Hasrat Terlarang Abangku

Hasrat Terlarang Abangku
Bab 6 Hasrat Terlarang Abangku


__ADS_3

Mengecup bibir Nayla dengan lembut, Gerald sangat menikmati ciuman nya, sungguh manis terasa, entah kenapa Nayla tidak terbangun, mungkin karena gadis itu terlalu kecapekan sehingga Ia tidak menyadari jika sang Kakak tengah menciumnya, cukup lama Gerald mengecup bibir mungil itu, hingga tak terasa Nayla menggeliat dan Gerald pun mulai melepaskan ciumannya dari bibir sang Adik.


Pria itu kembali duduk di kursi nya dengan mengatur nafasnya dan mengendurkan ikatan dasi yang terasa begitu sesak dan mencekik leher nya, sungguh pria itu hampir saja lepas kendali. Bibir Nayla terlihat basah karena ulah sang Kakak yang mellumat bibir mungil itu penuh gairah.


"Shiiit! Aku harus bisa mengendalikan diriku, Aku bisa gila jika seperti ini terus, maafkan Gerald Pa! Gerald sudah tidak kuat menahan perasaan ini, Gerald teramat sayang dengan Nayla." batin Gerald sembari menenangkan dirinya. Kemudian Ia melanjutkan kembali perjalanan menuju rumah.


Sementara itu Nayla yang masih memejamkan mata, dalam tidurnya Nayla bermimpi seolah-olah dirinya tengah berdua dengan seorang pria yang wajahnya samar terlihat, pria itu mendekati Nayla dan berusaha mencium bibir Nayla, tentu saja Nayla sempat menolaknya karena Ia tidak tahu wajah si pria asing itu.


"Ka-kamu siapa?" tanya Nayla dengan terus menatap wajah yang samar, hingga lama-kelamaan wajah itu terlihat mirip sekali dengan sang Kakak.


Pria itu diam, tapi bahasa tubuhnya mengatakan jika pria itu begitu menginginkan Nayla, begitu pun dengan Nayla bagaimana bisa Ia pun tidak sanggup menolak perlakuan sang pria yang mencoba menyentuh bibirnya dengan lembut.


"Ka-kamu siapa mmmmmppptttthh ...!"


Dalam mimpi Nayla Ia dicium oleh pria yang mirip sekali dengan Gerald, tapi Nayla tidak bisa menolaknya justru gadis itu juga membalas nya dengan mesra.


Seketika Nayla terbangun dan membuka kedua matanya.


"Haahhhh .......!" Nayla begitu terkejut ternyata itu semua hanya mimpi, Ia melihat dirinya yang masih duduk di kursi mobil depan dan di sebelahnya Gerald yang sedang mengemudi. Spontan Gerald menengok ke arah Nayla yang terlihat kebingungan setelah terjaga dari tidurnya.


"Kamu kenapa Nay! Kamu mimpi buruk ya?" tanya Gerald sembari memandangi wajah sang Adik yang terlihat berkeringat dan kebingungan.


"Emm ... Nay ... Nay baru saja mimpi jika Nay dicium oleh laki-laki yang mirip sekali dengan Abang, haaahhh ... untung cuma mimpi, tapi ... kok basah sih!" Nayla merasa jika bibirnya sedikit aneh, bibir itu terlihat basah seolah baru saja Ia berciuman seperti dalam mimpinya. Nayla meraba bibirnya dengan penuh tanda tanya, bagaimana bisa dirinya begitu menikmati ciuman itu hingga sangat berpengaruh pada kondisi bibirnya yang tentu saja basah karena ulah sang Abang.


"Apa? Kamu bermimpi Aku mencium mu? Hahaha ayolah Nayla, mana mungkin Abang mencium kamu, ada-ada saja kamu!" sahut Gerald pura-pura tidak mungkin melakukannya.


"Iya ... untungnya cuma mimpi Bang! Kalau beneran waaahhhh Nayla nggak bakalan maafin Abang, masa adik sendiri dicium sih, ihh jijik Aku tuh Bang! Tapi bibirku kok basah sih, Bang? Kenapa ya? Ihhh tisu mana tisu." seru Nayla sembari membersihkan bibirnya yang belepotan oleh bekas ciuman Gerald.


"Kalau saja kamu tahu, Nay! Memang Aku yang sudah mencium mu, maafkan Abang. Abang nggak tahan melihat mu seperti itu, kamu selalu menggoda Abang untuk menyentuh mu, Abang nggak rela benar-benar nggak rela jika kamu disentuh oleh pria lain, dan Abang akan menjaga mu dari pria manapun yang berusaha menyentuh mu." batin Gerald sembari terus melihat ke arah depan.


Setelah beberapa menit mobil mereka tiba di rumah, Bi Jum terlihat menyambut kedatangan mereka berdua, Nayla turun dari mobil dan mencium tangan Bi Jum.


"Eh Non Nayla udah pulang, loh Tuan Gerald juga pulang, bukankah sekarang waktunya masih di kantor?" tanya Bi Jum kepada Gerald yang juga ikut pulang, biasanya Gerald langsung kembali ke kantor setelah menjemput Nayla, entah kenapa hari ini Ia tidak kembali ke kantor lagi.

__ADS_1


"Iya Bi! Aku mau istirahat dulu, sementara di kantor ada asisten ku yang menangani, hari ini tidak ada rapat penting, jadi Aku memutuskan untuk pulang saja." jawab Gerald sembari masuk ke dalam rumah diikuti oleh Nayla dari belakang.


"Ohh begitu, ya sudah Bibi sudah menyiapkan makan untuk kalian berdua." seru Bi Jum kepada keduanya.


"Makasih Bi, Nayla mau mandi dulu." pamit Nayla sembari beranjak naik ke atas. Sementara itu Gerald dan Bi Jum terlihat memperhatikan Nayla yang sedang menaiki anak tangga.


"Nayla sekarang udah dewasa ya Tuan, nggak kerasa udah hampir delapan belas tahun Bibi merawatnya, Nayla benar-benar gadis yang sangat cantik, jikalau Tuan besar dan Nyonya masih hidup, pasti Papa dan Mama Tuan muda sangat bahagia melihat Nayla." seru Bi Jum kepada Gerald.


Gerald tersenyum dan berkata, "Bi Jum benar, Nayla ku sudah tumbuh menjadi gadis yang sempurna, Aku tidak akan membiarkan pria manapun menyentuh nya, siapapun laki-laki yang mendekati Nayla, harus berhadapan dulu dengan ku terlebih dahulu." ucap Gerald dengan serius.


"Bibi berharap Tuan muda bisa menjaga Non Nayla dengan baik, anggap dia seperti adik Tuan muda sendiri, mendiang Tuan besar akan sangat bangga jika Tuan muda berhasil menjaga Nayla seperti Adik kandung Anda, bibi berharap Non Nayla bisa mendapatkan seorang laki-laki yang baik di kemudian hari," ucap Bi Jum.


Gerald diam dan Ia pun juga pamit ke kamar nya. "Nayla tidak akan menjadi milik siapa-siapa, Nayla hanya akan menjadi milikku, pasti itu." batin Gerald penuh keyakinan.


*


*


*


Nayla membuka pintu dan melihat Gerald yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Ia pun menghampiri sang kakak dan melingkarkan tangannya pada leher Gerald dari belakang sembari mencium pipi Gerald.


Tentu saja Gerald terpaksa mengehentikan pekerjaan nya, pikiran nya mulai tidak konsentrasi saat tangan sang Adik melingkar dan tentu saja tubuh Nayla begitu dekat.


"Ada apa?" tanya Gerald sembari meletakkan kertas-kertas kerja nya.


"Bang! Nayla minta izin sama Abang, boleh ya?" rayu Nayla sembari menempel kan pipinya pada wajah sang kakak.


"Nayla! Plis kamu sudah terlalu menggodaku." batin Gerald.


"Memang nya kamu mau kemana, kamu nggak tahu ini sudah malam, bukankah Abang tidak pernah mengizinkan mu untuk keluar malam." seru Gerald.


"Iya sih Bang! Tapi Aku pergi nya karena tugas kelompok Bang! Sebentar lagi Rita dan Neli akan menjemput ku, ayolah Bang! Boleh ya, ini beneran buat tugas sekolah Bang! Aku nggak bohong, kalau Nay nggak ikut maka Nay nggak bakalan dapet nilai baik, Abang mau prestasi Nay menurun gara-gara Abang nggak ngizinin Aku tugas kelompok!" rayu Nayla yang terus meyakinkan Gerald.

__ADS_1


"Bener? Cuma tugas kelompok? Kamu nggak bohongi Abang, kan?"


"Beneran Bang masa Nay bohong sih, mana berani Nayla bohongi Abang." balas Nayla.


Tak berselang lama terdengar Bi Jum mengetuk pintu dan memberi tahukan jika Nayla sedang ada tamu dua temannya yaitu Rita dan Neli.


Gerald menyuruh Bi Jum untuk masuk, dan Bi Jum memberi tahukan kepada Gerald tentang kedatangan Rita dan Neli.


"Maaf Tuan muda, di luar ada teman Non Nayla, mereka bilang jika mereka menjemput Non Nayla untuk kerja kelompok di rumah temannya gitu katanya." seru Bi Jum


Seketika wajah Nayla berseri-seri, akhirnya kedua sahabatnya itu datang juga, Ia bisa jalan dengan Rio, sang pacar yang tentunya sudah menunggu kedatangan nya di suatu tempat.


"Tuh kan Bang! Rita dan Neli sudah datang, Nay nggak bohong, kan?" seru Nayla sembari beranjak pergi menemui kedua temannya, Gerald pun tak tinggal diam, Ia pun turun dan menemui kedua teman Nayla.


"Eh Mas Gerald, selamat malam, Mas!" sapa Rita dan Neli.


"Malam juga! Apa benar kalian sedang mengerjakan tugas kelompok?" tanya Gerald.


"Oh iya Mas! Kami sedang ada tugas kelompok mendadak." jawab Rita untuk meyakinkan Gerald.


"Kenapa harus malam-malam? Siang atau sepulang sekolah kan bisa?" Gerald tampak curiga.


"Hehehe iya Mas, kami bisa nya malam, karena besok pagi harus segera dikumpulkan, nggak mungkin kan kita kerjain besok, bisa-bisa kita bakal kena hukuman, nggak dapat nilai bagus!" sahut Neli yang ikut meyakinkan Gerald.


"Oh ... begitu, ya sudah! Tapi ingat jangan lama-lama, Nayla! Kamu harus pulang sebelum jam sembilan malam, jika melebihi itu Abang akan menghukum mu." ancam Gerald sembari menatap wajah sang Adik.


"Siap bos, makasih ya Abang! Nay janji nggak bakalan pulang malam. daaahhh Abang! Nayla berangkat dulu."


Sebelum berangkat Nayla mencium pipi Gerald, tentu saja bekas lipgloss Nayla terasa membekas pada Pipi Gerald, Ia menyentuh bekas ciuman sang Adik dan merasakan betapa harumnya bibir Nayla yang sudah membuat nya tergila-gila.


Gerald memperhatikan gelagat kedua teman Nayla dari kejauhan, seperti ada sesuatu yang aneh, kenapa mereka terlihat begitu gembira seolah-olah mereka lega sudah mendapatkan persetujuan darinya.


"Aku harus mengikuti nya." Gerald pun segera menuju ke mobil nya dan mengikuti kemana sang Adik pergi.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2