
"Aku tahu perasaan mu, Nak! Kamu pasti sangat terkejut, saat kali pertama Aku melihat mu di sekolah, sejak saat itu aku merasa ada sesuatu yang aneh, Aku melihat mu seperti melihat putri kandung ku sendiri, dan ternyata memang benar dugaanku, kamu sendiri yang bilang jika nama Papamu adalah Sudarsono dan Lilis, iya ... mereka berdua yang ku titipkan seorang bayi perempuan, dan nama Nayla Faranisa adalah nama yang kuberikan padamu sedari kamu lahir dari rahim seorang Ibu seperti ku, dan ternyata Aku tidak salah memberikan mu kepada mereka, rupanya mereka sangat menyayangi mu, Aku bahagia melihat mu bahagia dalam keluarga mereka. Tapi, jika melihat seperti ini, Aku tidak mungkin membiarkan mu kembali ke rumah itu, Aku tahu pasti ada yang menyakiti mu di rumah itu, iya kan?" ucap Nurmala sembari menatap wajah Nayla dengan sendu.
Nayla menangis, mungkin memang benar jika Ibu kandungnya dulu adalah seorang pelaacur, tapi tidak bisa dipungkiri Nayla juga membutuhkan sosok Ibu, selama 8 tahun semenjak kematian Sudarsono dan Istrinya, Nayla sudah tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, dia hanya mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari sang Kakak saja, yaitu Gerald yang selalu menjaga Nayla.
"Katakan padaku, Nayla! Siapa yang sudah membuat mu menangis seperti ini? Katakan!"
Seketika Nayla langsung memeluk Nurmala, ada kesedihan yang teramat mendalam di sana, kesedihan saat Hera mengatakan jika dirinya adalah anak seorang pelaacur, sungguh kata-kata itu yang membuat Nayla tidak kuasa berada di rumah itu, meskipun Gerald tidak akan mempermasalahkan nya, tapi hinaan itu tidak akan pernah hilang dari ingatan nya.
"Mama ... !!!!" Nurmala begitu terharu saat Nayla memanggil dirinya dengan sebutan Mama, betapa bahagianya Nurmala bisa mendapatkan kembali putri kandungnya yang selama ini begitu Ia rindukan. Ia memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Nayla, anakku! Mama minta maaf padamu, Sayang! Mama berjanji tidak akan pernah meninggalkan mu lagi, Mama akan memberikan kasih sayang yang sepenuhnya untuk mu, Mama tidak akan membiarkan mu menangis seperti ini, sudah tersenyumlah! Ada Mama di sini, kamu tidak akan sendirian lagi, Mama selalu bersamamu." ucapnya sembari mengusap lembut rambut sang putri.
__ADS_1
"Entahlah, Ma! Perasaan Nayla antara sedih dan bahagia, di satu sisi Nayla sangat bahagia akhirnya Nayla bisa bertemu kembali dengan Ibu kandung Nayla. Tapi, disisi lain mereka bilang jika Mama adalah wanita murahan dan seorang pelaacur, bagaimana bisa Nayla menerima kenyataan ini, Ma! Nayla sangat bingung."
Tiba-tiba saja terdengar suara lembut seorang wanita muda yang sedang berjalan menghampiri Nurmala dan Nayla, iya ... wanita itu adalah anak tiri Nurmala, Moza yang tak sengaja mendengar percakapan mereka berdua.
"Mama Nurmala adalah wanita yang baik, dia tidak seperti yang mereka tuduhkan, setiap orang mempunyai masa lalu, dan Mama Nurmala telah membuktikan jika dirinya sudah berubah, dan Aku tahu betul bagaimana sifat Mama Nurmala, meskipun dia bukanlah Ibu kandung ku, tapi dia sangat menyayangi ku seperti dia sangat menyayangi mu, Nayla! Aku Moza, Aku juga putri Mama Nurmala." seketika Nayla menatap wajah gadis yang kini sedang berdiri di samping mereka, dia sangat cantik, putih mulus, dan sangat mempesona. Seketika Nayla teringat tentang nama wanita yang akan dijodohkan dengan Gerald yaitu Moza, nama yang yang sama.
"Moza? Mbak Moza apa temannya Abang?" seru Nayla penuh tanda tanya.
"Emm ... Abang Gerald, iya Gerald Adams." jawab Nayla.
"Ohhh ... Gerald Adams! si kerempeng itu? Iya iya ... Aku mengenalnya, dia teman sekolahku dulu, memang nya kamu kenal dia?" Moza balik bertanya. Nayla mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
"Iya ... Saya mengenal nya, dia Abang Nay yang selama ini sudah merawat Nayla sejak kematian Papa dan Mama, dia juga yang selalu melindungi Nay, Nay sangat menyayangi nya." Nayla tampak begitu bersedih saat menceritakan tentang Gerald, seperti ada kerinduan yang begitu mendalam, Ia telah pergi tanpa seizin dari suaminya, Nayla tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Gerald pulang dan tidak menemukan keberadaan di rumah, dia pasti sangat panik dan bingung.
Moza duduk di samping Nayla dan melihat air wajah gadis itu begitu sangat merindukan Gerald.
"Kamu sepertinya sangat menyayangi Gerald, benar begitu?" seketika Nayla membalas tatapan Moza. Ia tersenyum sembari berkaca-kaca. Moza melihat jika Nayla bukan sekedar menyayangi biasa, tapi ada cinta yang tersirat dalam bola mata gadis itu.
"Kamu mencintainya?" tanya Moza yang membuat Nayla gugup harus menjawab apa.
Nayla tertunduk dan merremas-rremas tangannya sendiri.
"Katakanlah Nayla? Apa kamu mencintai Abang mu?" Nurmala pun ikut mendesak Nayla agar mengatakan yang sebenarnya.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...