
"Kenapa kamu harus pergi, Nay? Kamu tidak tahu Abang mencarimu seperti orang gila, Abang sampai putus asa mencarimu kemana-mana, ternyata Tuhan masih mengizinkan kita untuk bertemu lagi, Aku akan membawamu pulang ke rumah."
"Tidak! Nay tidak mau, Bang! Nay tinggal di sini saja, di sini Nay merasa sangat nyaman, di sini Nay tinggal dengan Ibu kandung Nay, jadi Abang tidak usah khawatir, Nay pasti baik-baik saja, percayalah!" ucap Nayla yang berusaha meyakinkan suaminya.
"Tapi Nay! Bagaimana dengan ku? Kamu tega membiarkanku tidur sendirian? Aku nggak bisa Nay!" jawab Gerald dengan wajah memelas nya.
"Abang sabar, ya! Selama Oma tidak mau menerima ku, Aku tidak mau kembali ke rumah lagi, Oma benar, Aku bukanlah siapa-siapa di rumah itu, Aku hanya anak pungut, apalagi Oma menghina ku dan juga Mama, meskipun itu benar adanya, tapi kenapa Oma sejahat itu, Aku sedih, Bang! Aku berharap kamu bisa mengerti." Nayla menjelaskan tentang bagaimana dirinya keluar dari kediaman keluarga besar Adams.
"Aku akan menjelaskan semuanya kepada Oma, Nay! Aku sudah mendapatkan tes DNA yang akan membuat status pernikahan kita sah di mata hukum negara, dan status mu sebagai adik kandung ku akan hilang. Aku mohon Nay! Ikut Abang pulang, Pliss!" rengek Gerald sembari memeluk Nayla dari belakang.
"Aku minta maaf, Bang! Sungguh Aku tidak bisa pergi bersama mu sekarang, izinkan Aku tinggal bersama Mama sebentar saja, Aku baru saja bertemu dengannya, Aku masih ingin memeluknya setelah sekian lama Aku berpisah dengan Mama, Aku mohon, Bang! Tolong mengerti lah!"
Mendengar ucapan istrinya, Gerald mencoba memahami perasaan Nayla, iya dia memang berhak untuk membawa Nayla pulang, tapi Nayla masih belum puas untuk bertemu dengan Ibu kandungnya, akhirnya Gerald pun mencoba mengalahkan ego-nya, Ia pun mengizinkan Nayla untuk tinggal sementara di rumah Nurmala.
"Baiklah! Abang bisa mengerti, Abang mengizinkan mu tinggal di sini. Tapi ingat! Jangan pergi kemana-mana, di rumah saja. Abang tidak mau terjadi apa-apa dengan mu, di rumah Abang bisa mengawasi mu, tapi di sini Abang tidak bisa memantau mu."
"Iya iya Nayla janji nggak bakalan kemana-mana, lagipula di sini Nay nggak akan kesepian, ada Mbak Moza yang menemani Nay, Bang!" seketika Gerald terkejut mendengar siapa yang disebut oleh sang istri.
__ADS_1
"Siapa? Moza?"
"Iya Bang, Mbak Moza teman Abang saat SMA dan dia juga yang akan dijodohkan Oma untuk menjadi istri Abang. Ternyata Mbak Moza itu adalah anak Mama juga, jadi ternyata kami adalah saudara tiri." ungkap Nayla yang membuat Gerald semakin tidak percaya.
"Moza anaknya Bu Nurmala?"
"He em, Mbak Moza anaknya Almarhum suami Mama,"
"Astaga! Dunia ini begitu sempit, ternyata Moza adalah anak tiri Bu Nurmala, sedangkan Oma ingin menjodohkan Aku dengan Moza? Ya Salaam ... Oma benar-benar nggak nyadar kalo wanita yang Ia hina adalah Calon besannya, Hmm ... Oma-Oma kayaknya perlu di rukyah nih Oma!" seru Gerald yang menyesalkan tindakan Hera yang sudah menghina-hina Ibu kandung Nayla.
"Kamu tuh ada-ada saja deh, Bang! Masa Oma minta di rukyah, emangnya Oma kesambet jin." celetuk Nayla.
*
*
*
__ADS_1
Sementara di kediaman keluarga besar Adams, Hera terlihat berbaring lemas di atas tempat tidurnya, Ia tampak memanggil-manggil Gerald, sang cucu yang belum juga pulang dari semalam.
"Nyonya! Nyonya mau Saya ambilkan minum?" tawar Bi Jum. Hera menggelengkan kepalanya.
"Gerald mana Bi? Apa dia sudah pulang?" tanyanya.
"Tuan muda belum pulang, Nyonya!"
"Ya ampun! Kenapa sih tuh anak selalu belain Nayla, Bi Jum udah telepon dia?"
"Sudah, Nyonya! Tapi Tuan muda tidak mau mengangkat nya."
"Aku nggak habis pikir, kenapa Gerald tidak mau mendengarkan ucapan ku, siapa Nayla itu dan siapa dia, mereka berdua itu sangat jauh berbeda, Aku berharap Gerald menikah dengan Moza yang jelas-jelas dia anak orang kaya dan pengusaha berlian, daripada Nayla yang cuma seorang anak, ah aku malu untuk mengatakannya."
Bi Jum yang mendengarkan ucapan Hera, mencoba meyakinkan wanita itu agar bisa memahami perasaan cucunya.
"Nyonya! Maaf kalau Saya ikut berpendapat, menurut Saya Tuan muda memang sangat mencintai Non Nayla, bagaimana pun juga mereka bukanlah saudara kandung. Sepertinya mereka berdua saling mencintai, apa salahnya Nyonya memberikan restu untuk mereka berdua, terlepas dari siapa Ibu kandung Non Nayla, tapi setidaknya kita tahu betul bagaimana sifat dan karakter Non Nayla yang tumbuh dalam keluarga yang terhormat ini, Non Nayla gadis yang baik dan dia selalu menurut perintah, jadi saya rasa ada baiknya Nyonya merestui hubungan mereka, karena Saya sebagai Ibu susu Non Nayla sangat tahu betul bagaimana sifat Non Nayla, dia gadis yang peka dan mudah tersentuh, mungkin kepergian nya karena Nyonya telah mengatakan sesuatu yang membuat nya terluka. Maafkan saya Nyonya! Semoga Anda bisa mengerti." ucap Bi Jum yang membuat Hera sedikit berpikir.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...