Hasrat Terlarang Abangku

Hasrat Terlarang Abangku
Bab 22 HTA


__ADS_3

Setelah itu terdengar suara dari kejauhan yang memanggil nama Nayla.


"Nayla ... !!! Cepetan bolanya mana?" seru Rita yang berada di lapangan sekolah bersama beberapa teman mereka. Nayla segera menoleh ke arah teman-temannya, Ia melihat Rita dan juga teman-teman yang lainnya sedang menunggu dirinya.


"Maaf, Bu! Saya harus segera pergi, terima kasih banyak atas kebaikan Bu Nurmala kepada Saya atas pemberian kalung berlian ini, terima kasih!" ucap Nayla sebelum dirinya pernah menghampiri teman-temannya.


"Iya, sama-sama."


Akhirnya, Nayla kembali ke lapangan sekolah untuk datang kepada teman-temannya, sesekali Ia melihat kalung berlian yang Ia genggam, sungguh kalung berlian yang sangat indah, Nayla sempat berfikir bagaimana bisa wanita itu semudah itu memberikan kalung berlian kepada nya, padahal Ia baru saja mengenalnya.


"Siapa sebenarnya wanita itu? Kenapa tiba-tiba dia memberikan kalung ini padaku?" batin Nayla.


Setelah Nayla tiba di hadapan teman-temannya, Ia pun undur diri untuk istirahat dan Nayla memberikan bola itu pada teman yang lainnya, sementara dirinya akan pergi untuk mengganti pakaian olahraga nya dengan seragam sekolah.


"Nayla tunggu!" seru Rita yang juga mengikuti Nayla pergi. Nayla berhenti dan membalikkan badannya kearah Rita.


"Kamu mau kemana, Nay?"


"Ganti baju!" jawabnya sembari mengusap keringat yang keluar membasahi dahi dan wajah cantiknya.


"Ya udah! Aku juga mau ganti baju!"


Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk ganti pakaian olahraga mereka dan membersihkan badan mereka yang penuh dengan keringat.


Sebelum mereka tiba di kamar ganti, secara tidak langsung Nayla melihat Nurmala yang sedang menemui kepala sekolah, ruangan kepala sekolah yang tidak ditutup memudahkan untuk mengetahui siapa saja yang bertemu dengan kepala sekolah.


Nayla menghentikan langkahnya dan berkata kepada Rita, "Tunggu dulu Rit!" Nayla dan Rita berhenti dan menatap ke arah ruangan kepala sekolah dimana Nurmala sedang berbincang dengan kepala sekolah.


"Kamu tahu siapa wanita itu! Yang sedang duduk bersama kepala sekolah!" tanya Nayla kepada Rita, sejenak Rita mengerutkan keningnya dan memperhatikan wanita yang ditunjuk oleh sahabatnya itu. Perlahan Rita tersenyum dan faham.


"Oh ... itu Bu Nurmala, dia pengusaha berlian yang kaya, yang Aku tahu Bu Nurmala adalah salah satu donatur di sekolah kita, bukan hanya sekolah kita saja, banyak sekolah lain yang sudah Ia bantu, dia baru dua bulan tinggal di Indonesia, dulu dia tinggal di Hongkong, karena suaminya sudah meninggal dunia, jadi dia memutuskan untuk tinggal di Indonesia." ungkap Rita


"Oh gitu, pantes saja!" Nayla pun tidak heran jika Nurmala memberikan sebuah kalung berlian, ternyata Nurmala adalah seorang pengusaha berlian.


"Emangnya kenapa, Nay?" tanya Rita menyelidik.


"Enggak, ngga kenapa-kenapa, cuma heran saja, tadi Aku sempat ketemu sama dia, dia ngasih Aku ini!" seru Nayla sembari menunjukkan kalung berlian yang diberikan Nurmala kepada Nayla. Seketika Rita terkejut saat melihat kalung berlian mewah itu ada di atas telapak tangan Nayla.

__ADS_1


"Oh My God Nayla! Ini beneran dia yang ngasih? Wow ini gila banget, ini kalung mahal loh Nay! Kok bisa sih segitunya dia ngasih kalung berlian ini, pasti ada sesuatu yang Ia sembunyikan, Aku yakin itu!" ungkap Rita menyelidik.


"Aku juga mikir gitu awalnya, tapi dia maksa terus, kalau Aku nggak mau nerima dia bakal terhina gitu katanya, aneh kan?" Nayla terlihat penasaran sebenarnya apa yang diinginkan oleh Nurmala.


"Hmmm ... bener-bener, kok Aku nangkapnya dia menganggap kamu spesial banget ya, Nay! Hello ... hari gini diberi kalung gratis sama Bu Nurmala, wow Aku juga mau kalau gitu! Mungkin jika tadi yang ketemu Aku bukan kamu, belum tentu juga dia mau ngasih kalung ini, hmm kayaknya kamu spesial baginya Nay!" ucapan Rita membuat Nayla sedikit berpikir, apa iya dirinya begitu spesial sampai-sampai Nurmala rela melepaskan kalung yang melingkar pada leher nya.


"Rita bener juga, Aku harus cari tahu siapa sebenarnya Bu Nurmala?" batin Nayla.


*


*


*


*


Seperti biasa, hari itu Gerald menjemput sang Adik, Gerald selalu meluangkan waktunya untuk menjemput Nayla, karena dia selalu ingin mengawasi Nayla setiap saat, karena bisa saja orang-orang suruhan Arthur datang untuk mengganggu istrinya, mengingat Arthur sudah tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menjatuhkan bisnis Gerald.


Mobil mewah itu berhenti di depan pintu gerbang sekolah, terlihat dari jauh Nayla dan Rita yang sedang berjalan menuju ke mobil Gerald. Tentu saja senyum manis mulai mengembang di bibir Gerald, kedatangan istrinya adalah semangat untuk nya.


Sesampainya di dekat mobil, Rita pun pamit kepada Nayla untuk pulang.


"Loh! Kamu nggak bareng?"


"Nggak ah, nanti jadi obat nyamuk!" ucap Rita menggoda.


"Apa sih, Kamu!" Nayla terlihat malu-malu.


"Ya sudah! Pergi sana, Mas Gerald udah nggak sabar ingin disayang tuh! Daaahhh Nayla!" seru Rita sembari beranjak pergi meninggalkan Nayla.


Nayla menggelengkan kepalanya dan tampak semakin malu, setelah Rita pergi dan naik sebuah taksi, Ia pun segera masuk ke dalam mobil. Nayla mencium tangan Gerald dan pipinya.


"Sudah lama, Bang?" tanya Nayla kepada Gerald yang mulai melajukan mobilnya.


"Nggak juga, baru sepuluh menit, tapi kayak setahun!" balas Gerald


"Setahun?" Nayla menatap wajah suaminya yang terlihat cemberut.

__ADS_1


"Kamu lama banget sih! Ngapain aja di dalam seharusnya udah dari tadi kamu keluar, kamu pikir nunggu ngga capek apa!"


"Yee siapa juga yang nyuruh nunggu! Nay bisa kok pulang sendiri, Abang aja yang terlalu protektif." ucap Nayla sembari terus memperhatikan wajah Gerald yang belum menunjukkan senyum nya.


"Abang kenapa sih? Abang sakit?"


"Enggak!" jawab Gerald singkat.


"Emm Aku tahu!" ucap Nayla sembari mendekati Gerald dan mencium pipi Gerald, sementara tangan kirinya menyentuh dada pria itu dan mengusap nya lembut. Setelah itu Ia menyandarkan kepalanya pada pundak sang suami. Seketika Gerald tersenyum sumringah, ternyata dirinya hanya minta ingin di peluk oleh sang istri.


"Udah, jangan marah dong, Bang! Maafin Nay, tadi Nay ke ruangan Bu Firda sebentar, Minggu depan ada studi tour, jadi Nay membantu Bu Firda mendata siapa saja yang mau ikut, Nay ikut ya Bang? Kita bakal studi tour ke puncak, boleh ya!" rengek Nayla sembari mengusap-usap dada Gerald.


Gerald melajukan mobilnya mengarah ke suatu tempat dipinggir kota, mereka berhenti di sebuah danau buatan yang indah, banyak muda-mudi yang lalu lalang di sana, Gerald mengajak Nayla berpacaran sejenak. Gerald memarkirkan mobilnya pada tempat yang tidak terlalu dilihat banyak orang, karena yang pastinya, Ia tidak ingin kebersamaan mereka berdua disaksikan oleh banyak orang.


"Kenapa kita ke sini, Bang!" tanya Nayla sembari menatap wajah sang suami.


"Aku ingin berpacaran dulu dengan istriku, apa tidak boleh?" seru Gerald sembari mencoba mencium bibir Nayla, namun Nayla menepisnya dan berkata. "Hmm nggak-nggak, jawab dulu pertanyaan Nay, apa Nay boleh ikut studi tour?" seketika Gerald menjawab.


"Tidak boleh!" jawab Gerald dengan tatapan yang tajam.


"Yah ... Abang! Padahal Nayla pingin banget pergi ke puncak, ya sudah kalau nggak boleh, Nay akan mengundurkan diri saja." ucap Nayla sedikit kecewa. Melihat ekspresi wajah Nayla yang bersedih, tiba-tiba saja Gerald mengatakan sesuatu yang membuat Nayla tersenyum kembali sekaligus terkejut.


"Baiklah! Kamu boleh ikut!" Seketika Nayla tersenyum lebar.


"Benar Bang! Makasih Abang!" Nayla terlihat mengalungkan tangannya pada leher Gerald.


"Tapi ... Aku juga akan ikut!" Spontan Nayla membulatkan matanya ketika Gerald mengatakan bahwa dirinya akan ikut bersama Nayla.


"Abang ikut, Nay?"


"Kemana pun Kamu pergi, Abang akan selalu menjagamu, Nayla! Abang tidak mau terjadi apa-apa pada istri Abang, mengerti!"


Nayla mengangguk kan kepalanya dan tersenyum.


"Iya Nay mengerti!" jawabnya


"Bagus, sekarang apa Abang udah boleh cium kamu? Abang udah nggak sabar ingin mencium bibir indah ini, Abang udah kangen banget, Nay! Seharian ngga ketemu sama kamu, rasanya seperti satu abad."

__ADS_1


"Gombal ... bilang aja kalo mau ...?" Nayla tidak melanjutkan kata-katanya karena bibir nya sudah di bungkam oleh sentuhan bibir Gerald. Tangan Nayla terlihat merremas-rremas rambut belakang Gerald.


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2