Hasrat Terlarang Abangku

Hasrat Terlarang Abangku
Bab 72 HTA


__ADS_3

Malam pun tiba, Gerald dan sang Oma bersiap untuk pergi makan malam, tentu saja malam itu Gerald begitu bahagia, sangat terlihat rona wajahnya yang terpancar begitu cerah, secerah hatinya saat ini, apalagi sebentar lagi Ia akan memiliki seorang bayi dari wanita yang sangat dicintainya.


"Ayo kita berangkat, Ge! Oma tidak mau terlambat untuk makan malam." seru Hera kepada sang cucu yang terlihat sumringah malam ini.


"Tentu saja, Oma! Aku selalu siap untuk acara makan malam ini." jawabnya sembari tersenyum bahagia, tentu saja Hera terlihat mengerutkan keningnya, kenapa tiba-tiba Gerald terlihat senang dan seolah tidak tertekan dengan acara makan malam itu, padahal sebelumnya Gerald menolak untuk bertemu dengan Moza.


"Kamu kenapa? Tumben hari ini Oma lihat kamu girang sekali." tanya Hera penasaran.


Bukannya menjawab, Gerald justru mengajak dansa Hera, Ia terlihat memutar-mutar sang Oma yang sudah terlihat pusing menghadapi tingkah sang cucu.


"Eh ... eh ... Gerald! Kamu ngapain! Oma pusing nih!" Hera terlihat memegang kepalanya yang terasa berputar-putar karena ulah Gerald yang memutar badan Hera.


"Maafkan aku, Oma! Hari ini cucumu ini sangat bahagia, pokoknya Gerald hari ini begitu senang." ucapnya sembari memeluk Hera dengan erat.


"Iya ... iya ... tapi lepasin Oma dulu, Oma bisa mati kalau kamu gini terus, Oma ngga bisa nafas nih!"


Spontan Gerald melepaskan Sang Oma yang terlihat mengusap-usap dada dadanya.


"Oke Oma, kita berangkat sekarang!" Hera semakin bingung saat Gerald langsung mengajaknya jalan, Gerald menggandeng tangan Hera dengan gagahnya. Sementara Bi Jum hanya tertawa melihat tingkah Gerald kepada Hera.


"Ya ampun Tuan muda! Semoga kebahagiaan ini selalu menghiasi senyum Anda, semoga saja Nyonya besar bisa menerima Nayla sebagai cucu menantunya, apalagi sekarang dia sedang hamil," batin Bi Jum yang sudah mengetahui berita kehamilan Nayla dari Gerald.


Sementara di suatu tempat di hotel bintang lima, Nurmala dan kedua putrinya sedang menunggu kedatangan Hera dan Gerald. Tentu saja Nurmala sudah mempersiapkan segalanya untuk bertemu dengan Ibu dari Sudarsono, pria yang sudah baik hati mengangkat Nayla menjadi anak mereka.


Tiba-tiba saja Nayla ingin pergi ke kamar mandi, Ia pun meminta izin kepada Nurmala untuk ke toilet sebentar.


"Ma! Nay ke kamar mandi sebentar! Mau pipis!" ucapnya dengan malu.


"Iya, jangan lama-lama, sebentar lagi suami mu datang." balas Nurmala mengiyakan.


"Iya, Ma!" setelah mengatakan itu Nayla segera pergi meninggalkan mereka berdua, sementara Moza terlihat sedang sibuk chatting dengan Jordan.


"Jordan! Kamu lagi apa?"

__ADS_1


"Lagi mikirin kamu."


"Gombal."


"Di bilangan, kamu sendiri ngapain?"


"Makan malam bersama Mama dan Adikku, kamu kesini dong!"


"Enggak ah Aku kan nggak diundang."


"Emangnya resepsi pakai undangan, ya nggak lah!"


"Hmm ... kali aja resepsi pernikahan kita, Aku bakal undang semua teman-teman SMA kita, biar rame!"


"Apa sih, nikah aja belum, masa langsung resepsi!"


"Kamu maunya nikah sekarang? Ayok siapa takut."


Moza terlihat tersenyum melihat balasan WhatsApp dari Jordan, Nurmala melihat wajah sang anak yang mulai ceria, semoga saja Ia bisa melupakan tragedi kehidupannya yang pahit dengan Arthur, dan semoga saja laki-laki itu tidak mengganggu Moza lagi.


"Oh Gerald Ikut juga?"


"Ya iyalah, gila nggak sih si Gerald mau dijodohin Omanya sama Aku, sedangkan Gerald itu suami Adek Aku, ah si Oma nih butuh pencerahan deh keknya, makanya itu buruan kamu datang ke sini, biar si Oma tuh kebuka hatinya, kalau Gerald dan Nayla itu sudah menikah secara resmi."


"Oh gitu ... hmm ya ya, baiklah! Tapi Aku tidak mengganggu kan di sana?"


"Ya enggak lah! Ganggu apaan, yang ada kamu nanti yang bakal tak ganggu, mau!"


"Ya maulah! diganggu cewek secantik kamu masa nggak mau, tapi ganggu nya jangan lama-lama ya, Aku orangnya nggak bisa nahan."


Moza semakin tertawa melihat tingkah kocak Jordan, pastinya Jordan juga ikut tertawa dengan obrolan konyol mereka. Dan tak berselang lama Gerald dan Hera terlihat mulai datang ke tempat Nurmala dan Moza.


"Selamat malam, Nyonya Nurmala!" sapa Hera kepada Nurmala yang sedang duduk di kursi. Nurmala berdiri dan menyambut kedatangan Hera dengan bersalaman dengannya.

__ADS_1


"Selamat malam Nyonya Hera, apa kabar?" balas Nurmala sembari tersenyum, sementara Hera melihat takjub perhiasan kalung serta gelang yang dipakai oleh Nurmala, berlian-berlian itu terlihat berkilauan pada kulit Nurmala yang kuning langsat.


"Waahhhh Nyonya Nurmala! Kalung dan gelang Anda sangat cantik sekali, benar-benar sangat indah! Hanya wanita bangsawan dan kaya seperti Anda yang bisa memakai perhiasan ini." seru Hera memuji perhiasan yang dipakai oleh Nurmala.


"Terima kasih, Nyonya!" balas Nurmala sembari tersenyum.


Kemudian Hera melihat Moza yang berada di samping Nurmala, tentu saja Hera begitu bahagia melihat Moza yang akan Ia jadikan sebagai cucu menantuku kelak.


"Moza!"


"Oma! Senang bisa bertemu dengan Oma!" ucap Moza sembari mencium tangan Hera.


"Kamu cantik sekali! Sungguh Aku tidak sia-sia mencarikan istri untuk cucuku." seru Hera sembari memuji-muji Moza, sementara itu Gerald terlihat mencari keberadaan sang istri yang tak jua Ia temui.


"Di mana Nayla? Kok nggak kelihatan?" batin Gerald sembari memperhatikan sekeliling. Saat Hera tengah sibuk berbincang dengan Nurmala, Gerald terlihat bertanya kepada Moza tentang dimana keberadaan istrinya. Tentu saja Moza mengerti apa maksud Gerald yang menggunakan kode mata.


Rupanya Moza menjawab pertanyaan Gerald tentang di mana Nayla berada, Moza memberikan kode ke arah kamar mandi, tentu saja Gerald pun mengerti maksud arah pandangan mata Moza, Gerald menganggukkan kepalanya pertanda dirinya mengerti maksud Moza.


"Emm ... Oma! Gerald ke kamar mandi sebentar, nggak lama kok!" pamit sang cucu kepada Hera.


"Baiklah! Jangan lama-lama ya!"


"Iya, Oma!"


Kemudian Gerald segera pergi ke kamar mandi mencari keberadaan sang istri, Gerald melihat sebuah pintu toilet yang masih tertutup, dan Ia tahu pasti Nayla ada di dalam.


Gerald tampak santai menunggu Nayla keluar dari kamar mandi, dan setelah beberapa saat akhirnya Nayla keluar juga dari kamar mandi, belum sampai kakinya melangkah keluar, Gerald sudah berada menghadang di tengah-tengah pintu. Dengan cepat Gerald mendorong kembali tubuh Nayla masuk ke dalam kamar mandi.


Tentu saja Nayla sangat terkejut saat dirinya tiba-tiba saja didorong oleh seseorang dari luar. "Eh ... eh ... siapa kamu!" ucapnya saat tubuhnya di sandarkan pada dinding kamar mandi.


Seketika Gerald menciumi pipi sang istri dan seluruh wajah Nayla dan terakhir mendarat di bibir mungil itu, tentu saja Nayla sangat mengenali dari aroma tubuh Gerald yang sudah Ia hafal.


"Abang!"

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2