
"Jadi, selama ini Kakak menyembunyikan rahasia itu dariku? Pantas saja Kakak akhir-akhir ini berubah. Kenapa Kakak nggak bilang terus terang saja, apa mungkin karena Kakak tidak ingin menyakiti ku? Oh ya Tuhan, jahat sekali Aku, harusnya bukan Aku yang menikah dengan Mas Al, tapi Kakak. Sementara besok pernikahan itu akan digelar." batin Shanum sembari memperhatikan anting-anting milik Sharen.
"Mas!"
"Hmm!"
"Bolehkah Aku membawa anting-anting ini, Aku rasa anting-anting ini memiliki nilai estetik yang tinggi sekali, Aku suka sekali mengoleksi aksesoris seperti ini. Jadi, saat pertama Aku melihat ini, Aku kok suka, ya! Itupun jika kamu mengizinkannya." pinta Shanum agar dirinya bisa membawa anting-anting milik Sharen.
"Hmm ... ya terserah kamu, lagipula anting-anting itu sudah tidak ada gunanya lagi." balas Al yang masih terus memperhatikan lurus ke depan.
"Aku tahu sebenarnya kamu sudah tahu siapa pemilik anting-anting ini, Mas! Mungkin kamu dan Kakak tidak mau menyakiti perasaanku. Apakah aku sangat egois sekali sudah tidak perduli lagi dengan kalian. Aku harus melakukan sesuatu, karena bagaimanapun juga bukan Aku gadis yang kamu harapkan, sedari awal Aku sudah merasa jika kamu tidak pernah memperhatikan ku, Mas! Harusnya Aku sadar itu." batin Shanum sembari merencanakan sesuatu untuk menyatukan Sang Kakak dengan Al.
*
*
*
Al mengantarkan Shanum pulang ke rumah, mobil mewah Al berhenti di depan rumah Moza, Shanum turun dari mobil dan terlihat sedikit berbicara dengan Al.
"Mas Al nggak mampir dulu?"
"Tidak, terima kasih. Aku harus segera pulang dan menyiapkan semuanya untuk keperluan besok, oh ya kamu suka dengan gaunnya, kan?" seru Al, mereka juga baru saja fitting baju pengantin pada butik terkenal.
"Suka, Mas! Suka sekali. Gaunnya sangat indah. Besok, Mas Al akan melihat gaun itu kupakai di hari pernikahan kita, dan Mas Al pasti suka." ucap Shanum.
"Tapi sayangnya gaun itu bukan Sharen yang memakainya, ah sudahlah! Mungkin kami memang tidak berjodoh." batin Al.
"Iya ... baiklah kalau begitu, Aku pulang dulu. Salam untuk Tante Moza dan Om Jordan." ucap Al sebelum dirinya meninggalkan rumah Shanum.
"Iya Mas, pasti. Oh ya Mas Al nggak kirim salam juga untuk Kakak? Kan sebentar lagi Kakak menjadi kakak iparnya Mas Al?" celetuk Shanum yang memancing bagaimana reaksi Al saat mendengar nama Sharen disebut.
"Hahhh ... Sharen? Ya ampun Shanum. Ya enggak lah, dia akan tetap menjadi rivalku, dari dulu dia selalu membuat ku kesal, meskipun dia adalah Kakak kandung mu, bagiku dia tetap si pipi bakpao." sahut Al dengan berpura-pura.
"Yakin Mas Al masih kesal dengan Kakak? Hmmm ya sudah! Aku tidak perduli kalian nanti bertengkar atau tidak, yang jelas nanti kita akan menjadi satu keluarga, dan semoga permusuhan Mas Al dan Kakak bisa berakhir dengan kasih sayang." mendengar Shanum berkata seperti itu, membuat Al sangat terkejut.
"Apa maksudmu?" tanya Al yang kian penasaran.
__ADS_1
"Oh ... nggak, nggak apa-apa. Lupakan! Ya sudah Shanum masuk dulu, sampai jumpa besok Mas, kita akan bertemu lag besok sebagai kakak adik."
"Kakak adik, kok kakak adik?" Al tampak menaikkan alisnya ketika mendengar ucapan Shanum.
"Ya ... kan gitu, emangnya gimana lagi. Om Gerald dan Tante Nayla aja panggilnya Abang, mereka masih terlihat seperti kakak beradik. Padahal sebenarnya suami istri." jawab Shanum dengan tawa kecilnya.
Al pun ikut tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Ya ya kamu benar."
Akhirnya setelah cukup bercanda, Al pun segera melajukan mobilnya. Tiba-tiba saja secara tak sengaja, Al melihat Sharen yang tengah berdiri di atas balkon kamarnya dengan memperhatikan kepergian Al. Seketika Al menatap wajah Sharen yang juga tengah memperhatikannya.
"Sharen!"
"Al? Idiiih ngapain sih dia lihat kesini?" Sharen tampak membalikkan badannya dan berpura-pura tidak melihat Al yang saat itu sedang berada di dalam mobil.
Shanum yang melihat itu tampak tersenyum melihat tingkah keduanya, dalam hati kecilnya. Ia akan memberikan kejutan untuk keduanya, mempersatukan mereka berdua untuk selamanya.
*
*
*
"Shanum! Make up artisnya sudah datang. Kamu bisa bersiap-siap sekarang, satu jam lagi pengantin pria akan datang." ucap Moza kepada Shanum.
"Iya, Ma!" Shanum menjawabnya dengan tersenyum. Setelah itu Moza datang ke kamar Sharen. Moza melihat Sharen yang sedang duduk di sebuah kursi yang menghadap ke arah jendela.
"Sharen! Kenapa kamu masih berada di sini? Kamu belum ganti baju?" tanya Moza yang melihat Sharen masih memakai piyama tidurnya.
"Mama! Iya Ma, sebentar lagi Sharen akan ganti baju." jawabnya sembari tersenyum paksa.
"Sharen! Kamu tidak apa-apa, kan? Jika kamu keberatan dengan pernikahan Adikmu, kamu bisa ngomong sekarang, sebelum semuanya terlambat." ucap sang Mama..
"Tidak, Ma! Sharen tidak keberatan. Sharen ikut bahagia melihat Shanum akhirnya menikah, Sharen akan tetap mendoakan kebahagiaan untuk mereka berdua."
"Kamu yakin?"
"Sangat yakin." jawab Sharen sembari menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Ya sudah, Mama tinggal dulu ke luar untuk bersiap-siap, dan kamu jangan lupa pakai baju yang Mama berikan, biar kita bisa seragam." ucap Moza sembari menunjuk baju kebaya yang sama modelnya dengan milik Moza.
"Iya, Ma! Pasti."
Setelah itu Moza keluar dari kamar Sharen dan meninggalkan putrinya untuk mengganti pakaian. Tak berselang lama terdengar suara ketukan pintu.
"Iya, Ma! Ini Sharen sedang ganti baju." jawab Sharen yang menyangka jika itu adalah sang Mama.
"Kakak ini Aku."
Seketika Sharen terperanjat, ternyata itu adalah Shanum, sang adik. Ia pun segera membukakan pintu untuk Shanum.
"Shanum? Ada apa ini?" Sharen sangat terkejut saat melihat Shanum membawa perias datang ke kamarnya, seharusnya sekarang Shanum yang dirias. Tapi, justru Shanum masih terlihat polos dan datang ke kamar sang Kakak.
"Aku ingin bicara dengan Kakak." ujar Shanum sembari membawa tukang rias itu ke dalam kamar Sharen.
...,BERSAMBUNG...
*
*
*
Yuk yuk mampir dulu ke novel punya kak Merpati_Manis yang berjudul HARTA TAHTA DAN PERJAKA. Yuk kepoin 🏃🏃🏃
Meski terlahir dan tumbuh dalam keluarga yang harmonis dan santun, tetapi Mirza tetaplah sosok anak muda yang butuh mengekspresikan diri dan ingin menikmati kebebasan masa mudanya.
Ia menjadi pemuda yang urakan dan sering gonta-ganti pacar dengan dalih penjajakan untuk menentukan sebuah pilihan yang tepat, gadis pilihan yang akan Ia jadikan sebagai istri.
Namun, dari banyaknya gadis yang Ia pacari, tak satupun yang bisa memenuhi kriteria Mirza. Kriteria istri idaman, yang membuat semua keluarga tercengang.
"Mereka semua adalah gadis yang tidak bisa menjaga dirinya dengan baik, masak baru pacaran sudah minta cium?" gerutu Mirza.
Akankah Mirza, dapat menemukan gadis seperti yang Ia idam-idamkan?
__ADS_1