Hasrat Terlarang Abangku

Hasrat Terlarang Abangku
Bab 100 HTA


__ADS_3

Sementara di suatu tempat, Nayla yang saat ini usia kandungannya sudah menginjak trimester ketiga, tentu saja Ia sudah kesulitan untuk bernafas, apalagi perutnya kian buncit, belum lagi kakinya yang mulai terlihat bengkak karena efek kehamilannya.


Sang Oma yang melihat perubahan kaki Nayla pun terlihat kasihan melihat kondisi Nayla yang seolah kesusahan saat berjalan. "Ya ampun Nayla! Kamu jangan jalan terus, lihat tuh kakimu bengkak gitu, sini Oma kasih minyak urut biar nggak terlalu bengkak gitu."


"Tidak perlu Oma, kata dokter nggak apa-apa kok, ini udah biasa terjadi pada ibu hamil." balas Nayla yang merasa sungkan jika Oma Hera menyentuh kakinya.


"Iya Oma tahu, tapi setidaknya bisa meringankan rasa sakit saat berjalan, sudah! Sini duduk di samping Oma, dan Oma akan menyuruh pelayan untuk mengambilkan minyak urut."


"Sudahlah, Oma! Nay tidak apa-apa."


"Nggak usah membantah, Oma tidak suka itu."


Nayla pun terpaksa mengikuti perintah sang Oma, setelah seorang pelayan mengantarkan minyak urut itu, Oma Hera pun mengangkat kaki Nayla dan Ia letakkan di atas pangkuannya, setelah itu dengan telaten Oma Hera memijit-mijit lembut kaki Nayla yang bengkak itu sembari berceloteh tentang saat sang menantu atau mendiang Ibu Gerald saat mengandung Gerald dulu.


"Kamu tahu Nayla! Dulu Mama Lilis juga seperti ini, saat mengandung Gerald, kakinya juga bengkak persis seperti ini, akhirnya Oma kasihan melihatnya, Oma juga pijit kakinya, dia sudah susah payah mengandung cucu Oma, siang malam merasakan punggung nya sakit, Oma nggak tega melihat Mama Lilis seperti itu, bagaimana pun juga Mama Lilis sedang berjuang mengandung Gerald, cucu Oma. Apalagi dulu Mama Lilis ngidamnya aneh-aneh, tahu tuh suamimu itu merepotkan orang tua saja, masa jam satu malam dia minta makan pisang Raja sama dua buah salak yang besar-besar, coba bayangkan Papa mu tuh yang mencari muter-muter mencari penjual pisang Raja dan buah salak, tahu sendiri jam segitu swalayan sudah tutup, ah dasar masih dalam perut dia sudah menyusahkan orang tua."


Mendengar cerita dari Oma Hera, Nayla pun ikut tertawa. Pantas saja Ia merasa keperkasaan suaminya benar-benar hot, ngidamnya saja Pisang Raja dan buah salak, tidak diragukan lagi Gerald pandai membuat Nayla klepek-klepek tidak berdaya.


"Benarkah itu, Oma?"


"Iya benar, untung saja masih ada orang yang jualan di jam segitu, setelah Papa kalian muter-muter mencari penjual pisang Raja dan buah salak, akhirnya Sudarsono melihat penjual buah di pinggir jalan dekat pasar tradisional, Papa kalian melihat orang itu berjualan pisang Raja yang sangat besar dan juga berbagai macam buah-buahan. Akhirnya Papa kalian sangat senang bisa menemukan penjual buah pisang dan salak."


"Terus Oma!"


"Kata si penjual itu, untuk apa beli pisang Raja malam-malam? Kata Papa kalian karena istri saya sedang ngidam. Nah si penjual itu tertawa, tentu saja Papa kalian terkejut kok malah ketawa. Kata si penjual buah itu nanti anaknya akan menjadi Pria yang kuat dan perkasa dan pandai membuat istrinya bahagia, begitu katanya. Dan benar saja, saat Gerald lahir si burung emprit nya itu udah kelihatan paling gede diantara bayi-bayi yang lainnya, Oma juga heran. Oma pun mulai sadar jika perkataan penjual buah itu memang benar. Si pisang Raja dan buah salak nya itu nempel banget ke suami Kamu."


"Ya ampun masa sih Oma, pantesan!" sahut Nayla mulai mengerti.


"Pantesan kenapa, apa sampai sekarang pisang Raja dan buah salak nya juga besar?" tanya Oma Hera sembari tertawa kecil.


"Banget Oma, sampai perut Nay membesar kayak gini, setiap hari selalu dikasih makan pisang Raja sama buah salak nya Bang Gerald, gimana nggak kenyang."

__ADS_1


Seketika keduanya tertawa lepas, suasana itu menjadi lucu dan hangat saat Oma Hera dan Nayla tertawa. Dan tiba-tiba saja Gerald datang menghampiri keduanya yang sedang menertawakan pisang Raja dan buah salak milik nya, Pria itu terlihat penasaran dengan apa yang sedang mereka tertawa kan.


"Eh lagi ngomongin apa sih kok Oma sama istriku girang banget?" tanyanya sembari duduk di samping Oma.


"Eh panjang umur dia, yang dibicarakan datang juga." seru Oma.


"Memangnya Oma dan Nayla sedang membicarakan Gerald masalah apa? Ah jadi kayak selebriti aja dibicarakan sama wanita-wanita hebat ini." jawabnya sembari mengambil buah pisang yang ada di atas meja.


Gerald pun mulai mengupas pisang itu dan mulai memakannya, di saat yang bersamaan Oma Hera menjawab, "Kami sedang membicarakan tentang pisang milikmu!" seketika Gerald tersedak dan susah menelan pisang yang ada di dalam mulutnya, ekspresi wajahnya yang terlihat lucu membuat Nayla tertawa.


Tentu saja Gerald susah payah menelan pisang itu, dengan ekspresi nya yang lucu, Ia pun menjawab, "Apa yang Oma maksud? Pisang yang mana?" Gerald tampak bingung dengan ucapan Oma Hera.


"Ya pisang yang kamu makan, udah nggak usah dibahas, nanti kamu ke GR an lagi. Oh ya Nayla! Sepertinya Oma kelupaan sesuatu, tadi Oma janjian sama Ibu-Ibu kompleks mau ikut pengajian, pasti mereka udah nungguin."


"Ya udah, Oma! Oma pergi saja, Nay nggak apa-apa kok,"


"Eh ... terus siapa nih yang ngelanjutin ini?" Oma Hera melirik ke arah Gerald yang masih sibuk makan buah pisang.


"Oh ya udah, Oma! Biar Aku yang gantiin Oma pijitin kaki Nayla, itu sih gampang banget buat Gerald."


"Bagus kalau gitu, ingat jangan keras-keras, Oma pergi dulu, Nayla! Oma pergi dulu ya! Biarkan suamimu yang memijit, ini semua juga gara-gara ulah pisang Raja nya dia."


Seketika Gerald garuk-garuk kepala tidak mengerti dengan ucapan sang Oma, sementara Nayla hanya bisa menahan tawa.


Setelah itu Oma Hera pergi dari kamar mereka, dan kini tinggal Gerald dan Nayla berdua saja. Sambil memijit kaki sang istri, Gerald pun bertanya kepada istrinya.


"Tadi Oma ngomong apa sih Nay? Pisang, pisang apaan?"


Nayla tersenyum dan berkata, "Ya pisang kamu, Bang! Pisang yang mana lagi. Masa nggak ngerti sih!" Nayla terlihat menatap nakal ke arah sang suami.


Sejenak Gerald pun mulai mengerti apa yang dimaksud pisang oleh keduanya.

__ADS_1


"Ohhh ... Abang ngerti sekarang." jawabnya sembari mengusap-usap kaki Nayla hingga ke atas lutut.


"Eh Bang! Kok mijit nya sampai paha sih, kan cuma kaki yang bengkak." protes Nayla saat tangan nakal suaminya merayap ke atas.


"Ya nggak apa-apa lah, Nay! Namanya juga masih area kaki, ini tangan susah dikendalikan kalau udah pegang tubuh kamu." jawabnya santai. Nayla pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba saja Nayla ingin menyantap buah pisang yang berada di atas meja.


"Bang!"


"Hmmm!"


"Nay pingin makan buah pisang."


Seketika Gerald tersenyum sumringah mendengar keinginan istrinya.


"Kamu pingin makan pisang?"


"He em!" jawab Nayla sembari mengangguk.


"Hayuk Abang juga ingin makan kue donat."


"Haaahhh!"


...BERSAMBUNG...


*


*


*


Sambil nunggu author update bab berikutnya, mampir dulu yuk ke karya kak Yuthika Sarah yang berjudul MERTUA KU KANG ATUR. Yuk segera kepoin 🏃🏃

__ADS_1



__ADS_2