
"Ha ... seperti itu, ya!" Jordan tersenyum dengan semangat, Ia akan mengikuti jejak Gerald. Sementara itu Moza tampak menelan ludahnya, sungguh nasihat dari temannya itu benar-benar akan membuatnya kerja lembur tiap malam.
"Sepertinya kita harus seperti Gerald, tidak pantang menyerah, kamu sudah siap kan, Moz?" bisik Jordan kepada Moza yang kini telah menjadi istrinya. Moza hanya bisa menghela nafas panjang.
"Haahh ... terserahlah!" jawabnya pasrah.
Jordan makin tersenyum lebar mendengar persetujuan dari Moza.
*
*
*
__ADS_1
Setelah Moza dan Jordan melangsungkan pernikahan mereka, akhirnya mereka pergi ke pemakaman untuk penghormatan terakhir kepada Arthur, liang kubur itu telah digali, dan peti jenazah Arthur siap dimasukkan ke dalam lobang kuburan yang sedalam 2 meter.
Moza melihat peti Sang Ayah yang mulai dimasukkan ke dalam kubur, Ia cukup tabah dan mengikhlaskan kepergian Arthur untuk selamanya, tak ada lagi air mata yang keluar dari matanya, hanya lantunan doa yang dipanjatkan untuk pengampunan Arthur, berharap Arthur bisa beristirahat dengan tenang.
Jordan mengusap pundak sang istri dan berusaha untuk membuat nya tegar, Moza pun tersenyum kepada suaminya dan menunjukkan jika dirinya pasti bisa berdiri.
Setelah peti jenazah Arthur dimasukkan ke dalam liang lahat, akhirnya tanah basah itu mulai ditimbun kan di atas peti mati Arthur, perlahan namun pasti, tanah kuburan itu menutupi semua peti hingga akhirnya tak terlihat sama sekali, yang ada hanya gundukan tanah yang masih sangat basah.
Moza mulai menaburkan bunga untuk sang Ayah, sembari menatap pusara sang Ayah, Moza berkata dalam hati.
Setelah Moza menabur bunga di atas pusara Arthur, tiba-tiba terlihat seorang pemuda yang dikawal oleh dua orang polisi dengan borgol di tangannya, pemuda itu tak lain adalah Rio. Rio mendapatkan izin untuk mengikuti prosesi pemakaman sang Ayah.
Rio sangat terpukul atas kematian Arthur, baginya Arthur orang yang paling Ia sayangi, Rio bersimpuh di samping pusara Arthur dan dirinya menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
"Papa ...! Kenapa Papa tega ninggalin Rio, Pa! Kenapa? Sekarang Rio sendirian, Rio sebatang kara, Papa ...! Rio ingin ikut bersama Papa saja, Rio nggak sanggup hidup sendirian di dunia ini, tidak ada yang menyayangi Rio kecuali Papa, Papa ........"
Tangisan Rio terdengar begitu pilu dan sangat menyayat hati, selama ini hanyalah Arthur yang benar-benar menyayanginya, meskipun Rio bukanlah anak kandung Arthur sendiri, sehingga membuat Rio sangat terpukul dan sangat kehilangan.
Tentu saja itu membuat Moza merasa kasihan kepada adik angkatnya itu, Moza berusaha untuk menghiburnya, tapi nyatanya Rio justru marah dan kesal kepada Moza.
"Rio! Kamu yang sabar, Daddy sudah tenang di alam sana, kamu tidak akan sendirian, Aku akan membantumu setelah kamu bebas dari penjara nanti!" ucap Moza sembari menyentuh pundak Rio.
"Ini semua gara-gara kamu! Gara-gara kamu Papaku meninggal dunia, gara-gara kamu Aku jadi hidup sendirian, Aku sangat membenci mu, meskipun kamu adalah anak dari Papa, tapi aku tidak akan pernah menghormati mu, bagiku kamu tidak lebih dari wanita pembawa sial." Rio berkata dengan penuh emosi, air mata itu tak henti-hentinya keluar dari matanya, Ia terlihat begitu membenci Moza sehingga Ia bersumpah akan membalas dendam atas kematian Arthur.
"Aku bersumpah, suatu hari nanti kamu akan lebih menderita dari Papa, Aku akan membuat hidupmu tidak tenang, camkan kata-kata ku, dasar perrek!"
Mendengar ucapan Rio yang kasar, seketika Jordan tak terima istrinya diperlakukan seperti itu oleh anak yang masih ingusan, Jordan spontan memukul Rio sekeras-kerasnya sehingga Rio jatuh tersungkur, Moza yang melihat suaminya sedang marah mencoba meredam emosi Jordan.
__ADS_1
"Jordan! Sudah-sudah, kamu nggak perlu melakukan hal itu, biarkan dia bicara apa tentang Aku, Aku tak perduli, Aku anggap dia gila, nggak usah meladeni dia, sebaiknya kita pergi dari sini." Moza terlihat membawa suaminya untuk menjauhi Rio.
...BERSAMBUNG ...