
Setelah acara makan malam selesai, Gerald memohon izin kepada Nurmala untuk membawa Nayla pulang ke rumah.
"Bu Nurmala! Saya sangat berharap bisa membawa Nayla pulang sekarang, saya mohon kepada Bu Nurmala untuk mengizinkan Nayla tinggal bersama kami," ucap Gerald kepada Nurmala penuh harap.
Nurmala tersenyum dan berkata, "Tentu saja, Aku sudah tidak khawatir lagi dengan keadaan putriku, ada seorang laki-laki yang sangat mencintainya, Aku yakin kamu pasti bisa menjaga Nayla, titip putriku!" balas Nurmala sembari menyerahkan Nayla kepada suaminya.
Dengan senang hati Gerald menyambut tangan istrinya dan segera membawanya ke dalam pelukannya. Tentu saja mereka semua terlihat bahagia, tak terkecuali Jordan dan Moza yang turut bahagia menyaksikan kedua insan itu bersatu.
"Bahagia nya melihat mereka berdua, kapan Aku bisa merasakan kebahagiaan seperti mereka," ucap Moza lirih. Mendengar ucapan Moza seketika Jordan menjawab, "Sebentar lagi kamu akan mendapatkan kebahagiaan seperti mereka, Aku akan selalu membuat mu tersenyum, Aku sendiri sudah tidak sabar untuk membawamu pulang, bagaimanapun kalau kita nikah besok saja!" celetuk pria itu sambil tersenyum sumringah.
"Hah besok?" Moza terlihat berkata cukup keras, membuat semua orang menatap ke arah mereka berdua.
"Moza? Ada apa, Nak?" tanya Nurmala yang juga ikut terkejut mendengar suara Moza.
"Hehehe, nggak apa-apa, Ma!" jawabnya cengar-cengir. Sementara Jordan terlihat tersenyum malu-malu sambil menatap wajah Moza yang juga ikut memerah.
Nurmala mendekati Moza dan Ia tahu jika kedua sejoli itu tengah membicarakan sesuatu.
"Untuk kalian berdua, karena Adikmu Nayla sudah kembali kepada suaminya, maka tidak ada salahnya jika Mama akan mempercepat pertunangan kalian, Mama akan mengadakan acara pertunangan kalian dan mengumumkan pernikahan kalian secepatnya, hmm besok malam Mama akan membuat pesta untuk merayakan kebahagiaan ini, merayakan kebahagiaan Adikmu dan juga merayakan pertunangan kalian, Mama akan mengundang seluruh teman bisnis Mama, agar mereka semua tahu bahwa kedua putri Mama telah mendapatkan pria-pria yang sangat baik, Gerald dan Jordan."
Seketika itu Moza dan Jordan terlihat begitu bahagia, pun sama Nayla dan Gerald pun ikut merasa bahagia.
__ADS_1
*
*
*
Sementara itu, di sebuah rumah mewah milik Arthur, pria itu terlihat begitu marah, bagaimana bisa dirinya kehilangan Moza, Ia tidak akan pernah melepaskan Moza, Arthur telah bersumpah untuk mengejar Moza kemanapun gadis itu pergi.
Di saat Arthur sedang pusing memikirkan Moza, Rio terlihat datang menghampiri Arthur dan mengabarkan tentang suatu hal kepada Ayahnya itu.
"Pa!"
"Rio bawa berita yang sangat menarik! Papa pasti suka!"
"Berita apa? Jangan bawa berita yang tidak penting, awas!"
"Ya penting dong, Pa! Masa nggak penting sih!"
"Kali aja tentang pacar-pacar mu yang minta pertanggungjawaban, hah ... urus sendiri sana! Papa bosan lihat kebodohan mu," sahut Arthur.
"Ya elah bukan itu, Pa! Masa bodo sama mereka, Rio udah nggak perduli lagi, biarin aja mereka melahirkan bayi mereka sendiri, Rio udah kasih duit banyak buat gugurin kandungan, mereka nolak ya udah, terserah!"
__ADS_1
"Memangnya berapa cewek yang kamu hamili?" tanya Arthur sembari menyalakan cerutu nya.
"Hmm nggak banyak sih, Pa! Cuma ... tiga cewek, mereka stupid banget sih, dibilangin harus pake pengaman mereka nya nggak mau, ya sudah!" ungkap Rio yang membuat Arthur menggelengkan kepalanya.
"Kamu yang bodoh! Lagian udah tahu nggak pakai pengaman, ngapain juga kamu masuk di dalam, peak!" umpat Arthur.
"Hehehe ... habisnya enakan di dalam sih, Pa! Kayak papa juga tuh, katanya nggak suka tabur-tabur benih pada setiap wanita, giliran sama Moza di terjang juga!" seloroh Rio menyindir Arthur.
Arthur tersenyum smirk.
"Iya, kalau dengannya itu terasa beda, tapi sayangnya Papa tidak bisa lagi bertemu dengan Moza, ah sialan! Pemuda itu sudah membuat Papa kesal." Arthur terlihat mengepalkan tangannya dengan wajah sinis.
"Pemuda?" Rio terlihat mengerutkan keningnya.
"Iya, ada seorang pria yang melindungi Moza dan dia bilang jika ingin mendekati Moza harus berhadapan dengannya, brengsek!"
"Waahhhh ... papa kayaknya punya saingan berat tuh, Papa musti gerak cepat jika ingin mendapatkan Moza, culik dia Pa! Bawa dia pergi! Ah gitu aja pakai mikir, apa gunanya punya anak buah banyak, Pa ... Pa ...!"
Sejenak Arthur merasa ucapan sang anak ada benarnya juga, menculik Moza adalah usul yang bagus.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1