Hasrat Terlarang Abangku

Hasrat Terlarang Abangku
Bab 50 HTA


__ADS_3

"Arthur? Bukankah itu Tuan brengsek yang pernah ketemu di sekolah tempo hari? Astaga! Dan dia juga Papanya Rio? Musuh bisnis Abang? Ya Tuhan! Jadi pria itu adalah Ayah kandung Mbak Moza?" batin Nayla yang tidak percaya jika Arthur adalah Ayah kandung Moza.


Saat itu juga, Moza menceritakan semuanya kepada Nayla, bagaimana bisa dirinya kenal dan bertemu dengan Arthur, hingga akhirnya mereka menjalin hubungan yang terlampau jauh. Seketika Nayla membulatkan matanya saat Moza berterus-terang tentang hubungan nya dengan Arthur yang sampai naik ke atas ranjang.


"Mbak Moza ngga bercanda, kan? Mbak Moza dan Tuan brengsek itu sudah ... sudah ...!" Nayla tidak sanggup melanjutkan kata-katanya karena Ia tidak bisa bayangkan betapa hancurnya perasaan Moza saat tahu jika Arthur adalah Ayah kandungnya.


"Iya Nay! Aku sudah terlanjur jauh, dan kini hanya penyesalan yang menghantuiku, hidupku benar-benar hancur." Moza menangis dan menangis lagi, Nayla segera memeluk Moza dengan haru, Ia tahu perasaan Moza Parto tidak bisa membayangkan jika sang Ayah sudah menghancurkan kehidupan sang Putri.


"Mbak Moza harus kuat, Mbak Moza akan mendapatkan kebahagiaan suatu hari nanti, Aku yakin! Semuanya akan berakhir, Aku akan selalu ada bersama Mbak Moza, pasti!" Nayla memeluk Moza penuh kasih sayang, layaknya saudari kandung nya sendiri. Mereka berdua terlihat begitu akrab, meskipun keduanya baru saja bertemu.


Nurmala melihat keakraban dua anak perempuan nya dari balik pintu, sungguh Ia sangat bahagia melihat mereka sudah terlihat akrab, Nurmala berharap kehadiran Nayla bisa membuat Moza tersenyum dan terus semangat menjalani kehidupan selanjutnya.


Tiba-tiba saja Nurmala dikejutkan oleh suara telepon berbunyi, Ia pun segera mengangkat telepon yang rupanya dari security penjaga rumahnya.


"Halo Nyonya! Maaf ada tamu di luar Nyonya, namanya Pak Gerald, Ia ingin bertemu dengan Nyonya!"


"Gerald? Hmm suruh dia masuk."


"Baik, Nyonya!"


Setelah security itu menutup teleponnya, maka ia pun mengizinkan mobil Gerald untuk masuk ke dalam rumah mewah Nurmala.


"Silahkan masuk, Pak!" seru security tersebut.


"Terima kasih!"


Gerald segera masuk dengan mengendarai mobilnya, sementara itu Nurmala mulai beranjak pergi ke ruangan depan untuk melihat kedatangan Gerald yang pastinya pria itu mencari putrinya.


Gerald mulai menekan bel pintu rumah, Ia berharap bisa membawa pulang Nayla hari itu juga. Tak berselang lama seorang wanita paruh baya yang terlihat masih begitu cantik, tengah membukakan pintu untuk Gerald yang sedang berdiri di depan pintu.

__ADS_1


"Selamat pagi, Bu! Apa benar ini kediaman Bu Nurmala, pengusaha berlian yang terkenal itu?" sapa Gerald sembari tersenyum kepada Nurmala.


"Iya benar!"


"Maafkan saya jika sudah menganggu kenyamanan Anda! Saya cuma ingin mencari keberadaan seseorang di rumah ini, dia Adik saya, Nayla! Apa Nayla ada di rumah ini, Bu! Tadi Saya sempat berbicara dengan nya lewat ponsel dan setelah Saya lacak, ternyata mengarah ke rumah ini, maka dari itu saya langsung kemari!"


Nurmala melihat jika Gerald terlihat sangat mencintai putrinya, Nurmala memperhatikan bagaimana kepanikan wajah Gerald, Ia pun segera mempersilahkan Gerald untuk masuk ke dalam rumah.


"Masuklah!"


"Terima kasih!"


Gerald mengikuti Nurmala di belakangnya, kemudian Nurmala mempersilahkan Gerald untuk duduk.


"Duduklah!"


"Nayla sudah menceritakan semuanya kepada ku, bagaimana dia pergi dari rumah, dan semua itu karena ulah Oma kalian, Oma kalian sudah mengatakan kepada Nayla jika Nayla terlahir dari wanita kotor, Oma kalian sudah menghina putriku, itu kenapa Nayla memutuskan untuk pergi dari rumah, Ia tak mau di anggap buruk, dan wanita yang dianggap kotor oleh Oma kalian adalah Aku."


Gerald menghela nafasnya, ternyata Nurmala yang terkenal dengan pengusaha berlian kaya raya itu adalah Ibu kandung Nayla, istrinya.


Nurmala menceritakan semuanya kepada Gerald tentang bagaimana dirinya bisa menyerahkan Nayla kepada kedua orang tua Gerald, Gerald pun terlihat mendengarkan secara seksama apa yang dikatakan oleh Nurmala. Nurmala pun sesekali menyeka air matanya saat tahu jika Hera sudah menghina Nyala begitu keji.


"Maafkan Oma, Bu! Oma belum bisa memahami besarnya cinta kami, tapi saya mohon kepada Ibu, untuk mempertemukan saya dengan istri Saya, Saya sangat mengkhawatirkan keadaan nya."


"Apa? Istri? Kalian berdua sudah menikah?" tanya Nurmala yang terlihat begitu terkejut ternyata Nayla sudah memiliki ikatan pernikahan dengan Gerald.


Gerald menganggukkan kepalanya, Ia pun menceritakan semuanya kepada Nurmala bagaimana dirinya bisa menikah dengan Nayla. Seketika air mata Nurmala meleleh ketika Ia mendengar pengakuan Gerald yang menikahi Nayla langsung atas izin Almarhum suami pertamanya, di mana saat itu dirinya masih berada di Hongkong.


"Mas Nurdin! Maafkan aku, Mas!"

__ADS_1


Nurmala mengingat kembali betapa berita kematian Nurdin yang Ia dapatkan dari teman-temannya, membuat Nurmala semakin gigih untuk berjuang memperbaiki hidupnya, hingga selang beberapa tahun Ia dipertemukan oleh suami keduanya yaitu Heru, yang merupakan seorang pengusaha berlian yang memiliki seorang putri semata wayang bernama Moza.


"Begitulah, Bu! Kami berdua sudah menikah secara siri, dan sebentar lagi Saya akan meresmikan hubungan kami, Saya sudah mendapatkan bukti tes DNA untuk membuktikan jika kami bukanlah saudara kandung." terang Gerald yang membuat Nurmala lega.


Sementara itu, Nayla dan Moza terlihat saling menatap, Ia melihat seolah ada tamu di luar. Keduanya pun melihat siapa yang sudah bertamu di jam subuh seperti ini. Nayla dan Moza terlihat mengintip dari balik tirai, ternyata itu adalah Gerald, Nayla terlihat menyembunyikan wajahnya agar dirinya tidak terlihat oleh sang suami.


"Abang! Dia kok tahu aku ada di sini?" batin Nayla. Moza pun terkejut melihat pria yang sedang berbicara dengan Nurmala, seolah dirinya kenal dengan pria itu.


"Siapa dia? Kayak kenal ... tunggu-tunggu lihat dari caranya bicara dan tahi lalat di wajahnya itu, wait itu kan, Gerald?" seru Moza sembari memperhatikan wajah Gerald yang sudah berubah.


Moza segera melihat ekspresi wajah Nayla yang terlihat cengar-cengir.


"Itu Gerald kan, Nay?" tanya Moza serius.


Nayla mengangguk dan tersenyum kepada Moza. "Hehehe iya, Mbak!"


"Kok malah sembunyi, dicariin ayang kok malah beringsut?" seru Moza heran.


"Hehehe ... Nay bingung harus ngomong apa, Mbak!" balas Nayla sambil garuk-garuk kepala.


"Ya ngomong aja, eh hebat loh dia bisa tahu kamu ada di sini, eh sekarang dia nggak kerempeng ya! Kamu kasih pupuk apa dia, Nay? Jadi gede gitu badannya."


"Pupuk cinta, Mbak! Hehehe!"


"Ya ya percaya sih, pasti setiap hari kalian berdua bikin anak mulu!" celetuk Moza sembari tersenyum kepada Nayla. Sebenarnya Moza memiliki jiwa menghibur dan ceria, hanya saja Ia kurang mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya, sehingga Ia menjadi liar dan memilih pergaulan bebas.


"Ihhh ... mbak Moza ini loh, tapi emang bener sih!" keduanya terlihat cekikikan di balik tirai.


...BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2