
Moza menangis dalam pelukan Jordan, sungguh dirinya tak kuasa menahan kesedihan itu, penyesalan yang teramat dalam, kenapa dia harus bertemu dengan Ayah kandungnya dengan cara seperti ini.
"Maafkan aku, Jo! Aku tidak bermaksud untuk membuat mu kasihan, tapi setidaknya Aku merasa lega bisa mengatakan hal yang sebenarnya kepada mu, terima kasih sudah mau mendengarkan ku."
"Setiap manusia pasti punya kesalahan, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, termasuk kamu dan Aku, tapi setidaknya kamu sudah menyesali perbuatan mu, yang terpenting sekarang, teruslah bangkit dalam keterpurukan, waktumu masih panjang untuk meraih kebahagiaan, lupakan semuanya, bukalah lembaran baru untuk hidupmu, dan jika kamu mengizinkan biarkan Aku mengisi kekosongan hatimu, Aku berjanji akan selalu membahagiakan mu, Moz!" ungkapan hati yang terdalam dari Jordan, pria itu terlihat begitu manis, Ia tak memandang Moza dari sisi gelapnya, cintanya yang tulus tetap menganggap wanita itu sebagai wanita pujaan hatinya.
"Tapi Aku tak pantas mendapatkan seorang pria yang sangat baik seperti mu, kamu berhak mendapatkan wanita yang lebih segalanya dariku, dan tentu saja lebih terhormat dariku, Aku merasa sangat berdosa, Aku adalah manusia penuh dosa." sesal Moza sembari terus menitikkan air matanya.
"Lebih baik menjadi pendosa tapi dia masih bisa bertaubat, daripada menjadi seorang yang tak pernah sadar akan dosanya, menjadi manusia yang sombong dan angkuh, tak pernah mau mendengarkan kebenaran, Aku salut padamu, Moz! Masalah mu bukan masalah yang biasa, ini adalah sebuah ikatan darah yang sangat kental, dan pastinya Aku mengerti bagaimana perasaanmu saat ini, kamu jangan khawatir Aku akan membantumu mendapatkan keadilan, setidaknya biar pria itu bisa merasakan dinginnya hotel prodeo, agar petualangannya berakhir."
Moza tersenyum mendengar ucapan dari Jordan, seketika Jordan ikut bahagia melihat senyum yang mengembang dari bibir Moza.
Jordan tak henti-hentinya menatap wajah Moza, gadis yang menjadi cinta pertamanya, dan gadis yang menjadi awal dirinya memasuki dunia percintaan.
Jordan mengusap air mata yang membasahi pipi Moza, dengan lembut pria itu mengeringkan air mata Moza, seketika Moza merasa tenang saat sentuhan lembut tangan Jordan mengusap wajahnya. Moza tersenyum dan Ia terlihat malu-malu.
Setelah dirasa air mata itu sudah kering, Jordan pun juga ikut merasa malu, bagaimana pun juga Ia masih mencintai Moza, perasaan itu sama persis saat mereka masih pacaran dulu, malu-malu kucing tapi sebenarnya mau.
Kesedihan Moza pun hilang ketika melihat ekspresi wajah Jordan yang sedari dulu membuatnya selalu ingin tertawa, ekspresi malu-malu dari pria hitam manis itu selalu bisa membuat Moza bahagia.
Tanpa aba-aba Moza mencium pipi Jordan, bagaimana tidak, Jordan pun sangat terkejut saat bibir manis itu menyentuh pipinya, Jordan mengusap pipinya sembari menatap wajah Moza yang juga sedang tersenyum kepadanya.
Ah entahlah mungkin suasana bahagia mereka berdua, membuat Jordan ingin sekali mengecup bibir mungil yang sudah mencium pipinya tadi. Tapi, Ia adalah pria yang sopan, sebelum Ia melakukannya, tentu saja Jordan meminta izin dulu kepada Moza, karena bagaimanapun juga Ia tidak mau melakukannya tanpa seizin dari gadis yang dicintainya itu.
__ADS_1
"Moz!"
"Hmmm!"
"Emm ... boleh nggak Aku menciummu?" pinta Jordan sembari menundukkan wajahnya.
"Nggak boleh!" jawabnya spontan, tentu saja Jordan langsung menatap wajah Moza dan dirinya begitu malu, ternyata permintaannya tidak dikabulkan oleh Moza. Ia pun kembali duduk ke posisi semula dengan wajah yang memerah.
"M-maafkan Aku!" Jordan terlihat mulai mengemudikan lagi mobilnya, tapi tiba-tiba saja Moza mendekat dan tanpa aba-aba Ia mengecup bibir Jordan dengan lembut. Tentu saja Jordan terlihat sangat terkejut, alamak baru kali ini Ia mendapatkan ciuman bibir yang begitu mengesankan.
Jordan menghentikan aktivitasnya, sejenak Ia membalas ciuman itu, sungguh sentuhan itu sangatlah berbeda, mereka berdua begitu menikmatinya, seolah rasa cinta itu tumbuh kembali, membara lagi dalam jiwa.
Setelah dirasa cukup, Moza maupun Jordan melepaskan ciuman mereka.
Moza tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, sejenak Ia melupakan segala kepenatan hidupnya, tak bisa ditampik kehadiran Jordan membuatnya merasa nyaman, mungkin pria itu lah yang sudah digariskan oleh Tuhan untuk menjadi pendamping hidupnya.
"Sungguh Tuhan masih sangat sayang kepadaku, Ia kirimkan pria berhati malaikat kepada seorang wanita yang berlumuran dosa ini, Tuhan telah mengirimkan pria yang akan menjadi pendamping hidupku, yang akan menuntunku menjadi manusia yang lebih baik lagi, Aku menerima Jo! Dengan kelapangan hati, Aku menerima mu kembali." jawab Moza yang tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya.
"Terima kasih, Moz! Akhirnya Aku bisa menebus rasa bersalah ku padamu,"
"Rasa bersalah apa maksudmu?" Moza terlihat mengernyitkan dahinya.
"Rasa bersalah karena dulu Aku sudah melakukan hal itu kepadamu, maafkan Aku, Moz!"
__ADS_1
"Untuk apa kamu minta maaf, ternyata sedari dulu kita sebenarnya adalah berjodoh, cuma kita dipisahkan oleh waktu, dan sekarang kita dipertemukan lagi dengan cara yang seperti ini, Aku yang seharusnya minta maaf sama kamu, Aku tidak tahu jika kamu masih menungguku, sedangkan Aku sudah tergoda oleh tipuan dunia hingga akhirnya Aku terjebak dalam cinta terlarang, Aku terjebak dalam lembah hitam, dan kamu datang sebagai dewa penolong ku, sungguh Aku sangat malu kepadamu." Moza menundukkan wajahnya, penyesalan itu begitu membuatnya tak bisa melupakan dosa-dosanya di masa lalu.
*
*
*
Sementara itu, Gerald sudah sampai di depan rumah mewah Nurmala, pasangan itu terlihat sangat bahagia, karena kehamilan sang istri nyatanya semakin membuat Gerald kian mencintai Nayla.
"Nay masuk dulu, Bang! Abang nggak turun?" seru Nayla sembari menyiapkan dirinya untuk turun dari mobil.
"Enggak! Abang ada keperluan sebentar, lagipula nanti malam kita akan bertemu untuk makan malam, bukan? Semoga saja Oma bisa menerima kenyataan ini, dan semoga saja kehamilan mu bisa membuat Oma luluh dan merestui pernikahan kita." jawabnya sembari mencium kening istrinya.
"Hmm ... ya sudah Nay turun dulu, Bang!" pamitnya sembari mencium tangan sang suami tak lupa Nayla mencium bibir suaminya sekilas.
Setelah Nayla turun dari mobil, Gerald pun mulai melajukan mobilnya ke jalan raya, sejenak Ia mendapatkan notifikasi dari ponselnya, Gerald mengeluarkan ponsel dari saku jasnya.
Ia melihat sebuah pesan singkat dari seorang temannya yang menemukan sebuah video asusila dirinya dengan Nayla, seketika Gerald mengusap wajahnya kasar, apa lagi ini? Ini pasti tak jauh dari perbuatan Arthur yang sengaja memperkeruh situasi dimana perusahaan Gerald saat ini sedang mengalami goncangan akibat isu video ciuman dirinya dengan Nayla.
"Tidak semudah itu kamu bisa menjatuhkan ku Arthur, kita lihat saja nanti siapa yang akan masuk ke dalam penjara."
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1