
"Moza anakku?" kata-kata itu terlambat Ia ucapkan, sementara Gerald terus berusaha meyakinkan Arthur jika dirinya adalah Ayah kandung Moza.
"Benar sekali Pak Arthur, Moza adalah putri kandung Anda, putri Lea yang sudah Anda perkosa, saya benar-benar tidak menyangka jika Anda lebih bejat daripada binatang, putri kandung Anda sudah Anda rusak sendiri, di mana naluri Anda sebagai seorang Ayah, sekarang Anda lihat bagaimana Moza berusaha untuk bangkit dan melupakan siapa Ayahnya, dan jangan pernah berharap Moza akan memanggil Anda dengan sebutan Ayah, pria seperti Anda tidak pantas untuk dipanggil sebagai seorang Ayah."
Seketika seluruh ruangan itu hening, kenyataan apa lagi yang terungkap, bukanlah pernikahan sedarah yang diungkap, tapi hubungan terlarang antara Ayah dan anak yang tanpa sengaja terkuak dari rahasianya.
Baik kepala sekolah maupun segenap dewan guru sangat terkejut dan tidak menyangka jika pria yang sangat disegani itu ternyata seorang predator, bahkan anak kandungnya sendiri pun Ia mangsa.
Sementara Rio pun tidak menyangka jika Moza adalah saudaranya, Ia melihat tatapan mata Sang Papa kosong, terlalu berat kenyataan yang Ia hadapi.
__ADS_1
"Mo-Moza anakku? Ya Tuhan apa yang sudah Aku lakukan!" Arthur duduk bersimpuh, dirinya merutuki perbuatannya sendiri, bagaimana dirinya dengan rakus menghancurkan kehidupan putri kandungnya sendiri.
Pria itu tertunduk, entah sedari kapan Ia menjatuhkan air matanya, pundaknya bergerak-gerak mengikuti tangisnya yang kian mengharu biru dan sesekali tertawa cekikikan.
"Pa! Papa tidak apa-apa, kan?" Rio berusaha untuk membuat sang Papa tenang. Namun laki-laki itu tampak terus mengeluarkan air mata dan tawanya yang terkadang terdengar begitu aneh, tak ada kata yang terucap dari mulut Arthur, seolah bibirnya sudah terkunci rapat, percuma dia harus berkata-kata jika apa yang sudah Ia lakukan terlanjur membuat kehidupan putrinya menderita.
Rio berusaha untuk menggerakkan tubuh sang Papa, tapi percuma Arthur seolah tidak menghiraukan sekelilingnya, seolah jiwanya sudah berada ditempat lain.
"Pak kepala sekolah, tolong Papa saya, Pak! Papa Saya kenapa bisa seperti ini! Papa ...!" kepanikan Rio tak bisa tertahankan, Gerald pun melihat Arthur yang shok berat. Karena kasihan Gerald membiarkan Arthur dibawa ke rumah sakit jiwa, sementara Rio tetap dalam proses hukum, Ia langsung dijemput polisi saat itu juga.
__ADS_1
"Bang! Kenapa Tuan brengsek itu dibiarkan lepas, harusnya dia dipenjara juga dong!" ucap Nayla sembari melihat Arthur dijemput oleh petugas medis rumah sakit jiwa.
"Abang tahu, tapi sepertinya Arthur mengalami shok dan depresi berat, sehingga membuatnya seperti itu, tapi kamu jangan khawatir dia tetap dalam pengawasan kita, setidaknya dia sudah mendapatkan ganjarannya, Abang berharap Moza bisa hidup bahagia tanpa mengingat Ayahnya lagi, sebentar lagi dia akan menikah dengan Jordan, kabar ini setidaknya bisa menenangkan hati Moza."
"Iya Abang benar! Semoga Tuan brengsek itu mendapatkan hukuman yang setimpal, setidaknya Mbak Moza tidak khawatir lagi Ayahnya mencari-cari keberadaan nya, nggak bisa bayangkan bagaimana hancur dan sakit nya perasaan Mbak Moza saat tahu Tuan brengsek itu adalah Ayah kandungnya. Pasti hancur banget, sama halnya saat Aku tahu jika Abang tega banget maksa Nay waktu itu. Huuuhh Nay benci banget sama Abang, dunia tuh kayak runtuh seketika saat tahu kakak yang biasa kita sayangi ternyata tega banget ngelakuin itu." ungkap Nayla ketika dirinya saat pertama kali disentuh oleh Gerald, di mana waktu itu Gerald masih menyembunyikan status mereka berdua. Dan Nayla masih menganggap jika Gerald adalah Abang kandungnya.
"Ya ... kalau itu beda, Nay! Kan Abang sebenarnya bukan saudara Kamu, habisnya kamu goda Abang mulu sih, ya Abang nggak bisa mengontrol hasrat terlarang Abang, padahal Abang rencananya mau jujur dulu baru melakukannya, tapi mau gimana lagi kamu nya yang ngeyel mulu, jadi Abang lost control deh, eh keterusan sampai sekarang." Gerald berkata sembari tersenyum kepada Nayla yang tampak tersenyum malu.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1