
"Bukan urusanmu, sini! Serahkan Moza padaku! Ayo Moza kamu ikut Daddy!" Arthur terus memaksa Moza untuk ikut dengannya, karena geram Jordan menahan tangan Arthur dan memutarnya dengan sedikit kasar, alhasil Arthur terlihat sangat kesakitan, pria itu mengerang merasakan tangannya yang terasa begitu sakit. Kini Jordan mengunci Arthur agar pria itu tidak bisa bergerak.
"Arrrggghhhhh!" dengan satu tangannya Jordan terlihat santai dan mengatakan sesuatu kepada Arthur yang tampak mengerang. "Saya sudah bilang, Moza tidak mau ikut bersama Anda,Tuan! Sebelum Saya mematahkan tangan Anda, ada baiknya Anda pergi!" ancam Jordan dengan kesal. Sementara itu asisten Arthur yang hendak menolong Bos nya itu terlihat berhenti karena Arthur memberikan kode untuk tidak mendekat.
"Oke aku akan pergi, tapi lepaskan dulu tangan ku!" balas Arthur dengan menahan rasa sakit pada tangannya. Setelah Arthur memohon kepada Jordan agar melepaskan tangannya, Jordan pun membisikkan sesuatu pada telinga Arthur. "Jangan pernah ganggu Moza lagi, jika Anda berani ganggu Moza, Anda akan bermasalah dengan Saya, pergi sana!" setelah mengatakan hal itu Jordan segera mendorong tubuh Arthur dan melepaskannya begitu saja, kemudian Ia menghampiri Moza dan segera membawanya pergi.
"Ayo kita pergi!" Jordan dan Moza segera pergi menuju mobil mereka, sementara Arthur terlihat mengepalkan tangannya saat melihat Moza pergi dengan laki-laki itu.
"Kurang ajar! Moza ... Aku tidak akan pernah melepaskan mu!" batin Arthur dengan wajah geramnya.
Jordan dan Moza kini berada di dalam mobil, dengan cepat mobil mewah Jordan pergi meninggalkan tempat itu, dan tentu saja mobil Jordan melewati depan mobil Arthur, Moza terlihat memalingkan wajahnya saat Arthur menatap dirinya. Seolah-olah Moza sudah tidak mau melihat wajah pria itu lagi. Dan setelah mobil Jordan berada jauh meninggalkan mobil Arthur, Moza bisa bernafas dengan lega.
"Aku minta maaf sama kamu, Aku sudah membuatmu repot!" ucap Moza sembari menundukkan wajahnya.
"Sudahlah tidak apa-apa, Aku paling tidak suka melihat pria yang suka memaksa wanita, jadi ya Aku spontan pasti seperti itu, emm ... ngomong-ngomong ada hubungan apa kamu dengan pria itu? Kenapa dia begitu ingin membawamu pulang? Maaf bukannya Aku mau ikut campur, cuma aneh aja, tapi ya kalo kamu tidak mau jawab, Aku nggak akan maksa, ya sudah Aku tidak akan bertanya lagi" ucap Jordan.
Moza terdiam, dia hanya bisa menundukkan wajahnya dan tiba-tiba saja gadis itu menangis. Tentu saja Jordan sangat terkejut saat melihat Moza yang tetiba mengeluarkan air matanya.
__ADS_1
"Moz! Kamu kenapa?" Jordan terlihat panik saat mengetahui Moza yang sedang bersedih. Pria itu terlihat memberikan tisu untuk Moza, agar gadis itu mengusap air matanya yang sudah membanjiri wajah cantiknya.
"Hubungan ku dan dia sangat rumit, dia adalah Ayah kandung ku!" seketika Jordan menoleh ke arah Moza yang sedang menangis tersedu-sedu.
"Apa? Dia ayahmu? Bukannya Ayahmu adalah Om Heru?" tanya Jordan yang sebelumnya sudah mengetahui siapa Ayah Moza selama ini, yaitu Heru bukan Arthur.
"Iya ... ceritanya panjang, ternyata Papa Heru bukanlah Ayah kandung ku, dia Ayah tiri ku yang sangat baik, yang mengakui ku seperti putrinya sendiri, padahal Aku bukanlah darah dagingnya, Aku adalah anak dari seorang penjahat seperti Arthur." ungkap Moza kepada Jordan.
"Apa? Kamu bukan anak kandung Om Heru, tapi anak kandung laki-laki itu? Astaga! Ternyata Aku sudah berbuat kurang ajar kepada Ayahmu, maafkan aku, Moz! Lantas kenapa kamu tidak mau ikut dengan Ayah kandung mu, bukankah sekarang kamu sudah mengetahuinya." balas Jordan yang juga belum mengetahui cerita yang sebenarnya.
"Apa? Aku ikut dengannya? Itu sama saja pergi bunuh diri, dia laki-laki brengsek yang sudah membuat kehidupan putri kandungnya sendiri hancur, dia tidak pantas disebut sebagai seorang Ayah, tapi penjahat! Aku benci dia, Aku benci!"
"Sssttt sudah-sudah, kamu jangan menangis. Katakan! Apa yang sudah diperbuat oleh Ayahmu, sehingga kamu seperti ini?" Jordan terlihat mengusap rambut Moza dengan lembut, sungguh dia merasa ikut sakit melihat wanita yang dicintainya itu menangis.
Moza melepaskan pelukan Jordan, dirinya tahu diri, Ia tak pantas mendapatkan perhatian dari laki-laki baik seperti Jordan.
"Ma-maaf, harusnya Aku tidak mengatakan hal ini kepada mu."
__ADS_1
"Rahasia apa yang kamu sembunyikan dariku, Moz?" tanya Jordan sembari menatap dalam-dalam bola mata yang sendu itu.
Sejenak Moza mengatur nafasnya, Ia melihat ketulusan hati Jordan lewat tatapan matanya.
"Jika Aku mengatakannya, apa kamu masih mencintaiku? Dan jika Aku mengatakan yang sejujurnya, apa kamu masih mau mengharapkan gadis seperti Aku?" pertanyaan Moza sekilas membuat Jordan tersenyum.
"Ngomong apa sih kamu, baik buruknya kamu, siapapun kamu aku tidak perduli, Aku akan tetap mencintaimu."
"Jangan terlalu yakin, karena Aku tahu setiap laki-laki pasti menginginkan kesempurnaan pada pasangannya, sedangkan Aku adalah seorang gadis yang sudah layu sebelum berkembang, bahkan sudah mati karena bunga itu sudah tercabut dari akarnya, hidupku sudah tidak ada gunanya lagi." sesal Moza yang tentunya membuat Jordan semakin penasaran.
"Apa maksudmu?"
"Dia ... pria itu, pria yang seharusnya melindungi putrinya, dia juga yang sudah menghancurkan hidup putrinya, Aku dan dia pernah terlibat hubungan terlarang, layaknya seekor binatang, hubungan kami terlanjur jauh, Aku dan dia sudah ... sudah ...!" Moza tidak bisa melanjutkan kata-katanya, air mata itu sudah tidak bisa lagi ditahan, Ia merasa tidak kuat lagi untuk meneruskan ceritanya.
Lagi-lagi tangan lembut itu meraih tubuh Moza dan memeluknya dengan kasih.
"Sssttt sudah-sudah tidak apa-apa, semuanya pasti baik-baik saja."
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...