Hasrat Terlarang Abangku

Hasrat Terlarang Abangku
Bab 116 HTA


__ADS_3

Sharen melepaskan pelukannya dan menatap wajah sang Adik yang tengah berbunga, Ia pun segera pergi dan berdiri di samping kedua orang tuanya, seakan tahu apa yang terjadi pada putrinya, Moza melihat ada sesuatu yang disembunyikan oleh Sharen, raut wajahnya memang sedang tersenyum tapi dari sorot matanya Ia terlihat bersedih.


Malam itu juga, tanpa pikir panjang Gerald pun memutuskan untuk secepatnya menentukan hari pernikahan mereka, Gerald memberikan sepasang cincin untuk mengikat hubungan Shanum dan Al. di iringi tepuk tangan yang meriah dari para tamu undangan, Al kini menjadi calon suami Shanum.


Sharen ikut tepuk tangan kepada keduanya, dengan segala kerendahan hati, Ia berusaha iklhas. Mungkin Al bukanlah jodohnya. Mencoba untuk tenang, tapi nyatanya Sharen tidak bisa membohongi sang Ibu. Moza mendekati putrinya dan berkata. "Kamu iklhas?" seketika Sharen melihat ke arah sang Ibu dengan sangat terkejut.


"Mama!"


Moza menatap wajah sang putri dan tersenyum kepadanya, "Sharen! Mama tahu betul siapa kamu, Mama yang melahirkan mu, dan Mama sangat mengerti apa yang sedang kamu pikirkan, ada apa, Nak? Kenapa kamu bersedih?" tanya Moza serius.


"Mama ini ngomong apa sih? Sharen nggak sedih kok, Sharen ikut bahagia melihat mereka berdua, akhirnya Shanum bisa mendapatkan pasangan hidup yang baik." jawabnya dengan nada yang melemah.


"Baik? Baik untuk Shanum, tapi buruk untuk kamu. Shanum bahagia. Tapi kamu yang menderita." spontan Sharen menatap sang Mama dengan sendu, bagaimana bisa Moza mengerti apa yang ada dalam hatinya.

__ADS_1


"Maksud Mama apa?"


"Entah ada hubungan apa kamu dengan Al, nggak tahu kenapa Mama melihatnya sangat aneh, cara Al memandang mu, sangat berbeda saat dia memandang Shanum, Al memang berada di dekat Shanum. Tapi, sorot matanya tidak bisa lepas darimu. Lihat saja! Sekarang saja Al sedang memperhatikan mu, padahal disampingnya ada Shanum. Katakan pada Mama, apa yang sebenarnya terjadi?" desak Moza kepada Sharen.


Sharen pun terlihat gugup dan panik, mungkin sebaiknya sang Mama tahu tentang apa yang terjadi dengan dirinya dan Al.


"Baiklah kalau Mama memaksa, Sharen akan menceritakan semuanya kepada Mama, tapi sebelumnya Sharen mohon sama Mama, untuk tidak mengatakan hal ini kepada Shanum. Sharen tidak ingin membuat Shanum bersedih. Mama janji, kan?" ucap Sharen kepada Moza.


"Ya! Mama janji." balas Moza.


Moza menghela nafasnya dan tidak menyangka pertemuan mereka merubah segalanya, baik Al maupun Sharen belum merasa jika mereka saling jatuh cinta.


"Begitu lah, Ma! Dan sekarang Aku dan Shanum sudah sepakat dengan taruhan itu, dan sepertinya Shanum menyukai Al. Jadi, ya sudahlah! Sharen akan mencoba iklhas, lagipula kebahagiaan Shanum adalah kebahagiaan Sharen juga. Jika Sharen sakit Aku pun ikut sakit, dan sekarang Mama sudah tahu semuanya." ungkap Sharen sembari menundukkan wajahnya.

__ADS_1


"Iya Mama mengerti! Apa sebaiknya kamu tidak berterus terang saja kepada Shanum siapa Al yang sebenarnya, jika seperti ini sama saja kamu membohongi adik kamu, Al tidak ada rasa sama Shanum, kasihan!"


"Aku dan Al sudah sepakat untuk tidak melanjutkan hubungan ini, terima atau tidak dia harus merelakan ku untuk pergi." balas Sharen.


"Entahlah! Mama hanya bisa menyarankan padamu, ada baiknya kamu harus berterus terang kepada Adikmu, Mama yakin Shanum pasti mengerti!"


Sejenak Sharen berpikir, apa yang dikatakan oleh sang Mama ada benarnya, mungkin jika dirinya berterus terang kepada Shanum, sang Adik akan mengerti.


*


*


*

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2