Hasrat Terlarang Abangku

Hasrat Terlarang Abangku
Bab 24 HTA


__ADS_3

"Ayo kita pulang, Bang! Nay ngga mau kita kena marah, tahu sendiri Oma kalau marah kayak apa?" ucap Nayla sembari mengancingkan baju seragamnya yang telah dilepaskan oleh Gerald.


"Abang malas untuk pulang, Nay! Dah lah di sini aja dulu!" cegah Gerald dengan tangannya melarang Nayla untuk mengancingkan baju nya.


"Tapi Bang! Nay takut, Abang tahu sendiri bagaimana Oma, pasti yang disalahin nanti Nay, dari dulu Nay ngga pernah ada benarnya, padahal dulu Abang yang sering ngajak Nay pergi main ke rumah tetangga, kok Nayla sih yang disalahin katanya Nau ngajak Abang main di luar." ucapnya sedih saat mengingat perlakuan membeda-bedakan dari sang Oma.


"Udah dong! Jangan diingat lagi, kan sekarang ada Abang yang bakal ngelindungi kamu, Abang pastikan Oma ngga bakal macam-macam sama kamu lagi, dah kita di sini saja dulu, biarin Oma nunggu, Aku lebih suka kita berdua saja, dari dulu Aku ingin sekali berduaan lama-lama dengan mu, Nay! Tapi waktu itu Abang sadar jika kamu hanya menganggap Abang sebagai Kakak, padahal Abang udah memendam perasaan ini cukup lama." ungkap Gerald sembari merangkul pundak istrinya.


"Masa? Pantesan aja setiap Nay deketin, Abang selalu berkeringat, ternyata oh ternyata, kenapa Abang ngga bilang dari dulu aja sih kalo kita bukan saudara, tahu gitu Nay ngga bakalan terima Rio si cowok brengsek itu, salah sendiri Abang ngga jujur."


Gerald menatap wajah Nayla sembari berkata, "Iya ... harusnya Abang yang disalahin, Abang udah nggak jujur sama kamu. Tapi, Abang melakukan itu semua karena Abang udah berjanji sama Almarhum Mama dan Papa untuk menjaga kamu sebagai seorang Adik, Abang pasti merasa sangat berdosa jika Abang memaksa untuk mencintai mu, tapi nyatanya Abang ngga bisa jauh darimu, Nay! Cinta Abang sama kamu setiap hari semakin besar, seiring dengan pertumbuhan yang ada dalam dirimu yang ikut membesar, eh ... bukan itu maksud Abang ...! Gerald tidak melanjutkan kata-katanya.


"Diiihhh ... ketahuan ya Abang, mesumnya kelewatan!" celetuk Nayla dengan ekspresi mengejek sang suami. Seketika Gerald melepaskan jas dan dasinya sembarang arah, kini pria itu tampak hanya mengenakan kemeja putih yang sudah terbuka kancing atas sebanyak dua biji, sungguh memperlihatkan dada nan menantang seorang Gerald, di tambah lagi ketampanan Gerald yang menggoda, Nayla terdiam dan hanya memperhatikan suaminya mulai membelai wajahnya.


Dalam mobil Alphard yang cukup luas di dalamnya, membuat Gerald bergerak sedikit bebas, di dukung suasana danau yang mulai sepi karena hari mulai senja, hanya cahaya jingga yang menghiasi atmosfer yang penuh gairah itu.


Nayla terpejam, saat tangan lembut itu membelai sempurna setiap permukaan kulitnya, menyentuh nya dengan bibir, memberikan kecupan di setiap inci tubuh gadis itu.


Entahlah, hasrat itu kian membara saat keduanya sudah terhanyut dalam aliran desaahan percintaan, Nayla berada di atas pengakuan Gerald, cukup mendominasi gerakan nya yang pelan, namun sangat terasa begitu mengasyikkan.

__ADS_1


Mobil mewah itu sedikit bergerak, seolah mobil itu tengah mendengarkan suara musik yang enak, sehingga mobil itu ikut berjoget seakan-akan tidak ada lelahnya. Sementara di dalam mobil, deru nafas itu kian berpacu dalam kemesraan, mengikat hubungan dua insan yang sudah sah dalam sebuah pernikahan, menyatukan hasrat liar mereka.


"Aku mencintaimu, Nayla! Aku sangat mencintaimu!" bisikin itu terdengar begitu menggairahkan, di balas dengan racau an Nayla yang tak karuan, "Abang ... Nay sayang sama Abang, mmmmmppptttthh ...!"


Bibir mungil itu dibungkam sekali lagi dengan kecupan dan lummatan dari seorang Gerald. Sedangkan yang di sana bergerak secara bebas, sebebas burung terbang di angkasa.


Hari semakin gelap, entah berapa lama mobil itu bergoyang, sepuluh menit, tiga puluh menit, atau mungkin sampai satu jam. Akhirnya mobil mulai berhenti tenang, seolah yang berada di dalam mobil juga sudah tenang.


Nayla mengusap keringat yang membasahi wajah tampan suaminya, setelah mereka berhasil mencapai puncak gelora bersama, sangat menyenangkan dan sangat menggetarkan jiwa.


Nayla turun dari atas pangkuan Gerald, kemudian Ia mengambil tisu basah untuk membersihkan sisa-sisa belepotan yang menempel pada pusat percintaan mereka.


Tak terasa keduanya tertidur di dalam mobil dengan posisi saling berpelukan, hingga tak sadar jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


Nayla mulai membuka matanya, Ia melihat suasana sudah sangat gelap, Ia pun membangun kan Gerald dengan menepuk-nepuk pipi sang suami.


"Abang! Bang Gerald! Ayo kita pulang, ini sudah malam, Bang!" seru Nayla sembari merapikan bajunya.


Gerald mulai membuka matanya, Ia melihat sang istri tengah sibuk merapikan semua bekas-bekas percintaan nya tadi.

__ADS_1


"Hmm ... jam berapa sekarang?" tanya Gerald sembari mengusap wajahnya.


"Jam sembilan, Bang!"


Seketika Gerald terperanjat saat Nayla bilang bahwa jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


"Apa? Jam sembilan! Gawat!" Gerald pun segera merapikan bajunya kembali, Ia juga terlihat terburu-buru untuk segera pulang.


"Ih Abang pasti takut ya sama Oma, iya kan? Abang takut dimarahin nih pasti. Pokonya Nay minta Abang yang tanggung jawab sama Oma, Nayla ngga mau dimarahi gara-gara Abang!" ucap Nayla sembari mengerucutkan bibirnya.


"Emangnya siapa yang takut sama Oma? Abang tuh panik soalnya Abang laper, udah keroncong nih, tenaga Abang bisa habis nanti, tadi udah kepake lumayan banyak." jawaban Gerald membuat Nayla menggelengkan kepalanya.


"Heleh ... dasar Abang!"


Gerald tampak tertawa kecil melihat ekspresi wajah Nayla. Akhirnya mereka berdua segera pergi dari tempat itu. Seusai mobil Gerald pergi, terlihat seorang pria dengan senyum smirk nya memperhatikan mobil Gerald yang sudah melaju ke jalan raya.


"Bagus! Bos pasti senang melihat apa yang akan Aku tunjukkan padanya." ucap seorang pria bertopi hitam itu.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2