Hasrat Terlarang Abangku

Hasrat Terlarang Abangku
Bab 71 HTA


__ADS_3

Nayla pulang ke rumah Nurmala, terlihat sang Ibu sedang menunggu kedatangan putrinya. Nurmala melihat wajah bahagia dari Nayla. Ia pun penasaran kenapa putrinya itu begitu bahagia.


"Mama!" sapa Nayla sembari mencium tangan sang Ibu.


"Kamu pulang di antar Gerald?"


"Iya, Ma! Tadi Abang ngga bisa mampir soalnya ada urusan yang harus diselesaikan." jawabnya dengan riang.


"Hei ... Mama perhatikan kamu sangat berbeda hari ini, kamu terlihat bahagia." seru Nurmala.


"Iya, Ma! Hari ini Aku sangat bahagia, karena sebentar lagi Mama akan segera memiliki seorang cucu." seketika Nurmala terharu dan ikut bahagia, Ia tidak menyangka jika dirinya akan secepat itu memiliki seorang cucu.


"Benarkah itu, Nay? Kamu hamil?" tanya Nurmala serius.


"Iya, Ma! Aku sedang hamil, dan kami sudah memeriksakan kandungan ke dokter, dokter bilang Nay sudah hamil 3 Minggu."


"Syukurlah! Mama sangat bahagia sekali. Tapi, ngomong-ngomong bagaimana bisa kalian tiba-tiba datang ke dokter untuk memeriksakan kandungan, apa sebelumnya kamu sudah mengetahui tanda-tanda kehamilan seperti mual-mual atau muntah?" tanya Nurmala penasaran.


"Hmm enggak sih, Ma! Nay nggak ngerasa mual-mual atau muntah, cuma saat Nay di panggil kepala sekolah ke ruangannya, tiba-tiba kepala Nay terasa pusing dan berputar-putar dan saat itu juga Nay pingsan dan tiba-tiba saja Nay sudah ada di rumah sakit." jelasnya sembari mengingat kejadian saat di sekolah tadi.


"Kamu pingsan di sekolah? Dan untuk apa kepala sekolah memanggilmu? Apa ada masalah?"


Nayla menundukkan kepalanya dan menjawab. "Iya, Ma! Ada sedikit masalah di sekolah." jawabnya.

__ADS_1


"Masalah apa?"


Nayla menceritakan semuanya kepada sang Ibu, tentang apa dan bagaimana kejadian yang menimpa dirinya di sekolah. Tanpa terkecuali Nayla membeberkan semua yang direncanakan oleh Arthur kepada Gerald, bagaimana anak mereka juga ikut membantu Arthur untuk mempermalukan Gerald.


"Astaga! Arthur benar-benar jahat, bukan hanya Mas Heru yang jadi sasarannya, ternyata Gerald juga. Sebenarnya apa sih maunya tuh orang, dia berusaha menghancurkan semua orang yang menjadi saingannya, bahkan dirinya sendiri juga tanpa sadar menghancurkan hidup putrinya sendiri, semoga saja Tuhan segera memberikan dia kesadaran, setidaknya dia bisa berhenti menyakiti orang lain."


"Entahlah, Ma! Nay juga nggak habis pikir, untung saja Abang sudah memiliki bukti kuat, jika sewaktu-waktu Arthur memberikan bukti-bukti tentang hubungan kami, Abang sudah mengurus semuanya, legalitas pernikahan kami sudah sah secara hukum dan tidak akan ada yang bisa menggangu gugat."


"Syukurlah! Mama ikut lega, Gerald memang laki-laki yang bertanggung jawab, Mama senang kamu bisa menikah dengannya, meskipun hubungan awal kalian berdua hanya sebatas Kakak beradik, tapi nyatanya jodoh telah menyatukan kalian berdua, Mama juga sangat berhutang budi kepada suamimu, dia yang selama ini menjagamu, memang sepatutnya dia yang harus memiliki mu, karena Gerald rela mengorbankan perasaannya hanya demi untuk hidup bersamamu, Mama selalu berdoa semoga pernikahan kalian dijauhkan dari fitnah dan prasangka buruk, dan semoga saja Nyonya Hera bisa menerima mu sebagai cucu menantunya."


Nayla tersenyum sembari memeluk sang Ibunda, "Makasih, Ma!"


"Maafin Mama Nayla, tak seharusnya kamu mendapatkan perlakuan seperti itu dari Nyonya Hera, semua ini karena perbuatan Mama, dan Mama berjanji tidak akan membuatmu menderita lagi, Mama berjanji tidak akan ada orang yang berani menghina mu lagi, karena kamu tidak pernah bersalah, Mama yang bersalah."


"Sudahlah, Ma! Semuanya itu Nayla coba ikhlaskan, siapapun Mama dan bagaimana masa lalu Mama, Nay tidak perduli lagi. Yang Nay tahu sekarang adalah Mama yang menyayangi Nayla, Mama tetap wanita yang hebat, bukan hanya anak kandung Mama yang Mama sayangi, bahkan putri yang tidak terlahir dari rahim Mama pun, bisa mendapatkan kasih sayang yang tulus dari seorang Ibu, Mama tidak pilih kasih, Mama sangat menyayangi Mbak Moza, kami beruntung memiliki Ibu seperti Mama. Terima kasih banyak Ma! Kami sayang Mama!"


Di saat Nayla dan Nurmala saling bercengkrama, tak berselang lama Moza datang, Ia pun terlihat bahagia.


Nurmala dan Nayla melihat kedatangan Moza. Mereka berdua terlihat saling menatap, ada apa dengan Moza? Kenapa dia terlihat senyum-senyum sendiri sambil melambaikan tangan ke arah luar.


"Moza! Kamu sudah pulang, Nak?" tanya Nurmala yang membuat Moza terkejut.


"Eh Mama! Hehehe iya, Ma!" jawabnya malu-malu.

__ADS_1


Sejenak Nayla menoleh ke arah luar pintu, Ia melihat sebuah mobil yang baru saja meninggalkan depan rumah, seketika Nayla berdehem kepada Moza, karena Ia yakin itu pasti mobil milik Jordan.


"Ehem ... ! Cie yang CLBK!" goda Nayla sembari tersenyum kearah Moza.


"CLBK! CLBK apaan sih, Nay! Ada-ada saja kamu." Moza masih terlihat menutupi rasa bahagianya.


"Udah deh, Mbak Moza. Nay udah tahu kok itu tadi siapa, itu Jordan, bukan?" celetuk Nayla yang seketika membuat wajah Moza memerah. Dan tentu saja Nurmala masih belum mengerti Jordan siapa yang dimaksud oleh Nayla.


"Jordan? Jordan siapa maksudmu, Nay?"


"Kurang tahu juga, Ma! Tanya aja sendiri sama Mbak Moza, tadi nggak sengaja Aku dan Abang melihat Mbak Moza sedang makan siang bersama seorang cowok, dan ternyata cowok itu adalah Jordan, teman Abang dan Mbak Moza dulu, Ma!" ungkap Nayla sembari melihat wajah Moza yang bersemu merah.


"Apa itu benar, Moz?" tanya Nurmala kepada Moza.


"Hmm ... iya benar, Ma! Itu tadi teman Moza saat SMA, kami hanya berteman biasa kok!" jawab Moza yang masih malu mengakui hubungan mereka.


"Teman biasa? Kalau teman biasa kenapa Mbak Moza senyum-senyum gitu?" goda Nayla.


"Ya ... emangnya nggak boleh, ya?"


"Boleh dong, Mbak! Nay bahagia bisa melihat canda tawa Mbak Moza lagi, ternyata Jordan mampu membuat kesedihan Mbak Moza hilang, Nay juga berharap kalian bisa balikan lagi, kata Abang dulu Mbak Moza dan Jordan pernah berpacaran, kan? Dan Jordan masih sendiri sampai sekarang belum menikah karena menunggu Cinta dari Mbak Moza. Jadi Nay berharap kalian bisa segera menikah!" ungkap Nayla yang membuat Moza tersipu Nayla.


"Ih kamu, Nay! Apa Aku pantas menjadi istri Jordan, Sementara apa yang Aku lakukan sudah sangat kelewat batas." sahut Moza.

__ADS_1


"Kalau udah jodoh, Mbak! Tidak ada kata tidak pantas, Mbak Moza berhak bahagia dan Mbak Moza berhak memilih hidup bersama dengan pria yang mana, Aku rasa Jordan adalah pria yang tepat untuk Mbak Moza dan semoga secepatnya kalian menikah."


...BERSAMBUNG...


__ADS_2