
Moza membaca surat wasiat itu sebelum dirinya menandatangani nya, sejenak Ia mengingat bukankah Arthur juga memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Rio, jika semua harta kekayaan Arthur diberikan kepada nya, lantas apa yang Rio dapatkan, Moza pun bertanya kepada sang pengacara.
"Maaf, Pak! Bukankah Daddy juga memiliki seorang anak laki-laki, lalu apakah Daddy tidak memberikan bagian dari saudara saya itu? Bagaimana pun juga Rio adalah anak Daddy Arthur." seru Moza.
"Untuk itu, Pak Arthur pernah bilang jika Rio hanya anak angkat, Rio bukan anak kandungnya, Pak Arthur mengadopsi anak laki-laki dari seorang wanita yang pernah berkencan dengannya, wanita itu seorang janda dan dia memiliki hubungan dengan Pak Arthur, tapi karena sebuah kecelakaan tunggal, wanita itu meninggal dunia dengan meninggalkan putranya yang masih berusia tiga tahun, karena Pak Arthur kasihan melihat anak itu sebatang kara, akhirnya Pak Arthur merawat anak itu hingga saat ini, dia tak lain adalah Rio." ungkap pengacara itu dimana tak banyak orang tahu jika Rio bukanlah anak kandung Arthur.
"Jadi, selama ini Rio bukan anak kandung Daddy Arthur?" Moza terlihat begitu terkejut.
"Bukan! Anak kandung Pak Arthur hanya Anda! Tapi, Pak Arthur sudah menyiapkan sesuatu untuk Rio, meskipun Rio bukan anak kandungnya, tapi Pak Arthur memberikan sebuah rumah untuk tempat tinggal Rio dan uang sebesar seratus juta untuk biaya hidup setelah Rio keluar dari penjara nanti, serta asuransi kesehatan yang sudah Pak Arthur persiapkan untuk Rio." ungkap pengacara itu yang membuat Moza tersadar, ternyata di balik keburukan Ayah kandungnya, Ia masih memiliki jiwa mengasihi, terbukti saat Arthur memutuskan merawat Rio yang nyata-nyata bukanlah anak kandungnya. Bahkan sebelum Arthur meninggal dunia Ia sempat mengingat anak angkatnya itu.
__ADS_1
Tentu saja itu membuat Moza semakin bersedih, ternyata Tuhan telah menggariskan takdir ini untuk dirinya dan Arthur, Arthur pergi agar dirinya tidak membayangi putri nya, kesalahan mereka adalah kesalahan yang sangat fatal sekali.
Setelah Moza menandatangani berkas-berkas pergantian nama seluruh aset harta kekayaan Arthur, akhirnya Moza meneruskan prosesi akad nikah yang sempat tertunda itu, karena setelah mereka melakukan akad nikah, mereka akan segera melakukan proses pemakaman Arthur.
"Saya terima nikah dan kawinnya Moza Anandita binti Lea Ananta dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Akhirnya sah sudah, Jordan menjadikan Moza sebagai istrinya, dibalik kesedihannya kehilangan Ayah kandung nya, Ia pun juga berbahagia dengan pernikahannya.
"Selamat ya, Moz! Jordan. Aku doakan semoga pernikahan kalian langgeng sampai kakek nenek, dan Aku turut berdukacita atas meninggalnya Pak Arthur, semoga kamu bisa mengikhlaskan kepergian Pak Arthur yang tragis ini. Karena bagaimanapun juga dia adalah Ayah kandung mu." seru Gerald.
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Ge! Selama ini kamu banyak berjasa kepadaku, kamu yang selalu menyemangati ku untuk tetap tenang dan kuat menghadapi kenyataan ini, tanpa kalian berdua mungkin Aku sudah sangat putus asa." Moza terlihat menundukkan wajahnya.
Nayla mendekati Moza dan memeluknya.
"Mbak Moza jangan sedih gitu dong! Kami semua sayang banget sama Mbak Moza, Mbak Moza pun sangat beruntung dicintai oleh pria yang baik seperti Mas Jordan, Aku berharap kalian berdua secepatnya memiliki momongan, biar Mama tidak kesepian di rumah, kita beri Mama cucu." ucap Nayla sembari menghibur Moza.
"Memberikan Mama cucu? Tapi kan Aku baru menikah, Nay! Nggak mungkinlah secepat itu memberikan cucu sama Mama!" balas Moza sembari tersenyum malu menatap wajah sang suami.
"Ya bisa aja dong, Mbak! Buktinya Aku sama Abang, nggak ada sebulan udah jadi, iya kan Bang?" jawab Nayla spontan sambil menatap wajah Suaminya yang terlihat manggut-manggut kepalanya.
__ADS_1
"Ya ya betul, betul banget kata Nayla, yang penting gas terus nggak pakai kendor, pasti langsung jadi." celetuk Gerald yang membuat Moza dan Jordan melongo.
...BERSAMBUNG ...