Hasrat Terlarang Abangku

Hasrat Terlarang Abangku
Bab 23 HTA


__ADS_3

Setelah beberapa detik, Gerald melepaskan pagutan mesranya, Ia menatap bola mata Nayla dengan mesra sembari menyelipkan rambut Nayla di belakang telinga nya. Entah kapan mereka berpindah duduk di kursi belakang, sehingga mereka leluasa berpacaran di sana.


"Kamu cantik sekali, sayang! Aku janji sama kamu, Aku akan segera meyakinkan Oma agar menyetujui hubungan kita, Aku mohon sama kamu jangan pernah tinggalkan Aku, Nayla!"


"Kok Aku yang ninggalin kamu sih! Bukannya kamu mau dijodohkan sama Oma, pasti Abang bakal lupa sama Aku, secara pilihan Oma tuh pasti lebih cantik dari Aku, lebih kaya, dan tentunya lebih segalanya." Nayla menundukkan wajahnya.


"Hei ... apa yang kamu pikirkan! Itu semua tidak akan bisa menggodaku, Aku mengenal Moza dari dulu, dia memang gadis yang ceria, baik, Aku yakin dia pasti juga tidak menginginkan perjodohan ini."


"Bagaimana kamu bisa yakin, Bang?" Nayla terlihat penasaran.


Gerald menghela nafasnya dan Ia berbaring dengan posisi kepalanya berada di atas pangkuan Nayla.


"Kau tahu! Dulu Aku dan Moza sering sekali olok-olokan, dia bilang nggak suka dengan cowok modelan kayak Abang, katanya Abang tuh lemes, letoy, ngga enerjik, padahal Abang kan tampan, iya nggak sih? Masa Abang dibilang gitu." gerutu Gerald saat mengingat masa-masa saat Ia masih SMA bersama Moza.


"Hmm ... Abang dulu kurus banget sih soalnya, ya pantes aja Mbak Moza bilangnya gitu, tepos!" timpal Nayla sembari menjulurkan lidahnya. Seketika Gerald mencubit hidung Nayla dan berkata, "Enak aja dibilang tepos! Biarpun tepos tapi kamu selalu pegangin, kan?" celetuk Gerald sambil menyembunyikan wajahnya pada perut Nayla.


"Diiih siapa juga yang pegangin, itu spontan, Bang! Nay kaget aja Abang sih gerakin nya terlalu cepat," ungkap Nayla sembari memutar bola matanya. Gerald tertawa kecil melihat ekspresi wajah sang istri.


"Tapi enak, kan? Ayo ngaku nggak?" Gerald mengangkat kepalanya dan menghadap kearah dua gunung kembar Nayla.

__ADS_1


"Nggak nggak, ngga enak!" ucap Nayla sembari menahan rasa ingin tertawa nya. Mendengar itu Gerald langsung membenamkan wajahnya pada kedua gundukan yang berada di depan nya, sontak membuat Nayla kaget dan kegelian, Ia pun berusaha menjauhkan kepala Gerald dari arah sana, tapi percuma Gerald sudah berhasil membuka kancing baju Nayla sebanyak tiga buah, tentu saja dua bongkahan itu menyembul sangat indah dan mempesona. Mata lelaki mana yang tidak tergiur untuk menjamahnya.


"Wow ini benar-benar indah, eh warna nya masih cerah merona, Aku benar-benar hebat kan, Sayang! Aku bisa melukis tanda cinta ini di sini, hmm Aku kasih lagi, ya!" seru Gerald sembari menatap wajah sang istri yang terlihat mulai tak karuan.


"Ah Abang! Nakal banget sih kamu, geli tahu nggak!" Nayla merremas rambut sang suami tatkala Gerald kembali menciptakan sebuah karya seni yang indah dan penuh dengan gairah pada area dada sang istri.


Setelah puas menciptakan karya terbaiknya di sana, Gerald pun memperhatikan secara seksama apa yang baru saja Ia ciptakan.


"Wow! Keren kan, Sayang!" ucapnya sembari tersenyum menatap wajah Nayla yang terlihat bersemu merah. Nayla melihat hasil karya sang suami yang spektakuler. Ia hanya bisa menghela nafasnya dan tersenyum malu-malu.


Sementara itu Gerald mulai mengintai daerah yang lainnya, matanya tertuju pada leher putih nan mulus Nayla, Nayla yang tahu sorot mata Gerald menghadap kemana, Ia pun segera menutupi mulut suaminya dengan telapak tangannya, karena Ia tahu jika Gerald pasti akan menyerang area leher Nayla.


Benar saja, Gerald dengan cepat membuka kedua tangan Nayla dan segera menyingkirkan tangan itu dari mulut nya, sementara itu Nayla spontan menjerit saat Gerald langsung mendaratkan kecupan nya pada area leher itu.


Nayla terus berusaha untuk mendorong Gerald agar dirinya tidak melakukannya di tempat terbuka seperti area leher, Nayla khawatir jika bekas nya terlihat oleh orang lain. Gerald rupanya tidak menggubris permintaan Nayla, Ia pun menikmati dan semakin asyik, bak seorang vampir yang haus darah.


Setelah beberapa detik, Gerald pun melepaskan pagutan nya dan Ia tampak tersenyum lebar. Sembari meraba leher Nayla yang sudah Ia beri stempel kepemilikan.


"Abang! Nay udah bilang, jangan disini, kalau ada yang lihat, gimana Nay menyembunyikan nya?" ucap Nayla khawatir.

__ADS_1


"Nggak kelihatan kok, Kalau rambut kamu di arahkan ke depan, tuh nggak kelihatan, kan!" balas Gerald sembari menata rambut panjang Nayla ke arah depan.


"Awas saja kalau sampai kelihatan, Nay ngga akan maafin Abang!"


"Loh kok gitu sih, Abang kan suami kamu!"


"Ihh ... Iya Nay tahu, tapi Nay masih sekolah, Bang! Nggak enak sama teman-teman, entar dikiranya macem-macem." seru Nayla sembari membuka tasnya, Ia mendengar suara ponselnya berdering. Sementara Nayla sedang membuka ponselnya, Gerald sedang asyik bermain dua kelereng yang berada di pucuk Mount Everest milik Nayla.


Sesekali Nayla meringis dan menggigit bibir bawahnya ketika Gerald memilin-milinnya dengan lembut.


"Bi Jum? Ada apa Bi Jum menghubungi ku?" batin Nayla sembari membuka pesan WhatsApp dari Bi Jum.


"Non Nayla dan Tuan muda Gerald sekarang ada di mana? Di rumah ada Nyonya besar menunggu kedatangan kalian berdua, cepat pulang Non! Bi Jum khawatir Nyonya besar akan marah!"


Seketika Nayla langsung mendorong kepala Gerald yang sedang menikmati indahnya dua buah ceri segar itu, sehingga Gerald sangat terkejut dan kebingungan saat Ia kehilangan dua buah ceri kesukaan nya.


"Ada apa sih, Sayang! Ngagetin aja, orang lagi enak-enak nikmati buah ceri malah di dorong!" umpat Gerald kesal.


"Bi Jum ngirim pesan sama Nay, kita harus pulang sekarang, Bang! Oma Hera sedang menunggu kedatangan kita!"

__ADS_1


Mendengar ucapan Nayla, Gerald terlihat menyandarkan kepalanya pada jok mobil di samping Nayla, pria itu tampak malas untuk bertemu dengan sang Oma.


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2