
"Kamu kenapa?" tanya Gerald sembari menepuk pundak Moza.
Moza mengusap air matanya dan Ia berpura-pura tidak terjadi apa-apa. "Tidak ada, Aku tidak apa-apa." jawabnya sembari tersenyum paksa.
"Kamu bersedih?" Gerald menatap dalam-dalam bola mata gadis yang tidak bisa menyembunyikan kesedihannya itu.
"Sudah! Semuanya akan baik-baik saja, kamu tidak usah khawatir lagi, pria itu tidak akan pernah mengganggu mu lagi." Gerald tampak memberikan pelukan sebagai seorang sahabat, menenangkan Moza agar Ia merasa tidak sendirian.
"Aku tidak tahu entah Aku harus senang atau bersedih, bagaimana pun juga dia adalah Ayah kandung ku, Aku tidak bisa membencinya begitu saja, Aku cuma berharap semoga kami tidak dipertemukan lagi, lebih baik Aku tidak melihatnya sama sekali daripada Aku harus terbayang-bayang seorang pria yang sudah menghancurkan hidup putri kandungnya sendiri."
Kemudian Jordan datang menghampiri calon istrinya, pria itu terlihat mengusap pundak Moza dengan lembut.
"Kamu tidak akan sendirian, Aku akan selalu bersamamu, Moz! Selamanya Aku akan tetap berada di samping mu, Aku tidak akan pernah meninggalkanmu!"
__ADS_1
Moza terlihat menangis sesenggukan di pelukan Jordan, pria itu ikhlas menerima segala kekurangan Moza, meskipun Ia tahu jika Moza pernah berbuat dosa besar dengan Ayah kandungnya sendiri.
*
*
*
Sementara di suatu tempat, seorang laki-laki tengah berada di suatu kamar dengan memandang ke arah jendela, Ia tampak sedang berbicara dengan seseorang, sepertinya orang tersebut adalah seorang pengacara kepercayaan nya.
"Sudah, Pak! Semua aset-aset harta kekayaan Anda sudah Saya balikkan nama atas anak kandung Anda!" jawab sang pengacara.
Kemudian Arthur kembali terdiam, sementara sang pengacara memberitahu kan kepada Arthur tentang pernikahan Moza dan Jordan.
__ADS_1
"Besok pagi, Moza dan pengacara Jordan akan melangsungkan akad nikah, apa ada pesan yang akan Pak Arthur sampaikan?" tanya sang pengacara. Namun, rupanya Arthur tidak menjawabnya, Ia tetap diam sambil melihat ke arah jendela, meskipun sang pengacara telah bertanya berkali-kali, Arthur tetap diam. Hingga akhirnya Arthur berkata sembari berbisik pada telinga sang pengacara.
Sejenak pengacara itu mendengarkan apa yang dikatakan oleh Arthur kepadanya. Sang pengacara tampak mengerti maksud dari Arthur.
"Baik, Pak Arthur! Saya akan berusaha membantu Anda!"
Setelah mengatakan hal itu, pengacara itu segera pergi dari kamar perawatan Arthur, pria itu kembali melamun, sesekali dirinya tertawa kecil saat melihat bayangan Lea. Sementara di tempat lain, Rio kini berada di sel tahanan bersama penjahat-penjahat lainnnya, pemuda itu terlihat duduk meringkuk dengan memeluk lututnya, sungguh remaja itu kini telah mendapatkan hukuman yang setimpal, bukan hanya hukuman atas pencemaran nama baik, Ia juga dilaporkan oleh orang tua gadis-gadis yang pernah Rio hamili.
Sehingga di dalam sel tahanan tersebut, beberapa napi terlihat mengganggu Rio, tidak jarang Rio mendapatkan perlakuan kasar dari napi lain, bahkan ada salah satu napi yang tega memberikannya balsam kepada keperkasaan Rio, tentu saja Rio mendapatkan siksaan dari sesama napi. Ia sering merintih kesakitan pada alat vitalnya akibat keusilan napi lainnya.
"Aduuuhhh jangan, Bang! Saya mohon!" rengek pemuda yang dulu sering mempermainkan pacar-pacar nya itu.
"Enak aja minta ampun! Ini balasannya karena kamu sudah terlalu keenakan di luar sana, di sini kamu harus merasakan kehangatan balsam ini. Rasakan!" beberapa napi tampak mengoleskan balsam itu pada burung emprit milik Rio.
__ADS_1
"Huuwaaaa ... panaaaaasssss!" pekik Rio yang merasa miliknya begitu terbakar.
...BERSAMBUNG...