
"Jordan, siapa Bang? Oh ... iya iya Aku ingat, bukannya itu pengacara Abang yang Abang ceritain kemarin?" tanya Nayla sembari melihat kearah mereka Moza dan Jordan.
"Hmm ... iya itu memang dia, wahhh ... jangan-jangan mereka mau balikan?" pikir Gerald sambil makan buah lemon yang terasa sangat masam itu, tapi anehnya dia berekspresi layaknya seorang yang makan buah jeruk manis, sedangkan Nayla hanya terlihat berekspresi meringis melihat sang suami yang sedang memakan buah lemon yang super masam itu.
"Kenapa kamu lihatin Abang kayak gitu? Mau ...?" tawar Gerald kepada istrinya yang kelihatan bergidik membayangkan betapa masamnya rasa jeruk lemon itu.
"Ihh ogah! Kecut itu Bang!" Nayla terlihat menolak buah lemon yang diberikan Gerald padanya.
"Enggak! Rasanya manis kok, sama persis rasanya bibir kamu ... mmmmmppptttthh!" dengan cepat Gerald mencium bibir istrinya dengan bibirnya yang masih terasa sisa rasa lemon yang masam itu.
"Mmmmmppptttthh ... ihh asem banget, Bang!" Nayla terlihat menjilati bibirnya yang baru saja dicium oleh suaminya, sementara Gerald terlihat begitu bahagia melihat ekspresi wajah Nayla.
"Iya iya sorry sayang! Maafin Abang. Sini Aku bersihin." Gerald menarik tangan Nayla dan Ia terlihat mengelap bibir Nayla dengan tisu agar rasa masam yang tertinggal itu lekas menghilang.
__ADS_1
Setelah beberapa saat kemudian Gerald membuang tisu itu. Dan Nayla pun kembali tersenyum. Sekilas Nayla masih melihat Moza yang sedang bersama Jordan, Nayla melihat Moza sepertinya sangat terhibur dengan kehadiran Jordan.
"Coba lihat deh, Bang! Kelihatannya Mbak Moza bahagia banget, ya! Semoga saja Jordan bisa membantu Mbak Moza melupakan Tuan brengsek itu, dan semoga saja Mbak Moza segera mendapatkan keadilan."
Gerald melihat ke arah mereka berdua, tak bisa dipungkiri dari dulu Jordan selalu membuat Moza tertawa, entahlah mungkin wajahnya yang imut dan menggemaskan membuat Moza betah ngobrol dengan Jordan.
"Iya Aku harap begitu! Mungkin itu sebabnya dari dulu Jordan selalu mencari-cari keberadaan Moza, ternyata dia masih mencintainya." ungkap Gerald yang tentunya sudah mengetahui rahasia mereka berdua.
"Hmm ... cinta pertama memang susah dilupakan ya, Bang?" Nayla tampak menyandarkan kepalanya pada pundak sang suami.
"Hiii ... berarti Abang pedofil nih!" seketika Gerald tertawa kecil mendengar ucapan dari Nayla.
"Hahaha ... tapi Abang nunggu kamu gede dulu! Baru Abang berani deketin kamu, dulu masih sangat kecil. Paling masih sebiji jagung tumbuhnya."
__ADS_1
"Diihh ... apaan yang sebiji jagung? Ngeres nih otak Abang, parah!" Nayla berpikir jika sebiji jagung adalah dua buah ceri yang berada di ujung bukit buah dadanya.
"Emangnya siapa yang ngeres? Kamu tuh yang ngeres, maksud Abang cintanya yang masih sebiji jagung. Sebenarnya yang ngeres itu Abang apa kamu sih, Nay! Heran mentang-mentang sekarang kamu sudah tahu rasanya jagung barbeque punyaku jadi kamu ikut terkontaminasi." celetuk Gerald sambil memakan jeruk lemon itu dengan santai.
"Hah ... jagung barbeque? Diihh ... dasar Abang mesum!"
Nayla terlihat tertawa kecil saat merasa obrolan mereka lari kemana-mana.
"Jagung barbeque punya Abang enak, kan? Noh buktinya biji jagung itu sampai tumbuh di rahim mu, memang benar-benar benih yang berkualitas."
"Udah deh, Bang! Jangan bicarakan tentang jagung, Nay jadi pingin. Pulang yuk!"
"Ayok nanti Abang kasih jagung Abang khusus buat kamu."
__ADS_1
...BERSAMBUNG...