
Nayla sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh sang Kakak. Ia pun memaksa Gerald untuk pergi dari kamarnya.
"Apa-apaan kamu, Bang! Pergi dari kamar Nay sekarang juga atau Nay teriak nih!" seru Nayla yang melihat sang Kakak yang sudah tidak baik-baik saja. Gerald membalikkan badannya pada Nayla, pria itu terlihat mendekati Nayla, sementara Nayla panik melihat sikap Abang nya itu.
"Pergi kamu, Bang! Pergi dari kamar ini, Aku benci kamu Bang!" Nayla tampak melempar Gerald dengan bantal, gadis itu sangat panik dan ketakutan, sungguh kali ini Ia tidak melihat sang Kakak yang biasa menyayangi nya, kali ini Gerald terlihat sudah hilang kesabaran menghadapi sikap keras kepala Nayla.
"Percuma kamu teriak, kamu lupa kamar ini sudah dilengkapi dengan kedap suara, sekeras apapun kamu berteriak tidak akan ada yang bisa mendengarkan nya, jadi sekarang Aku bertanya kepada mu sekali lagi, putus kan hubungan mu dengan Rio, jika kamu bersedia Abang akan keluar dari kamar ini, tapi jika kamu masih bersikeras, maka Abang akan menghukum mu, sekarang katakan kamu mau menjauhi laki-laki itu atau tidak? Katakan!!!!" Gerald berkata sedikit keras, supaya sang Adik takut kepadanya.
Bukannya takut, Nayla justru menantang Gerald. "Aku tidak akan pernah memutuskan hubungan dengan Rio, Aku mencintai nya, Nay tidak perduli dengan apa yang akan Abang lakukan, Abang mau hukum Nay? Silahkan! Nay tidak takut. Ayo pukul ... pukul Nay, Bang! Pukul !!!!" Nayla terlihat mendekati Gerald dan menarik tangan Gerald ke arah wajah nya agar sang Kakak bisa menghukum nya dengan tamparan. Namun, bukannya hukuman tamparan yang diharapkan oleh Nayla, hasrat Gerald yang sudah sampai di ubun-ubun, membuat pria itu gelap mata, tangannya yang berada pada wajah Nayla, seketika bergerak bukan menampar, Gerald justru menarik tengkuk Nayla dan seketika Gerald merampas bibir mungil sang Adik.
"Mmmmmppptttthh ...!" Nayla terlihat memukul-mukul dada Gerald, namun sayang Gerald yang terlanjur panas, Ia tidak mendengarkan rintihan dari sang Adik, akal sehatnya sudah tertutup nafsu dan amarah, rasa cintanya yang berlebihan kepada Nayla, membuat Gerald semakin tak bisa mengontrol hasratnya. Apalagi Ia tahu jika Nayla bukanlah Adik kandungnya, Ia pun tidak perduli dengan ikatan yang membuat mereka disebut sebagai kakak beradik, nyatanya Nayla bukanlah Adik kandungnya. Sementara Nayla masih menganggap jika Gerald adalah Abang kandung nya, sehingga membuat gadis itu teramat benci dan sangat kecewa dengan sikap sang Kakak.
__ADS_1
Kini Gerald pun berhasil menghempaskan tubuh mereka di atas ranjang. Entah bagaimana caranya Gerald dan Nayla sudah polos tanpa sehelai benangpun.
"Bang Aku mohon jangan lakukan itu! Aku Adikmu, Bang!" rengek Nayla saat sang Kakak berhasil membuat nya terperangkap dalam kungkungan pria yang selama ini Ia panggil Abang itu.
"Aku tidak bisa, Nay! Aku tidak akan membiarkan mu dimiliki oleh orang lain, hanya Aku yang berhak memiliki mu, Nayla! Hanya Aku." balas Gerald, sang Kakak yang memiliki perasaan terlarang dengan Adiknya.
"Gila kamu, Bang! Kamu sudah gila, lepasin Aku Bang, lepasin!" Nayla terus memberontak, tapi apalah dayanya, sekuat apapun Ia berusaha untuk lari dari cengkeraman sang Kakak, semakin Gerald mengencangkan cengkeraman tangannya. Hingga akhirnya sesuatu yang Nayla jaga selama ini seketika hilang saat Gerald berhasil menerobos benteng keperawanan sang Adik.
"Kenapa? Kenapa, Bang? Kenapa Abang tega lakuin ini, Aku adik kamu, Bang! Tidak kasihan kah Abang padaku?" rintih Nayla sembari menatap mata sang Kakak penuh amarah.
Gerald membalas tatapan sang Adik dengan mencium kedua kelopak matanya, dalam perasaan yang penuh cinta itu, Gerald mengatakan sesuatu kepada Nayla, "Suatu hari nanti, kamu pasti tahu kenapa Aku melakukan ini, Aku hanya tidak mau ada orang lain yang pertama yang menyentuh mu, hanya Aku lah orang yang berhak atas dirimu, Nay! Aku mencintaimu!"
__ADS_1
"Gila! Kamu gila, Bang!" sahut Nayla dengan wajah penuh amarah, emosi dan kecewa, sang Kakak yang selama ini melindungi nya ternyata dia juga yang merenggut semuanya.
"Jangan menangis, maafkan Aku, Nay! Aku benar-benar tidak bisa menahannya, Aku terlalu mencintaimu, Aku tidak bisa jauh darimu, Nay! Aku tidak akan menyakiti mu, kamu akan tahu segalanya tentang kita, Nay! Semuanya ... sekarang nikmati saja, Aku akan membuat mu bahagia." bisik Gerald sembari melanjutkan aktivitasnya. Nayla hanya bisa pasrah, sungguh perasaan nya hancur seketika di malam itu, malam yang tidak akan pernah Nayla lupakan sepanjang hidupnya.
Entahlah, perasaan apa yang dirasakan Gerald terhadap Adiknya, malam itu Gerald berhasil membuat sang Adik menjadi miliknya, tak perduli jika Nayla berstatus sebagai Adiknya. Pria mapan itu tetap bangga mencintai dan memiliki Adik nya.
Karena suasana malam yang semakin dingin, belum lagi hujan turun di malam itu, membuat Nayla mulai hanyut dalam suasana, entahlah Nayla tiba-tiba saja merasakan sensasi yang berbeda, sakit di awal tapi lama-kelamaan rasa dan perih sakit itu hilang, kala Gerald bergerak begitu lembut dan penuh kemesraan, berganti dengan rasa nikmat yang luar biasa, Nayla hanya bisa memejamkan mata. Sungguh ini benar-benar tidak mungkin.
"Kenapa Aku merasa seperti ini, Tuhan! Maafkan Aku, Ma, Pa! Aku dan Abang seharusnya tidak melakukan hal ini." isi hati Nayla saat perasaan hatinya mulai tak menentu, karena rasa nikmat itu merubah segalanya.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1