Hasrat Terlarang Abangku

Hasrat Terlarang Abangku
Bab 122 HTA


__ADS_3

Untuk sejenak Al mencium bibir istrinya dengan penuh kelembutan, Al memegang tengkuk Sharen agar dirinya leluasa untuk menguasai bibir indah itu. Kini kening mereka saling bersentuhan, kedua tangan Al menangkup wajah sang istri dan berkata kepadanya, "Kenapa kamu tega melakukan ini padaku, Sharen! Kamu tidak bisa bayangkan apa jadinya jika Aku menikahi Adikmu, Aku hanya menganggap Shanum sebagai seorang Adik, tidak lebih. Pasti hari-hari ku akan sangat tersiksa. Aku bisa melihatmu, tapi Aku tidak bisa menyentuhmu."


"Maafkan aku, Al! Kamu tahu jika Aku sangat menyayangi Adikku, dari awal dia sangat penasaran dengan dirimu, saat itu kami telah melakukan kesepakatan." Sharen pun mengatakan alasannya dirinya menolak Al.


"Kesepakatan apa?" tanya Al penasaran.


Kemudian Sharen mengatakan semuanya kepada Al, dan dia tidak sadar jika Sharen mulai menyukai Al secara perlahan.


"Begitulah! Kamu boleh marah kepada ku, itu semua salahku, harusnya Aku tidak melakukan kesepakatan itu. Aku pikir kamu sama seperti dulu, cungkring, jelek, kurang gizi, pokoknya dalam bayanganku, kamu tidak akan pernah bisa berubah, tetap jelek kayak dulu. Eh nggak tahunya ternyata kamu adalah pria itu, ngomong dong kalo kamu itu, Al. Biar saat itu Aku bisa pukul kamu sekalian, nyebelin banget." Sharen tampak masih mengingat saat pertama mereka bertemu.


Al tertawa dan mengusap wajahnya, "Ya ... harusnya Aku tanya dulu siapa namamu, kalau saja Aku tahu jika itu kamu, Aku mungkin tidak akan menahannya." mendengar ucapan dari sang suami, Sharen tampak mencubit perut Al, membuat pria itu meringis seketika.


"Apaan sih! Menahan apa coba?"


"Menahan rasa itu, kamu tahu bagaimana perjuangan ku menahan rasa sesak yang kian menyiksa, apalagi Aku sudah melihat semuanya, tak ada satupun yang tertinggal, bahkan Aku sudah melihat bentuk love yang indah itu, itu benar-benar membuatku sangat tergoda," ungkap Al sembari mengangkat dagu Sharen.


Sharen tersenyum malu, bagaimana mungkin Ia menyembunyikan wajah malunya saat Al melihat sesuatu paling berharga miliknya. Padahal sebelumnya mereka adalah musuh bebuyutan.


"Sekarang Aku lah pemilik rumput berbentuk love itu, apa sekarang Aku boleh melihatnya?" pinta Al yang siap untuk melihat pemandangan yang selama ini mengganggu pikirannya.


"Bukan hanya rumput itu saja yang akan menjadi milikmu. Tapi, tanah basah nan subur itu juga akan menjadi milikmu, suamiku" balas Sharen sembari tersenyum kepada sang suami.


Al mulai melakukan aksinya, diawali dengan kecupan hangat pada kening Sharen, yang perlahan turun ke hidung dan akhirnya berakhir pada bibir mungil itu. menikmatinya penuh gairah, memberikan suatu rangsangan laksana aliran listrik yang tiba-tiba menyengat jiwa Sharen. Gadis itu mulai meremang, matanya mulai terpejam karena Al mulai menyentuh titik-titik sensitif Sharen.


Sejenak Sharen menggigit bibir bawahnya ketika Al berhasil menguasai dua buah pepaya yang cukup besar itu, membenamkan kepalanya pada gundukan yang menantang itu. Terdengar suara desaahan kecil dari bibir Sharen.

__ADS_1


Kini Al berhasil membuat separuh badan Sharen terbuka, pemanasan yang cukup membuat Sharen tidak bisa berkata-kata lagi. Al melepaskan sanggul rambut sang istri, dan kini rambut panjang Sharen tergerai indah dan semakin menambah kecantikan Sharen malam ini.


Al membawa istrinya untuk berbaring di atas ranjang pengantin mereka, ranjang pengantin yang sudah dihiasi dengan berbagai bunga-bunga cantik, menambah kesan romantis dalam kamar itu, bibir Al tak lepas sedetikpun dari setiap inci tubuh Sharen, hingga akhirnya kini Al berhenti di satu titik yang memaksa Sharen untuk menutupinya karena malu.


"Jangan, Al!" Sharen terus menutupi tempat dimana tumbuhnya rumput berbentuk love itu dengan kedua tangannya, sementara Al sudah tidak sabar lagi segera melihatnya. Betapa rindunya Al akan tempat itu. Mungkin saat itu Al memang tidak bisa menyentuhnya dan memilikinya. Tapi, sekarang Al adalah pemilik nya secara hakiki, meskipun rumput itu tumbuh di tubuh Sharen.


"Jangan ditutup! Biarkan Aku melihatnya!" ucap Al dengan tatapannya yang liar.


"Aku malu!" wajah Sharen tampak bersemu merah ketika Al meminta Sharen untuk menunjukkan padanya.


"Malu? Ayolah Baby! Kenapa harus malu, Aku saja tidak malu. Kamu bisa melihat semuanya, gratis tanpa dipungut biaya dan dosa. Karena semua ini adalah milikmu. Kamu bisa menikmatinya kapan saja." ucap Al yang kini sudah polos tanpa sehelai benangpun. Tentu saja sesuatu yang berdiri tegak bak prajurit yang sedang hormat itu terpampang nyata di depan Sharen, sangat licin dan tentunya sangat gagah.


"Hoooo ya ampun! Sebesar itu? Apa bisa muat nantinya? Hoo Mama, Aku takut." Sharen terlihat menelan ludahnya susah payah.


Tentu saja Sharen tidak bisa menahannya, apalagi Al yang bak seorang vampir seolah-olah tengah menghisap darah dari mangsanya, leher mulus nan jenjang itu pun menjadi santapannya.


Karena dahsyat nya serangan Al, Sharen pun tidak bisa lagi menutupi tempat rumput itu tumbuh, dalam sekejap satu tangan Sharen berada pada punggung Al dan satunya tengah merremas rambut Al.


Tanpa sadar Al yang sedari tadi sudah siap meluncurkan roketnya. Kini Ia lebih mudah untuk melesatkan roket miliknya ke sana. Al yang sudah tahu jika tangan Sharen sudah terlepas dari tempat itu. Dengan cepat sekarang salah satu tangan Al yang mulai menggantikan posisi tangan Sharen. Tapi, bukan untuk menutupi justru Al merabanya dan terasa begitu lembut.


"Aku menemukan nya!" Seketika Sharen membulatkan matanya saat terasa ada gerakan tangan yang sedang meraba-raba tempat tumbuhnya rerumputan berbentuk love itu.


"Al, jangan!"


Percuma saja Sharen meminta Al untuk melepaskan tangannya dari sana, justru jari jemari Al tampak mulai menjelajah lebih dalam lagi, Al menemukan sebuah tempat dimana roketnya akan tertanam di sana.

__ADS_1


"Ini pasti sangat menyenangkan, kamu pasti suka, Baby!" bisik Al sembari terus menguasai leher jenjang Sharen. Karena roket itu sudah tidak sabar ingin segera melesatkan dirinya. Tanpa pikir panjang Al segera memposisikan dirinya untuk siap menerobos masuk ke dalam sana.


Sharen pun mulai merasa ada sesuatu yang mendesak-desak di bawah sana, semakin lama rasanya kian sesak, dan Sharen mulai merasakan sakit yang belum pernah Ia rasakan.


"Al ... jangan!" pinta Sharen agar Al menghentikan aktivitasnya.


"Sakit?" balas Al sembari menatap wajah Sharen yang sendu.


"Hmmm!" Sharen menganggukkan kepalanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Al tersenyum dan menghentikan sementara aktivitasnya yang sedang berusaha untuk membuka gerbang keperawanan milik Sharen. Meskipun Al sangat kasihan melihat Sharen yang tampak menahan rasa sakit itu. Namun, dirinya juga tidak bisa melepaskan begitu saja, karena sudah dapat separuh jalan. Tinggal sedikit lagi Al berhasil sampai di tempat tujuan.


Al berusaha untuk membuat Sharen rileks, Al mengalihkan rasa sakit itu dengan mencumbu Sharen dengan lembut. Setelah Al merasa jika istrinya mulai melupakan rasa sakitnya, dengan cepat dan tanpa basa-basi Al langsung mengambil kuda-kuda untuk segera menerobos benteng keperawanan sang istri. Dan hanya dengan satu hentakan keras, Al berhasil membenamkan dirinya dibawah sana. Seketika Sharen berteriak saat benda itu benar-benar merobek selaput dara miliknya.


"Tidaaaaakkk."


Sementara itu, letak kamar Al dan kamar Gerald begitu dekat, hanya dibatasi oleh sebuah tembok, tanpa sengaja baik Gerald maupun Nayla mendengar suara teriakan dari kamar sang Anak, untuk sejenak Nayla terbangun dan membangunkan suaminya.


"Bang-Bang bangun!"


"Ada apa sih, Nay!"


"Bang! Coba dengar deh? Itu kayak suara Sharen berteriak." ucap Nayla sembari menatap wajah sang suami yang sedang berusaha mendengar suara sang bersumber dari kamar sebelah, yang tak lain adalah kamar anak mereka. Kamar Al yang belum dilengkapi kedap suara membuat suara berisik apapun sedikit terdengar dari kamar Gerald.


Gerald mendengar suara teriakan Sharen, tapi langsung menghilang. Dan setelah itu Gerald berkata kepada istrinya. "Sudah! Biarkan saja, palingan mereka sedang membuatkan cucu untuk kita, hehehe. Ternyata anak kita sudah mengerti caranya membuatkan cucu untuk kita, buktinya tuh si Sharen sampai berteriak gitu, sama kayak kamu dulu." mendengar jawaban dari sang suami, Nayla pun tampak memutar bola matanya. Dan Gerald pun tertawa melihat ekspresi wajah sang istri.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2