
Sementara itu seorang pria yang beberapa hari ini bingung tidak bisa menghubungi wanita yang sudah membuatnya tak tenang, Arthur yang saat itu sedang berada di dalam ruangan kerjanya, Ia menatap arah jendela kantor nya, biasanya Ia melihat mobil Moza yang sedang terparkir karena sedang mencarinya, kini Arthur melihat ada yang berbeda, sepertinya Moza menghindar darinya.
"Ada apa dengan Moza? Kenapa dia tidak lagi menghubungi ku? Apa gadis itu sudah melupakan ku?" batin Arthur bertanya-tanya.
"Aku tidak bisa seperti ini, Aku harus bertemu dengannya, Aku ingin tahu kenapa dia menghindariku," Arthur terlihat begitu gelisah, baru kali ini Ia ditinggal oleh seorang gadis yang belum membuatnya puas, biasanya dia yang meninggalkan gadis-gadis yang sudah Ia perdaya, tapi kali ini justru dirinya yang ditinggal kan dan itu semakin membuat Arthur penasaran.
*
*
*
Di rumah, Moza masih kepikiran omongan Gerald, apa jangan-jangan Gerald benar, jika dirinya hamil. Untuk itu Ia menyuruh seorang pelayan untuk membelikan dirinya testpack, Ia ingin memastikan saja, dan semoga dirinya tidak hamil anak Ayah kandung nya sendiri.
__ADS_1
Moza terlihat panik saat menunggu sang pelayan yang sedang membeli testpack untuknya, dan tak berselang lama pelayan itu datang dengan membawa sebuah testpack yang akan Ia berikan kepada Moza.
"Ini Nona!"
"Terima kasih!"
Moza segera mengambil testpack itu, kemudian tanpa pikir panjang Ia segera masuk ke kamar mandi. Untuk beberapa menit Ia menunggu hasil pemeriksaan kehamilan instan itu. Wajahnya begitu gugup, Ia benar-benar penasaran dengan hasil tes tersebut.
"Syukurlah yang Tuhan! Aku tidak hamil, terima kasih banyak Tuhan, terima kasih banyak." tak henti-hentinya Moza mengucap rasa syukur karena dirinya tidak mengandung anak dari Ayah kandungnya sendiri.
Setelah Moza keluar dari kamar mandi, Ia pun bisa bernafas dengan lega, setidaknya hal yang begitu menakutkan telah hilang, sekarang dirinya harus memulai hidup yang baru, Ia tidak ingin menjadi Moza yang seperti dulu, Ia ingin menjadi Moza yang sekarang, yang kuat dan tidak mudah terpedaya oleh laki-laki manapun, petualangan nya Ia akhiri, Ia ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi, meskipun semua itu tidak akan pernah bisa mengembalikan kehormatannya, tapi setidaknya Ia ingin melupakan masa lalunya.
Tiba-tiba saja Moza mendapati ponselnya berdering, sejenak Ia melihat ke layar ponselnya, sebuah nomor tak dikenal sedang menghubunginya.
__ADS_1
"Nomor tak dikenal? Jangan-jangan itu nomornya pria brengsek itu? Tidak-tidak, Aku tidak mau menerimanya, Aku tidak mau bertemu dengannya." Moza terlihat menjauhi ponsel nya, seolah dirinya sangat muak harus mengingat Arthur lagi.
Sementara di seberang sana, seorang pria terlihat berkali-kali melihat ke layar ponselnya, Ia sedikit kesal karena Moza tak jua mengangkat telepon darinya.
"Kok nggak diangkat-angkat sih, si Moza kemana lagi! Apa jangan-jangan Gerald salah ngasih nomor lagi." akhirnya pria itu terpaksa mengirimkan pesan singkat ke nomor Moza.
Suara dering ponsel Moza mulai berhenti, sejenak Moza memperhatikan ponselnya dan Ia mulai mendekatinya. Setelah itu perlahan Ia mengambil ponselnya, berharap Ia segera memblokir nomor yang Ia sangka milik Arthur, Ia pun segera membuka layar ponselnya, seketika Ia terkejut saat melihat sebuah pesan singkat dari nomor yang sudah menghubunginya tadi.
Moza pun membuka pesan WhatsApp itu dan membacanya. Setelah Ia membacakan seketika wajah nya berubah menjadi tersenyum, rupanya Ia mendapatkan pesan singkat dari seseorang dari masa lalunya yaitu Jordan.
"Hai Moza! Ini Aku Jordan, masih ingat kah kamu dengan ku? Pria hitam manis yang dulu pernah kamu katain seperti kopi?"
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1