
Pagi menjelang, Nayla membuka kedua matanya, Ia beranjak untuk bangun. Namun, Ia dikejutkan dengan tangan Gerald yang melingkar pada pinggang seksinya. Perlahan Nayla menyingkirkan tangan Gerald agar dirinya bisa beranjak pergi ke kamar mandi, Ia melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul setengah enam pagi. Mengingat dirinya harus segera pergi ke sekolah.
Nayla tersenyum melihat wajah sang suami yang terlihat lelap dalam kedamaian, Ia pun mencium kening Gerald sekilas, dan setelah itu Ia mulai berjalan menuju ke kamar mandi. Tapi, rupanya Nayla berhenti berjalan karena tangannya ditahan oleh sang suami yang sudah terbangun dari tidurnya.
"Abang!" Nayla menengok ke belakang, dilihatnya Gerald yang sedang memperhatikan dirinya berjalan menuju ke kamar mandi tanpa sehelai benangpun.
"Kamu mau kemana?"
"Mandi, Bang! Nay nggak mau telat ke sekolah."
"Ya sudah, Abang juga mau mandi," Gerald pun beranjak bangun dengan tubuh polosnya.
Seketika Nayla menutup kedua matanya saat melihat sesuatu yang membuat nya geli.
"Aww ... ditutup dong, Bang! Masa dibiarin bergelantungan gitu!" ucap Nayla sembari membalikkan badannya. Gerald tertawa kecil melihat tingkah konyol istrinya.
"Halah! Buat apa ditutup, enakan gini, semriwing ...!" ucapnya sembari merremas pantat Nayla yang gemoy. Dan setelah itu Gerald pergi begitu saja dan masuk ke dalam kamar mandi mendahului Nayla.
"Awwww ... sakit Abang! Awas saja ya Aku balas kamu!"
Nayla mengikuti Gerald yang sudah masuk ke dalam kamar mandi terlebih dahulu, tak berselang lama terdengar suara Gerald yang berteriak kesakitan.
"Huuwaaaa ... Nay!!!!"
Setelah suara Gerald yang terdengar menggema di dalam kamar mandi, setelah itu suara Nayla yang terlihat minta ampun kepada Gerald. Entah apa yang dilakukan oleh Nayla sehingga Gerald mengerang kesakitan sehingga Gerald membalas lagi kepada Nayla.
"Ampun, Bang! Ampun ... iya iya Nay minta maaf! Abang Pliss jangan gitu ...!"
Setelah itu tak terdengar lagi suara dari dalam kamar mandi, hening seperti tak ada orang berada di dalam kamar mandi, hanya suara gemericik air shower dan sesekali suara Nayla yang sedang merintih kenikmatan.
__ADS_1
*
*
*
*
"Abang akan pulang sekarang, tapi sebelumnya Abang akan mengantar mu ke sekolah." seru Gerald sembari menyisir rambut basah Nayla. Sementara Nayla memperhatikan wajah suaminya lewat pantulan cermin.
Nayla tersenyum melihat wajah Gerald yang semakin hari membuat nya semakin suka, tentu saja Gerald menyadari jika Istrinya tengah memperhatikannya.
"Apa yang kamu lihat? Apa kamu terpesona dengan ketampanan Abang?" celetuk Gerald sambil tertawa kecil. Nayla menaikkan kedua alisnya sembari berkata. "Apa, Bang? Tampan? Yang bilang Abang tampan itu siapa? Abang sendiri yang bilang gitu, Aku enggak!" jawab Nayla sembari mengambil tasnya.
Seketika Gerald menarik tangan Nayla dan memberinya stempel kepemilikan pada leher jenjangnya, tentu saja Nayla terlihat meronta saat Gerald menggigitnya seperti Vampir.
"Abang lepas!" Nayla berusaha keras mendorong tubuh Gerald. Tapi Gerald tidak melepaskan begitu saja gigitannya pada leher istrinya.
"Ah Abang gimana sih! Tuh kan kelihatan banget gini, pasti teman-teman pada lihatin, dikiranya Nay macem-macem lagi." gerutu Nayla sembari memberikan bedak pada bekas gigitan Gerald.
"Salah sendiri, itu hukuman jika kamu ngata-ngatain Abang jelek." ucapnya kepada Nayla sembari berbisik mesra pada telinga Nayla.
Nayla hanya bisa mengerucutkan bibirnya, Ia terpaksa menyembunyikan tanda itu dengan menggunakan bedak biasa, meskipun masih sedikit terlihat. Tapi setidaknya tidak terlalu kentara warna merahnya.
*
*
*
__ADS_1
"Terima kasih banyak atas Bu Nurmala atas waktunya mengizinkan Saya bertemu dengan Nayla, Saya berharap pertemuan nanti malam dengan Oma berjalan lancar, semoga saja Oma bisa menerima kenyataan yang sebenarnya jika Nayla adalah putri Ibu." ucap Gerald kepada Nurmala.
"Iya semoga saja Nyonya Hera tidak pingsan setelah mengetahui jika Nayla adalah putri kandung ku."
Moza yang melihat itu langsung menghampiri Gerald dan Nayla yang sedang berpamitan kepada Nurmala.
"Kamu pulang sekarang, Ge?" tanya Moza sembari memperhatikan kedua wajah pasangan itu.
"Iya, Oma pasti sudah sangat menungguku, terima kasih Moza! Kamu sudah membantuku untuk meyakinkan Oma, semoga saja Oma bisa menerima kenyataan jika Aku dan Nayla tidak bisa dipisahkan."
"Kamu nggak usah khawatir! Aku dan Mama akan membantumu mendapatkan restu Oma Hera, iya kan, Ma!"
"Tentu saja!" balas Nurmala sembari tersenyum, tiba-tiba saja terdengar suara dering telepon dari ponsel Nurmala, Ia pun mohon Izin kepada mereka bertiga.
"Sebentar ya! Mama terima telepon dulu."
"Iya, Ma!" jawab Nayla dan Moza.
Setelah kepergian Nurmala, akhirnya Moza mempunyai kesempatan mengganggu pasangan yang sedang bucin ini.
Gerald dan Nayla terlihat begitu bahagia, sementara itu sejenak Moza dikejutkan dengan tanda merah pada leher Nayla, tentu saja Moza tahu betul jika itu stempel cinta. Moza segera mengambil sesuatu untuk diberikan kepada Nayla, sebuah benda kecil yang berisi foundation warna natural.
"Nayla! Pakai ini!" seru Moza sembari memberikan foundation Itu kepada Nayla.
"Apa ini Mbak?" tanya Nayla penasaran, baru kali pertama Ia melihat benda itu.
Moza menyilangkan kedua tangannya dan berkata kepada Gerald.
"Eh Gerald! Kamu tahu kalau Nayla tuh masih sekolah, ngapain Kamu letakkan stempel itu pada lehernya, kelihatan kan jadinya! Kelihatan banget kamu nafsu banget sama Nayla." seru Moza sembari menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Hmm iya juga sih! Tapi nggak apa-apa lah, dengan begitu tidak ada teman-teman cowok Nayla yang naksir sama dia." seketika jawaban Gerald membuat kedua gadis itu nyengir.
...BERSAMBUNG...