Hasrat Terlarang Abangku

Hasrat Terlarang Abangku
Bab 73 HTA


__ADS_3

Setelah Gerald berhasil mendapatkan Nayla, Ia pun melepaskan ciumannya. Nayla yang masih terpejam terlihat mengatur nafasnya karena sang Abang baru saja menyerangnya secara tiba-tiba. Sehingga membuat nya panik dan terkejut.


"Abang! Kamu selalu membuatku kaget saja." Nayla terlihat memukul-mukul dada Gerald. Pria itu justru tertawa kecil.


"Abang kangen banget sama kamu, pulang dong!"


"Oma?"


"Ada di luar, sekarang Aku akan bilang ke Oma, jika kita sudah menikah, dan Aku akan membawamu pulang kembali, agar Aku bisa menjagamu dan bayi kita." ucap Gerald sembari mencium perut istrinya.


Nayla mengusap lembut rambut sang suami, ada rasa bahagia bercampur khawatir, Ia masih takut jika Hera tidak menyetujui hubungan mereka.


Sementara di luar, Hera kemudian mulai membahas tentang rencana pernikahan Moza dan Gerald, tentu saja Moza dan Nurmala sudah menyiapkan kejutan untuk Hera.


"Jadi bagaimana Nyonya, apakah pernikahan Gerald dan Moza bisa dilaksanakan secepatnya?"


Nurmala tersenyum menanggapi ucapan Hera, kemudian Ia pun mulai memberanikan diri untuk mengatakan siapa dia yang sebenarnya.


"Nyonya Hera! Saya sangat berterima kasih sekali kepada Anda sudah berkenan menjadi calon besan Saya. Tapi, sayang bukan Moza yang akan menikah dengan Gerald tapi dengan putri Saya yang lainnya." Hera terperanjat saat mendengar Nurmala berkata seperti itu, pasalnya yang Ia ketahui, Nurmala hanya memiliki seorang putri dan itu adalah Moza.


"Putri Nyonya yang mana lagi? Bukannya putri Nyonya hanya Moza?" tanya Hera penuh tanda tanya. Moza dan Nurmala saling menatap, kemudian Moza mulai mengatakan sesuatu yang akan membuat Hera terkejut bahkan shok.


"Oma! Sebenarnya ada sesuatu yang harus Oma ketahui, sebelum semuanya terlambat. Mama Nurmala adalah Mama saya yang paling baik, beliau sudah Saya anggap sebagai Mama kandung Saya sendiri."


"Tunggu-tunggu, maksudnya Nyonya Nurmala bukanlah Mama kandung kamu, Moz?" ucap Hera memotong pembicaraan Moza.

__ADS_1


Moza menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk tersenyum.


"Bukan! Mama Nurmala akan wanita yang paling baik yang pernah Moza temui, beliau sangat menyayangi Saya seperti putri kandungnya sendiri, meskipun Saya tidak terlahir dari rahim Mama Nurmala, tapi saya sangat bangga dengan beliau, Mama Nurmala selalu memberikan kasih sayangnya yang tulus, beliau bukan hanya sekedar seorang Ibu, tapi beliau adalah malaikat bagi saya." ungkap Moza dengan bangga.


Hera pun ikut tersenyum bahagia, Ia semakin bangga dengan sifat calon besannya itu, tak salah lagi jika Ia memilih berbesan dengan Nurmala.


"Tapi sayang, kenapa masih ada yang menganggap Mama Nurmala itu Ibu yang tidak baik, mereka hanya menilai dari masa lalunya yang kelam, sungguh sangat disayangkan, Saya suka heran dengan mulut-mulut orang yang seperti itu, mereka itu juga wanita, benar-benar tidak memiliki empati sama sekali, padahal sama-sama wanita. Harusnya mereka tidak bicara seperti itu, karena bagaimanapun juga setiap manusia pasti mempunyai masa lalu." Moza berkata sembari menatap wajah sang Mama.


"Iya benar! Setiap orang pasti mempunyai masa lalu, mungkin orang yang berkata seperti itu kepada Nyonya Nurmala adalah orang yang tidak berprikemanusiaan, tidak memiliki rasa kepedulian, semoga saja orang yang sudah mengatakan hal yang buruk tentang Nyonya Nurmala segera sadar bahwa Nyonya Nurmala tidaklah seburuk yang dikira." ucap Hera menyahuti.


"Oma! Sebenarnya Mama Nurmala memiliki seorang putri yang sangat cantik, dan sebenarnya Adik saya itulah yang akan dijodohkan dengan Gerald, bukan saya. Dia juga ikut datang ke sini, tapi dia masih ke toilet."


"Benarkah? Wah pasti putri kedua Nyonya Nurmala juga tak kalah cantik dan baiknya dengan Moza!" seru Hera yang masih belum menyadari jika gadis yang dimaksud oleh Moza adalah Nayla. Moza tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Apa? Jadi Adikmu sudah tahu tentang Gerald? Wah itu bagus dong, berarti akan lebih mudah untuk menjodohkan mereka berdua, mungkin saja Gerald juga tertarik dengan putri kedua Nyonya Nurmala." balas Hera bangga.


"Tentu saja Oma! Gerald pun sudah sangat mengenalnya, dan mereka berdua pun terlihat akrab, bahkan lebih dari itu, mereka berdua bisa dikatakan sebagai sepasang kekasih yang saling mencintai." ungkap Moza dengan bangga.


"Haaa ... benarkah? Kenapa Gerald tidak pernah bilang sama Oma, jika dia punya menyukai seorang gadis, kalau saja Oma tahu dari dulu, pasti Oma segera menikahkan mereka berdua. Daripada sama Nayla, Oma sangat tidak suka jika Gerald sama dia." ucap Hera yang akhirnya menyinggung tentang Nayla.


"Nayla siapa, Oma?" tanya Moza sembari mengerutkan keningnya, berpura-pura tidak tahu padahal Ia hanya memancing apa yang akan Hera katakan.


"Nayla itu cucu angkat Oma, nah si Gerald ini kayaknya naksir sama Adiknya, ya Oma ngga setuju lah." ucap Hera dengan sinis.


"Kenapa Oma ngga setuju? Bukannya Nayla cuma adik angkatnya Gerald? Sah-sah saja, kan? Nggak ada yang perlu dikhawatirkan." balas Moza yang terus memancing tanggapan Hera.

__ADS_1


"Iya sih mereka tidak ada hubungan darah, tapi Oma tetap nggak setuju, kalau saja kalian tahu siapa Ibu kandung Nayla, pasti kalian tidak akan menyangka." Hera mulai menyinggung tentang Ibu kandung Nayla yang tak lain adalah Nurmala.


"Memangnya kenapa dengan Ibu kandung Nayla, Oma?" tanya Moza menyelidik.


"Ibunya Nayla itu bukan wanita baik-baik, dulu dia itu wanita malam, hii ... benar-benar menjijikkan, bukan! Makanya itu Oma tidak bisa menyetujui jika Gerald menikah dengan Nayla, sampai kapanpun!"


Nurmala hanya bisa menghela nafasnya, Ia tahu kenapa Hera bersikap seperti itu kepada putrinya, ternyata masa lalunya masih dipermasalahkan oleh Hera.


"Apakah manusia itu harus selalu buruk, Oma? Bagaimana jika seandainya Ibu kandung Nayla sudah berubah menjadi wanita yang lebih baik, apakah Oma bisa menerima Nayla?" Moza terus mengejar kata-kata Hera tentang Nurmala.


"Ya nggak mungkin lah, dia itu miskin, mana mungkin dia bisa berubah, miskin ya tetap miskin, Oma yakin jika sekarang Ibu kandungnya masih menjadi wanita malam."


Moza menghela nafasnya dalam-dalam, rupanya Hera cukup menguras emosinya, sebenarnya Ia sangat tidak tahan jika Nurmala diperlakukan seperti itu oleh Hera.


Saat Moza tahu, Nayla dan Gerald sedang datang menuju ke meja makan, saat itu juga Moza memberitahu kan tentang siapa Adiknya.


"Sekarang Oma harus tahu kebenarannya, dan Moza berharap Oma bisa berlapang dada jika Saya bukanlah gadis yang dijodohkan dengan Gerald, Gerald adalah teman saya, dan selamanya Saya akan menganggap nya sebagai teman. Tapi, Adik saya yang akan menjadi penggantinya, semoga Oma bisa menerima kehadiran Adik saya sebagai cucu menantu Oma!" seru Moza sembari memberikan kode kepada Gerald untuk segera datang ke meja makan.


"Iya, Oma akan menerimanya, putri Nyonya Nurmala pasti gadis yang baik, Oma akan menerimanya dengan ikhlas." jawab Hera sembari tersenyum.


"Baiklah Oma! Sepertinya mereka sedang menuju kemari. Itu Adik Saya!" ucap Moza sembari menunjuk ke arah Nayla dan Gerald yang sedang berjalan menuju ke meja makan di mana Hera masih duduk membelakangi mereka.


"Benarkah mereka datang ke sini, Aku sudah tidak sabar ingin melihat cucu menantu ... ku ... a-apa?" ucap Hera sembari membalikkan badannya kearah Nayla dan juga Gerald. Sungguh sang Oma begitu terkejut dan membulatkan matanya saat melihat Nayla dan Gerald yang sedang berjalan menghampirinya.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2