Hasrat Terlarang Abangku

Hasrat Terlarang Abangku
Bab 123 HTA


__ADS_3

Malam itu, malam yang penuh dengan keindahan, malam dimana Al dan Sharen berada dalam satu pelukan, saling memberikan sentuhan masing-masing. Kini, bukan rasa sakit yang Sharen rasakan, tapi kenikmatan yang tiada tara, Sharen tenggelam dalam pelukan Al. Dua insan itu tengah berjibaku dengan hasrat yang menggebu-gebu.


Hanya ada suara-suara merdu yang lolos dari bibir Sharen, suara yang membangkitkan gairah Al untuk semakin memacu dirinya untuk mengarungi indahnya percintaan malam ini.


"Oh ... sayang! Bukankah ini sangat nikmat, kamu adalah milikku, hanya milikku." bisik Al disela-sela dirinya memompa dan bergerak meliuk-liuk dengan bebasnya. Sharen hanya bisa pasrah, dirinya hanya mengikuti Al yang mendominasi setiap gerakan, karena pada dasarnya Sharen belum pernah sama sekali melakukan hubungan intim, hal yang sama pula terjadi pada Al. Keduanya masih sangat awam dan tentu saja masih menggunakan gaya original.


Meskipun masih menggunakan gaya jadul, baik Al maupun Sharen rupanya begitu menghayati setiap sentuhan yang menyentuh syaraf-syaraf paling sensitif pada tubuh mereka. Tak perduli jika mereka sudah melakukannya selama tiga jam, jeda istirahat hanya berselang sepuluh menit, setelah Al berhasil menyemburkan jutaan pasukannya untuk berenang di dalam rahim sang istri. Setelah itu Al kembali naik-naik ke puncak gunung untuk kembali mengeksplorasi dan menebarkan benihnya kembali ke dalam sana.


Tak ada kata lelah untuk pasangan pengantin baru itu, yang ada hanya kenikmatan yang tak terasa membuat keduanya kehabisan tenaga, akhirnya tepat jam dua pagi. Keduanya menghentikan aktivitasnya. Karena rasa lecet karena gesekan yang terlalu cepat itu membuat Sharen merasa tidak nyaman, begitu juga dengan Al. Ia merasakan sudah terasa begitu panas karena durasi percintaan mereka yang terlalu lama.


Al tidur dengan memeluk Sharen dari belakang, keduanya pun terlelap dalam buaian mimpi indah, akhirnya cinta itu pun bersatu dalam kebahagiaan.


*


*


*


Keesokan harinya, sang Surya telah menampakkan senyum nya, pagi yang cerah untuk hari ini, cahaya matahari menembus tirai jendela kamar pengantin baru itu. Perlahan, Sharen mulai membuka kedua matanya. Tampak cahaya matahari itu menyilaukan matanya. Ia pun berbalik badan dan dilihatnya sang suami yang tengah tertidur pulas. Sejenak Sharen mengusap lembut pipi Al, pria dengan bulu-bulu halus pada wajahnya itu terlihat begitu tampan, Sharen bermain pada hidung Al dan berakhir pada pucuk hidung Al yang mancung.


Seketika Al mulai membuka matanya, perlahan bola mata indah itu menatap Sharen penuh cinta. Al tersenyum dan menatap wajah sang istri yang dulu sering Ia olok-olok dengan pipi bakpao.

__ADS_1


"Selamat pagi pipi bakpao! Bagaimana keadaan mu pagi ini?" suara serak itu terdengar begitu seksi di telinga Sharen.


Sharen pun tak mau kalah dengan Al yang masih mengatainya dengan pipi bakpao.


"Hmm ... pagi juga untuk si tiang listrik? Bagaimana, apa kamu tidak patah tulang gara-gara semalam?" seru Sharen sembari tersenyum mengejek kepada Al.


"Enak aja ngata-ngatain tiang listrik! Kalau Aku tiang listrik, mana mungkin kamu bisa merintih berat karena badanku yang menghimpit mu, hmm katakan sekali lagi jika Aku seperti tiang listrik, ayo Katakan!" Al terlihat menggelitik pinggang Sharen sehingga gadis itu kegelian sembari membusungkan dadanya. Tentu saja bagi Al, itu adalah sarapan pagi untuknya. Ia pun dengan cepat menguasai dua gundukan yang sudah penuh dengan tanda cinta darinya sisa pertarungan semalam.


"Ahhh ... Al, apa yang kamu lakukan?" Sharen melihat kepala Al yang bergerak-gerak pada area dadanya. Sejenak Al mendongak dan menatap wajah sang istri sembari berkata, "Aku mau sarapan pagi dengan meminum susu segar ini." jawabnya dengan tersenyum smirk dan kembali dirinya bermain di sana sebelum akhirnya mereka bangun.


Untuk kesekian kalinya, sebelum Al beranjak beraktivitas, Ia wajib untuk men-charge roket miliknya agar dirinya semangat untuk beraktivitas di hari ini. Sharen hanya bisa pasrah, bagaimana pun juga saat ini prioritas utama nya adalah sang suami.


*


*


*


"Selamat pagi Pa, Ma!" sapa keduanya.


"Selamat pagi. Sharen! Bagaimana apa tidur mu nyenyak semalam?" pertanyaan yang memaksa Al dan Sharen untuk saling menatap.

__ADS_1


"Tentu, Pa! Semalam kami tidur dengan nyenyak!" Al menjawab pertanyaan Gerald dengan cepat.


"Bukan Kamu yang Papa tanya, tapi istrimu!" seru Gerald. Al pun tampak garuk-garuk kepalanya. Gerald kembali menatap wajah sang menantu yang terlihat sedikit lelah.


"Sharen! Apa kamu bisa tidur nyenyak malam ini, Papa pasti sangat bersalah kepada kedua orang tua mu jika kamu merasa tidak kerasan tinggal di sini."


"Papa jangan bicara seperti itu, Saya kerasan kok, dan semalam Saya bisa tidur dengan nyenyak." kilah Sharen sembari tersenyum.


"Syukurlah! Papa sangat senang mendengarnya. Tapi, kenapa wajahmu pucat seperti itu? Kamu sakit?" tanya Gerald sembari mengerutkan keningnya. Sharen pun tampak bingung harus menjawab apa. Sementara Nayla yang tentunya sudah tahu dengan apa yang terjadi pada sang menantu hanya bisa tersenyum dan memakluminya.


"Sudahlah, Bang! Jangan tanyakan itu. Dulu Nay juga seperti itu. Sudah pasti Sharen terlihat pucat, tuh tanya sendiri sama anakmu, pasti dia biang keroknya." seru Nayla sembari menatap wajah Al yang tampak melongo.


"Hah? Kok Aku sih, Ma!" jawab Al sembari menunjuk ke arah dirinya sendiri. Sharen hanya bisa menundukkan wajahnya dengan tersenyum malu, tentu saja mertuanya sangat mengetahui apa yang sudah terjadi dengannya.


"Ya kalo bukan kamu siapa lagi?" sambung Nayla.


"Memangnya Al ngapain?"


"Pakai nanya lagi, nih anak ya benar-benar." Nayla pun melototkan matanya kepada Al yang terlihat garuk-garuk tengkuknya.


Gerald pun hanya bisa tertawa melihat tingkah Al yang pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2