih nggak mungkin banget, Al badannya kecil kayak tiang listrik. Kok sekarang bisa kek gitu. Mustahil!" batin Sharen yang tidak percaya, sementara Shanum sangat percaya diri dan berkata kepada sang kakak kembarnya.
"Kenapa? Kakak terkejut ya! Kali ini Kakak harus memenuhi permintaan Shanum, dan kakak sudah kalah, Shanum sudah melihat wajah Mas Al. Ya ampun dia ganteng banget tahu nggak sih, Kak! Nggak kayak dulu. Beneran. Pokoknya jika Mas Al pilih kakak nantinya. Kakak harus ngalah. Karena kakak udah kalah taruhan. ingat kan!" seru Shanum dengan wajah bahagianya.
__ADS_1
"Iya iya Kakak ingat, lagipula mana mungkin lah kakak naksir sama Al. Haaa bisa-bisa dunia kiamat." celetuk Sharen, di saat yang bersamaan Al membalikkan badannya dan menghampiri si kembar yang sedang membicarakan dirinya.
"Selamat malam, Nona-Nona!"
Baik Shanum maupun Sharen spontan melihat ke arah Al yang sedang tersenyum kepada keduanya. Sharen seketika membulatkan matanya saat melihat wajah pria yang sudah melihat seluruh tubuhnya yang tak lain adalah Al, musuh bebuyutannya sedari kecil.
"Hai kamu pasti Sharen, kan? Dan ini Shanum. Rupanya kalian bisa kempes juga, Aku pikir masih sama seperti dulu, gembul dan seperti bakpao." ledek Al kepada keduanya. Spontan Sharen tidak terima jika Al berkata seperti itu.
"Eh ... ternyata kamu adalah Aleric, diih manusia sok sempurna, kita berdua sekarang bukanlah kembar-kembar bulat tapi kembar-kembar cantik, mengerti!" balas Sharen yang lebih dominan ngegas daripada Shanum, sedari dulu Sharen dan Al selalu tidak pernah akur.
Al tertawa kecil dan kemudian berkata di dekat telinga Sharen. "Kalian memang bukan lagi kembar-kembar bulat, meskipun begitu Aku tetap melihatnya masih sangat bulat, Aku suka bentuknya yang unik seperti love." seketika Sharen terdiam tak berkutik saat Al mengatakan hal itu kepadanya.
"Brengsek nih orang, aduuh kenapa sih harus Al yang lihat." batin Sharen.
...BERSAMBUNG...
*
*
*
*
MAMPIR DULU YUK KE KARYA KAK NAVIZAA YANG BERJUDUL ETERNAL ENEMY
Eternal Enemy
Author: Navizaa
Safara Maulida tidak pernah menyangka bahwa dia akan dilamar secara tiba-tiba oleh atasannya di kantin kantor tempatnya bekerja. Tentu saja Fara nama panggilan gadis itu merasa sangat bahagia, apalagi atasannya itu adalah cinta pertamanya di masa putih abu-abu.
Keill Abraham, tidak main-main dengan lamaran itu, dan sebulan kemudian mereka melangsungkan pernikahan. Tapi di dalam kehidupan mereka ada kejanggalan yang Fara rasakan, yaitu sikap Keill yang dingin saat di rumah. Tapi akan berubah hangat jika di kantor. Fara jelas saja tidak terima dengan sikap suaminya itu.
"Gue tahu kalau dia gak cinta sama gue, tapi apa alasannya dia ngajak gue nikah jika matanya hanya menatap ke arah wanita itu dengan tatapan sendu!" Batin Fara dengan dada sesak.
Sanggupkah Fara menjalani pernikahan yang seperti itu?
__ADS_1
Apa alasan Keill menikahinya kalau hanya dianggap bayang-bayang saja?