Hasrat Terlarang Abangku

Hasrat Terlarang Abangku
Bab 94 HTA


__ADS_3

Setelah upacara pemakaman Arthur, semua kembali dan meninggalkan Arthur sendirian, beristirahat dengan tenang dan tentu saja Ia sudah mengakhiri petualangan nya sebagai seorang Casanova.


Akhir kisah yang tragis bagi pria yang gemar mengumbar syahwat nya kepada setiap wanita, nasi sudah menjadi bubur, semuanya sudah kehendak takdir, menyesal pun percuma, Ia lebih mengakhiri hidupnya daripada Ia menahan perasaan terlarangnya, mungkin itu akan lebih baik bagi putrinya. Meninggalkan gemerlap dunia yang sudah membuatnya buta akan cinta, hingga mengantarkan nya pada kematian, mencintai putri kandung nya sendiri, membuat Arthur lebih memilih mati, bunuh diri memang jalan yang sesat, bagi mereka yang berpikiran terlalu dangkal dan jauh dari Tuhannya.


Namun, Arthur sudah memutuskan hidupnya mati di tangannya sendiri, meninggalkan Moza dan juga Rio, meninggalkan segala bentuk kemewahan, harta dan tahta, Arthur tidak membawa apa-apa, dia pergi meninggalkan duka yang bagi Rio, pemuda itu sungguh tak bisa menerima kematian Arthur, dirinya bertekad untuk membalas atas kematian Arthur.


"Papa! Aku berjanji kepada Papa, Aku akan membuat perhitungan dengan orang-orang yang sudah membuat Papa pergi untuk selamanya, waktu itu akan tiba, mereka harus merasakan pembalasan ku." Rio terlihat begitu serius dengan sumpahnya.


*


*


*


*


Hari berganti hari, kini sudah satu bulan dari kematian Arthur, tentu saja kehidupan rumah tangga Moza dan Jordan terlihat bahagia, pun sama dengan Nayla dan Gerald, kini usia kandungan Nayla menginjak 2 bulan, belum terlihat perut buncitnya, Gerald kian menyayangi istrinya, Gerald tidak mengizinkan istrinya untuk melakukan tugas berat, Nayla hanya disuruh istirahat dan belajar, dikarenakan Ia sedang menghadapi ujian sekolah.


Malam itu Nayla sedang belajar untuk esok hari di sekolah, sementara Gerald terlihat ikut mendampingi Nayla yang sedang membaca buku pelajarannya.

__ADS_1


Nayla melihat suaminya ikut menemani dirinya yang sedang belajar, meskipun Gerald terlihat sangat mengantuk, Ia tetap berusaha untuk menemani istrinya belajar.


"Abang kalau ngantuk tidur aja, Nay masih lama, besok Abang harus ke kantor, kan?" seru Nayla kepada Gerald yang terlihat sedang menguap.


"Hoam ... nggak apa-apa, Abang akan menunggu!" jawaban sembari melingkarkan tangannya pada pinggang Nayla yang sedang duduk sembari membaca buku.


Gerald seolah sangat nyaman saat berada di samping istrinya, meskipun dirinya mengantuk sekalipun, dia akan tetap menemani sang istri.


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Nayla belum juga selesai. Sehingga membuat Gerald bosan menunggu lama.


"Sudah belum Nay?"


"Ngantuk banget nih."


"Ya udah kalau Abang ngantuk, tidur aja duluan!"


"Nggak mau!"


"Abang tidur aja dulu, nanti Nay susul."

__ADS_1


Mendengar jawaban istrinya, Gerald pun langsung menutup buku Nayla dan mematikan lampu kamar mereka. Tentu saja Nayla kelabakan dan bingung dengan tingkah suaminya.


"Loh kok dimatikan sih, Bang! Nay kan belum selesai."


"Udah belajarnya cukup, udah malem kamu harus istirahat, nggak boleh capek-capek, kasihan anak kita." ucap Gerald sembari memeluk istrinya dan mengajaknya untuk tidur. Sejenak Nayla mulai merasakan ada sesuatu yang menggerayangi tubuhnya. Dan tentu saja itu adalah tangan suaminya.


"Hmm yang kasihan anaknya apa Bapaknya, nih! Kebiasaan nih Abang!" Nayla pun seakan tahu keinginan suaminya.


"Abang kangen, Nay! Udah seminggu loh Abang nggak dikasih, udah nggak nahan nih, lagian kita juga nggak sering-sering ginian, ayo dong, Nay! Kamu nggak kasihan sama Abang, lagian besok kan terakhir kamu ujian, seminggu ini Abang kamu biarin fokus belajar, Abang kelonin guling mulu, nggak enak banget, sumpah!" ucapnya sembari menyusup ke ke leher Nayla, tentu saja Nayla merasa geli plus merinding ketika sang suami mengecup lehernya dengan mesra.


"Abang, kamu nakal banget sih, geli Abang!"


"Hmm ... Abang udah kangen banget sama anak kita."


"Gombal, alasan kamu aja!"


Gerald menyeringai dan kemudian Ia melanjutkan aktivitasnya untuk melakukan pendakian dari lembah satu ke lembah yang lainnya, dari bukit kembar hingga suatu tempat yang paling ternikmat bagi Gerald. Yaitu sebuah lembah nan tanpa rerumputan, putih bersih dan sangat menggoda.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2